POJOKSATU.id - Teknologi salibu dapat meningkatkan produksi padi sekaligus menjaga ketahanan pangan. Tak hanya itu, teknologi salibu membuat penanaman lebih efisien dan menambah jumlah panen dalam satu tahun.
Sebagai informasi, salibu singkatan dari salinan ibu merupakan teknologi budidaya ratoon yaitu tunggul setelah panen tanaman utama yang tingginya sekitar 25 cm, dipelihara selama 7-10 hari atau dibiarkan hingga keluar tunas baru.
Padi salibu merupakan tanaman padi yang tumbuh lagi setelah batang sisa panen ditebas/dipangkas, tunas akan muncuk dari buku yang ada di dalam tanah. Tunas ini akan mengeluarkan akar baru, sehingga suplay hara tidak lagi tergantung pada batang lama.
Baca Juga: Komunitas Pelatihan Musik Gen34 Ifa Faizah Rohmah
Pj Gubernur Jabar Bey Machmudin mengatakan, melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) agar memperluas penerapan budi daya padi teknologi salibu, termasuk menyosialisasikannya kepada penyuluh.
"Satu tahun bisa minimal lima kali panen bahkan bisa jadi tujuh kali panen jika menggunakan teknologi salibu," kata Bey.
Menurutnya, kelebihan lain dari budi daya padi teknologi salibu, seperti mengurangi biaya produksi, umur panen lebih cepat, dan hasil panen yang besar.
Baca Juga: Baca Disini! Daftar Nama Caleg DPRD Kota Banjar Partai Perindo
"Meskipun produksi meningkat, tapi biaya menurun hampir 40 persen. Kalau salam setahun panen 5 kali, sekali panen 7 ton berarti sudah menghasilkan 35 ton padi," ungkapnya.
Berdasarkan daya dari DTPH, jika menggunakan cara konvensional dalam setahun panen padi hanya bisa 3 kali. "Sekali panen juga 5-6 ton saja, biayanya juga juga lebih mahal," tambahnya.
Bey mengungkapkan, mahalnya panen secara konvensional karena mesti ada proses lagi untuk penanaman.
"Saat ini Pemprov Jabar melalui DTPH terus berupaya untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Budi daya padi teknologi salibu dapat menjadi salah satu upayanya," tutupnya.(Nida) ***



