POJOKSATU.id - Perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor selalu dimeriahkan dengan seni pertunjukan barongsai, liong dan munculnya hewan mitologi Kie Lin sebagai tradisi Tionghoa yang kembali hidup di Indonesia.
Hadirnya Kie Lin dalam perayaan di Kota Bogor tak hanya menghadirkan nilai sakral budaya Tionghoa, tetapi juga sebuah keunikan tersendiri yang hanya ada di Kota Bogor.
Sejak tahun 1950-an, pertunjukan Kie Lin sebagai salah satu bentuk tradisi Tionghoa di Indonesia, telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor.
Meskipun sempat menghilang puluhan tahun, sejak kondisi politik Indonesia memanas di awal Orde Baru, kehadiran Kie Lin pada tahun 2000-an menandai keberlagsungan tradisi Tionghoa yang masih bertahan hidup hingga kini.
Tarian dan musik Kie Lin dirawat dan dilestarikan oleh perguruan silat Persatuan Gerak Badan (PGB) Bangau Putih di Kebon Jukut, Bogor.
Kemunculan kembali Kie Lin dan tradisi Tionghoa lainnya tak lepas dari peran mantan presiden Indonesia, Abdurahman Wahid alias Gus Dur yang membuka kembali keberagaman budaya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000.
Gus Dur-lah yang mengakhiri Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China di masa Presiden Soeharto, agar etnis Tionghoa merayakan festival keagamaan atau adat istiadat secara tertutup.
Kie Lin PGB Bangau Putih akhirnya bangkit kembali. Bukan hanya semata untuk hiburan, melainkan juga memiliki peran dan makna spiritual yang mendalam bagi perguruan dan etnis Tionghoa di Kota Bogor.
Ritualnya dilakukan mulai dari persiapan pertunjukan hingga pelaksanaan perayaan, dengan rangkaian upacara yang khusus seperti ritual pemandian dan penghoratan yang dilakukan di beberapa tempat khusus jelang Cap Go Meh.
Mulai dari upacara Cekauw sebelum perayaan hingga mengarak Kie Lin dari PGB Bangau Putih Kebon Jukut menuju kelenteng Pan Kho Bio dan Vihara Dhanagun pada hari perayaan, Kie Lin sangat ditunggu.
Saat perayaan Cap Go Meh tiba, Kie Lin menjadi pembuka kirab kirab liong barong kesenian Bogor dan secara khusus dipercaya mengawal rupang Kong Co Ho Tek Ceng Sin.
Dalam mitologi Tiongkok Kie Lin memang diketahui sebagai makhluk tunggangan para dewa yang sangat dihormati para barongsai.
Keberadaan Kie Lin menjadi bukti nyata dari kekayaan dan keberagaman budaya yang diperjuangkan dan dilestarikan oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia, khususnya oleh perguruan silat PGB Bangau Putih di Kota Bogor.
Sebagai tunggangan dewa, Kie Lin sendiri berpenampilan seperti singa. Namun sebagian tubuh Kie Lin sebenarnya mewakili 18 hewan yang ada di bumi.
Tubuh Kie Lin berbadan kuda, namun mempunyai sisik ular dan sisik ikan. Ekornya dari kura-kura.
Keempat kaki Kie Lin juga berbeda. Ada yang berkaki burung hong atau elang, berkaki macan, berkaki kerbau, dan berkaki rusa.
Kedua mata Kie Lin adalah mata kepiting, dengan telinga melambangkan telinga kelinci dan taring harimau.
Sedangkan janggut dan mulut Kie Lin merupakan mulut singa dan pipi naga.
Kie Lin juga mempunyai dua tanduk bercabang yang merupakan tanduk rusa.
Kie Lin dikenal sebagai simbol kemurnian, kebaikan, dan perdamaian, dengan sifat lemah lembut yang penuh kasih terhadap semua makhluk ciptaan Tuhan.
Filosofi itulah yang ditanamkan oleh Suhu Subur Rahardja, pendiri PGB Bangau Putih dengan memilih makhluk Kie Lin sebagai ciri yang membedakan identitas PGB Bangau Putih dengan perguruan lainnya.
Pertunjukan Kie Lin memang langka. Tidak setiap saat bisa dipentaskan sembarang waktu, dan tidak semua dapat memainkan gerakan khas penampilan Kie Lin. Bahkan, di Indonesia, Kie Lin hanya ada di Kota Bogor.
Untungnya, berbagai perjuangan berhasil dilakukan untuk mempertahankan karya budaya yang unik ini.
Pendiri PGB Bangau Putih Lim Sin Tjoei atau Suhu Subur Rajardja yang akrab dipanggil Encek Bacih, harus berjibaku menghadapi aturan main Orde Baru.
Berawal dari tempat latihan PGB Bangau Putih di Gedong Dalam yang ditutup dan bahkan disegel oleh pemerintah sekitar tahun 1965.
Saat itu Gedong Dalam yang berada di jalan Suryakencana, digunakan pula sebagai kantor Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki).
Saat ditutup, latihan silat pun menjadi tidak jelas karena harus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Kie Lin pun ikut diamankan saat pindah tempat.
Akibat penutupan oleh pemerintah, banyak murid-murid yang keluar dari PGB Bangau Putih dan jumlah anggota pun semakin berkurang.
Sempat pindah ke Pan Kho Bio atau Vihara Mahabrahma di Pulo Geulis. Hingga akhirnya pada 1966, dibuka cabang di daerah Ardio Bogor.
Namanya kembali mulai dikenal. Namun ayah angkat Encek Bacih yaitu Lim Kim Bouw wafat di tahun tersebut.
Tahun 1967, Kie Lin dan tempat latihan silat dipindahkan ke Kebon Jukut. Namun hanya bertahan setahun.
Perguruan silat PGB Bangau Putih seperti main kucing-kucingan dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Sempat kembali ke Pulo Geulis, hanya bertahan 6 bulan. Lalu lagi-lagi pindah ke gedung Fond Miskin dan kembali ke Kebon Jukut.
Setelah melewati masa sulit itu, PGB Bangau Putih dan simbol perguruan Kie Lin akhirnya melakukan peresmian untuk menetap di Kebon Jukut No 1 pada 1969, rumah dari Tante Kwan Nio.
Saat itu, Kie Lin dipertontonkan secara terbatas karena kondisi tekanan politik terhadap budaya Tionghoa belum terhapus.
Namun saat peresmian itu, perwakilan dari garis keluarga Sinshe atau Tabib Lo Ban Teng (Shaolin Ho Yang Pay) turut hadir.
Demikian juga para tokoh kungfu Shantung di Bogor, hingga guru Hamid dari aliran Cimande, dan lain sebagainya.
Selama lebih dari 30 tahun itu Kie Lin seolah mati suri. Begitu juga liong dan barongsai bersembunyi di rumah-rumah dan tempat peribadatan.
Pada masa Dinasti Ming, Kie Lin menjadi hadiah yang populer saat mengunjungi kerabat yang melahirkan anak laki-laki. Makna yang tersirat adalah doa agar anak menjadi pribadi yang hebat dan hebat
Dalam visualisasi asalnya, Kie Lin memiliki tubuh mirip rusa yang dilapisi zirah, tanduk panjang dengan gumpalan daging di atasnya, kaki menyerupai kuda, dan ekor menyerupai sapi, sering kali digambarkan dengan api yang melingkupi tubuhnya.
Kie Lin PGB Bangau Putih bentuknya paling mirip dengan Kie Lin yang sebenarnya. Ada warna Kie Lin hijau yang merupakan unsur langit dan ada Kie Lin merah yang unsur tanah atau bumi.
Raja-raja melihatnya sebagai lambang kedamaian dan kemakmuran, sementara PGB Bangau Putih juga memahami Kie Lin sebagai pembawa berita.
Pertunjukan Kie Lin bukan hanya untuk mempertahankan legenda dan tradisi, tetapi juga untuk memberikan gambaran kepada generasi mendatang tentang keberadaannya memperkaya budaya Tionghoa di Indonesia. ***

