POJOKSATU.id - Pondok Pesantren Buntet merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang ada di Cirebon, Jawa Barat.
Karena usianya yang sudah mencapai ratusan tahun, pondok pesantren itu pun menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia.
Pondok Pesantren Buntet Cirebon berada di urutan ke-6 dari 56 pondok pesantren yang dikategorikan sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia.
Di samping usianya yang sudah tua, ternyata ada cerita tersendiri di balik berdirinya Pondok Pesantren Buntet Cirebon.
Baca Juga: Pemkot Bandung dan Komunitas Sulap Kolaborasi Jadikan Ruang Publik Lebih Bersih
Sang pendiri, yakni Kiai Muqoyyim disebut menjalani tirakat dengan cara berpuasa selama 12 tahun saat mendirikan Pondok Pesantren Buntet.
Kyai Muqoyyim adalah seorang Kyai khasrismatik dengan kealiman yang dimiliki serta dikenal sosok Kyai sakti madraguna asal Buntet Cirebon.
Santun dan digdaya merupakan watak asli Kyai satu ini. Semasa hidupnya beliau sangat dihormati dari berbagai kalangan, meski bagi penjajah Belanda.
Baca Juga: Gagalkan Penyelewengan BBM Subsidi, Pertamina Apresiasi Petugas SPBU di Tangerang Selatan
Kyai Muqoyyim merupakan ancaman karena mempunyai peran dan pengaruh yang sangat besar sehingga dapat mempengaruhi rakyat untuk melawan dan menentang Belanda.
Mbah Muqoyyim yang menjadi anggota Kerajaan Cirebon merasa resah dengan kehadiran penjajah ini, kemudian mengadakan perlawanan, namun tidak dengan kekerasan atau menggunakan senjata, yang dilakukan adalah dengan mengasingkan diri atau melakukan perlawanan secara tidak langsung.
Sikap dan perilakunya yang selalu non-cooperation atau tidak ingin diajak kerjasama, dan diteruskan oleh generasi selanjutnya seperti KH Raden Muta’ad, KH Abdul Jamil, dan KH. Muhammad Abbas yang mempunyai peran signifikan dalam perjuangan membela agama, bangsa dan negara.
Baca Juga: Tingkatkan Produktivitas Pertanian dengan Teknologi Salibu, Berikut Keunggulannya
Saat membangun Pondok Pesantren Buntet, Mbah Muqoyyim pun menjalani tirakat daerah cara berpuasa selama 12 tahun.
Tiga tahun pertama, Mbah Muqoyyim berpuasa untuk keberkahan tanah dan pesantren yang ia bangun.
Kemudian tiga tahun ke dua, Mbah Muqoyyim berpuasa untuk keselamatan anak dan cucunya.
Lalu tiga tahun selanjutnya, Mbah Muqoyyim berpuasa untuk para santri serta pengikutnya. Dan tiga tahun terakhir, Mbah Muqoyyim berpuasa untuk keselamatan dirinya.
Baca Juga: Pelatihan Konten dan Digital Marketing Bersama Komunitas Gen 34 Ifa Faizah Rohmah
Seiring berjalannya waktu, Pondok Pesantren Buntet terus berkembang hingga mampu melahirkan tokoh-tokoh besar yang berkontribusi terhadap berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Salah satu sosok yang cukup ternama adalah KH Abbas Abdul Jamil.
Rofahan mengatakan, KH Abbas Abdul Jamil atau Kiai Abbas merupakan salah satu tokoh penting dalam gerakan melawan penjajah usai dikeluarkannya Resolusi Jihad oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari.
Gerakan itu lah yang kemudian melahirkan peristiwa heroik, yakni perang 10 November di Surabaya.
Baca Juga: Nasib Keluarga Mantan Wapres Umar Wirahadikusumah, Tokoh Sederhana yang Jauh dari Kata Kemewahan
Perang 10 November yang sebelumnya diminta dimulai lebih awal oleh Bung Tomo, dicegah oleh Kiai Hasyim Asy'ari.
Ditolaknya permintaan Bung Tomo itu bukan tanpa alasan. Karena saat itu, Kiai Hasyim Asy'ari tidak mau memulai perang 10 November, sebelum macan dari Cirebon tiba di Surabaya. Macan dari Cirebon yang dimaksud, yaitu Kiai Abbas.
Selain Kiai Abbas, dalam perang 10 November di Surabaya itu, ada banyak ulama dan santri yang ikut terlibat.
Mereka bersatu untuk terlibat langsung dalam peperangan pasca kemerdekaan tersebut.
Baca Juga: Lyodra Jalan Bareng DK iKON di Korsel Tanpa Masker, Netizen : Minta Diciduk Dispatch
Dalam peristiwa itu, Kiai Abbas memiliki andil besar dalam menggerakan ribuan santri dari Cianjur dan beberapa daerah lainnya.
Mereka digerakkan untuk ikut berperang di Surabaya melawan penjajah yang ingin mencoba menguasai kembali wilayah Indonesia.
Banyak daerah yang merasa dibantu oleh Kiai Abbas dalam melawan penjajah. Bukan hanya Cirebon dan Surabaya saja, tapi juga Cianjur dan wilayah lainnya.
Sebagaimana diketahui, peperangan melawan penjajah yang terjadi di Surabaya menjadi peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia.
Peperangan itu pun menjadi bukti sejarah atas peran para ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dari tangan penjajah.
Hal ini tidak terlepas dari adanya Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh salah satu tokoh pendiri NU, yakni Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari.
Seruan Resolusi Jihad yang dilakukan pada 22 Oktober 1945 itu mampu membakar semangat juang berbagai lapisan masyarakat, termasuk kaum santri untuk berperang melawan penjajah.
Baca Juga: Mengenal Sosok Buya Syakur, Ulama Kharismatik dari Indramayu Lulusan Mesir dan Tunisia
Untuk mengenang perjuangan para ulama dan santri dalam peperangan melawan penjajah, Pemerintah Indonesia pun telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai peringatan Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015. ***

