POJOKSATU.id - Rupanya cantik dan ayu. Memiliki keanggunan dengan tubuh yang proporsional dan kulit putih bermata sipit, khas gadis Tionghoa. Namanya Tan Peng Nio, pendekar dalam Perang Geger Pacinan atau Perang Kuning.

Tan Peng Nio belum banyak dikenal hingga hari ini. Tapi di zaman Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) berkuasa, dalam Perang Geger Pacinan atau Perang Kuning, para serdadu frustasi karena sungguh kesulitan menangkap gadis Tionghoa ini.

Kisah ini terjadi di Jawa sekitar 1740-1743. Tentang seorang gadis Tionghoa bernama Tan Peng Nio yang ikut berperang melawan VOC atau kompeni Belanda dalam Perang Geger Pacinan atau Perang Kuning.

Nama Tan Peng Nio tercatat dalam sejarah Perang Geger Pacinan atau Perang Kuning, tapi mungkin banyak orang yang lupa atau bahkan tidak tahu jasa gadis Tionghoa ini di tanah Jawa.

Baca Juga: Jejak Pahlawan Nasional Etnis Tionghoa Laksamana Muda John Lie, Kisah Hantu Selat Malaka yang Sering Menyantuni Anak Jalanan dan Gelandangan

Dia adalah petarung lihai yang bertempur menentang kompeni Belanda hingga VOC harus mendatangkan para jawara dari Sumatera, Bugis hingga Banten.

Tan Peng Nio menjadi sosok pemersatu prajurit Mataram dan para pendekar Tionghoa di kala itu. Ia sengaja bertempur dengan menyamar sebagai seorang laki-laki.

Kisah perjuangan Tan Peng Nio yang tangguh di tanah Jawa ini, sangat mirip dengan film "Mulan" yang dirilis oleh Studio Disney.

Itu sebabnya, novelis Seno Gumira Aji Darma menyebut Tan Peng Nio sebagai "Mulan van Java”.

Di negeri asalnya, Tan Peng Nio adalah anak dari Jenderal Tan Wan Swee yang bertentangan pendapat dan melakukan pemberontakkan yang gagal terhadap Kaisar Kien Long dari Dinasti Qing, Manchuria.

Jenderal Tan Wan Swee lalu menitipkan Tan Peng Nio kepada sahabatnya, Lia Beeng Goe, seorang ahli pembuat peti mati dan ahli bela diri kungfu aliran shwio limpai.

Aliran kungfu itu terkenal mahir menggunakan 36 cabang berbagai senjata termasuk pedang, golok atau toya.

Juga sangat piawai dengan jurus tangan maupun tendangan cepat yang sangat lihai.

Keahlian kung fu itulah yang kemudian diturunkan kepada murid tunggalnya, Tan Peng Nio, putri Jenderal Tan Wan Swee.

Baca Juga: Yap Thiam Hien, Jejak Tionghoa Pembela Kaum Tertindas, Penegak HAM yang Diabadikan Jadi Nama Penghargaan

Saat pemberontakan ayahnya gagal melawan kesewenangan sang kaisar Kien Long, segera Tan Peng Nio menjalani pelarian bersama Lia Beeng Goe ke Tumasik, kini Singapura.

Karena terus dikejar, Tan Peng Nio dan Lia Beeng Goe lalu sampai ke Sunda Kalapa (Batavia).

Kaisar Kien Long memang memerintahkan untuk memenggal habis semua keturunan jenderal Tan Wan Swee.

Tahun 1740, saat terjadi huru-hara yang terkenal dengan Geger Pecinan, terjadi pembantaian etnis Tionghoa oleh VOC.

Lia Beeng Goe lalu membawa Tang Peng Nio mengungsi ke arah Timur hingga tiba di daerah Kutowinangun dan bertemu dengan Kiai Honggoyudho yang ahli membuat senjata.

Saat terjadi peperangan dan penyerbuan selama 16 tahun oleh Pangeran Garendi atau Raden Mas Garendi, yaitu sekitar tahun 1741 - 1757, Tan Peng Nio sudah semakin dewasa dan banyak belajar.

Baca Juga: Jejak Aktor Tionghoa Tan Tjeng Bok Alias Pak Item, Seniman dari Tangkiwood yang Serba Bisa, Disebut 100 Kali Menikah, Melarat di Akhir Hayat

Raden Mas Garendi adalah nama asli dari Sunan Kuning atau Amangkurat V. Ia lahir pada tahun 1726 di Kartasura, ibu kota kerajaan Mataram saat itu.

Raden Mas Garendi menjadi simbol perlawanan pasukan Jawa-Tionghoa melawan VOC dan pasukan Raja Mataram Pakubuwana II, yang memiliki hubungan dekat dengan VOC.

Pangeran Garendi juga disebut sebagai susuhunan pertama di Kerajaan Mataram Islam di Kartasura yang berasal dari keturunan peranakan Jawa-Tionghoa.

Tan Peng Nio kemudian dikabarkan bergabung dalam 200 pasukan K.R.A.T. Kolopaking II yang dikirimkan untuk membantu pasukan Pangeran Garendi.

K.R.A.T. Kolopaking II atau Ki Bagus Mandingin yaitu Bupati Panjer, sekarang Kebumen, yang memerintah dari tahun 1710–1751.

Saat peperangan terjadi, Tan Peng Nio dan para prajurit Tionghoa bergerak bersama para prajurit Mataram dengan seragam hitam-hitam.

Pertempuran digambarkan oleh sejarawan dari Pura Mangkunegara, KRMH Daradjadi Gondodiprodjo, yang menulis buku Geger Pacinan 1740 - 1743.

Tan Peng Nio menjadi bagian garis depan persekutuan Tionghoa dan Jawa (Mataram) ketika berhadapan dengan VOC.

Baca Juga: Tampil di Google Doodle Hari Ini, Ini Akhir Kisah Aminah Cendrakasih, Segini Jumlah Filmnya Sejak 1950-an

Mereka bergerak lincah dengan ilmu ghingkang atau khingkang, yaitu ilmu meringankan tubuh yang bergerak dari satu medan pertempuran ke wilayah lainnya.

Pihak kompeni Belanda dan pasukan bantuan yang didatangkan dari Sumenep dan Madura, cukup kewalahan.

Kisah tentang prajurit perempuan dan kepiawaian mereka dalam berperang diabadikan dalam beragam tari Bedhaya di Surakarta dan Yogyakarta.

Tan Peng Nio yang masih takut dikenali, menyamar menjadi prajurit laki-laki, paska peperangan berakhir di meja perundingan Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755.

Perjanjian Giyanti itu berlangsung pada 13 Februari 1755 di Desa Giyanti, Dukuh Kerten, Jantiharjo, Karanganyar, Jawa Tengah yang secara resmi membagi kekuasaan Kesultanan Mataram kepada Sunan Pakubuwana III dan Pangeran Mangkubumi.

Beberapa waktu setelah itu, pada abad ke-18, ketika sedang terlibat dalam konflik Perang Geger Pacinan, Tan Peng Nio bertemu dengan KRT Kolopaking III yang juga dikenal sebagai Raden Sulaiman Kertowongso.

Setelah perang usai, Tan Peng Nio menikah dengan Raden Sulaiman yang kemudian menggantikan ayahnya menjadi K.R.A.T. Kolopaking III.

Menurut catatan yang ditulis oleh R. Tirto Wenang Kolopaking dalam Sejarah "Silsilah Wiraseba Banyumas, Kiai Geng Mangir – Kolopaking – Arung Binang, Trah Kolopaking" tahun 2005, Tan Peng Nio adalah istri kedua dari K.R.A.T. Kolopaking III dan mendapat gelar Raden Ayu Tang Peng Nio.***