POJOKSATU.id – Musim Lebaran selalu menjadi panggung besar bagi film-film Indonesia, dan tahun ini sebuah drama keluarga berjudul Senin Harga Naik datang membawa kisah yang terasa dekat dengan kehidupan banyak orang: hubungan orang tua dan anak yang retak oleh perbedaan pandangan hidup.
Film produksi Starvision dan Legacy Pictures ini disutradarai oleh Dinna Jasanti, sineas yang dikenal piawai mengolah emosi dan konflik relasi manusia di layar lebar.
Naskahnya ditulis oleh Rino Sarjono, sementara kursi produser diisi Chand Parwez Servia bersama Mithu Nisar.
Baca Juga: Heboh Menu Kelapa Utuh di Program Makan Bergizi Gratis, BGN Langsung Hentikan 9 SPPG di Gresik
Kombinasi kreator ini membuat film berdurasi sekitar 116 menit tersebut terasa matang secara dramatik dan emosional.
Secara teknis, film ini juga digarap dengan pendekatan yang cukup rapi.
Sinematografi ditangani Amalia TS yang menghadirkan visual realistis, editing oleh Hendra Adhi Susanto menjaga ritme cerita tetap mengalir, sementara komposisi musik dari Hariopati Rinanto memberikan lapisan emosi yang terasa hangat namun juga getir.
Baca Juga: Iran Mulai Keluarkan Rudal Andalan Sejjil ke Israel, Begini Penampakan Kerusakan Tel Aviv
Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 18 Maret 2026, bertepatan dengan momentum Lebaran yang identik dengan momen pulang dan berdamai dengan keluarga.
Konflik Ibu dan Anak yang Terlalu Mirip
Cerita berpusat pada Mutia (Nadya Arina), seorang perempuan muda yang bekerja sebagai sales marketing di perusahaan properti.
Ia memiliki ambisi besar untuk membuktikan bahwa dirinya mampu sukses dengan caranya sendiri.
Sayangnya, keputusan hidup Mutia justru memicu pertengkaran hebat dengan ibunya, Retno (Meriam Bellina). Retno adalah sosok ibu tunggal yang keras, protektif, dan memegang prinsip kuat tentang masa depan anaknya.
Ia menilai pekerjaan Mutia tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan farmasi yang dulu diperjuangkan.
Pertengkaran itu menjadi titik balik cerita. Mutia memilih meninggalkan rumah dan hidup mandiri, membawa luka serta gengsi yang belum selesai.
Waktu berlalu tiga tahun. Mutia hampir mencapai puncak kariernya dengan peluang promosi menjadi general manager. Namun ada satu syarat berat yang harus ia penuhi: membebaskan lahan untuk proyek perusahaan.
Masalahnya, lahan tersebut adalah rumah sekaligus toko roti milik ibunya sendiri.
Dari titik itulah konflik dramatis mulai memuncak. Mutia dipaksa kembali ke tempat yang pernah ia tinggalkan—dan berhadapan dengan orang yang paling sulit ia hadapi: ibunya.
Ensemble Pemain Lintas Generasi
Film ini diperkuat jajaran aktor yang cukup solid. Selain Nadya Arina dan Meriam Bellina sebagai pusat konflik cerita, film ini juga menghadirkan Andri Mashadi, Hamish Daud, Nungki Kusumastuti, Nayla D. Purnama, Rianti Cartwright, Brandon Salim, hingga komedian Aci Resti.
Keberadaan aktor lintas generasi ini memberi warna berbeda pada dinamika cerita.
Ada karakter yang menjadi jembatan emosional, ada pula yang memperkeruh situasi dengan sudut pandang realistis tentang karier, keluarga, dan pilihan hidup.
Adegan yang Menjadi Pusat Emosi
Salah satu adegan paling kuat dalam film ini muncul saat Mutia akhirnya kembali memasuki toko roti milik ibunya setelah bertahun-tahun pergi.
Adegan itu disusun dengan tempo yang lambat, memanfaatkan blocking pemain dan close-up wajah untuk menampilkan ketegangan emosional yang tidak perlu banyak dialog.
Kamera seolah mengajak penonton ikut merasakan jarak psikologis antara ibu dan anak yang berdiri hanya beberapa meter, tetapi dipisahkan oleh bertahun-tahun kesalahpahaman.
Di situlah kekuatan film ini terasa: konflik tidak dibangun lewat dramatisasi berlebihan, melainkan melalui detail kecil—tatapan mata, jeda bicara, hingga kalimat yang tertahan di tenggorokan.
Drama Keluarga yang Dekat dengan Realitas
Sebagai drama keluarga, Senin Harga Naik tidak mencoba menjadi melodrama yang terlalu sentimental.
Film ini lebih memilih pendekatan observasional, menyorot bagaimana ego dan rasa sayang sering kali bersembunyi di balik kata-kata keras.
Baca Juga: Dana Transfer Dipotong, Pemda Mulai “Irit”: Sewa Mobil Pejabat hingga Perjalanan Dinas Dipangkas
Tema tentang rekonsiliasi juga diolah dengan cara yang cukup jujur. Proses berdamai tidak digambarkan instan, tetapi sebagai perjalanan emosional yang membutuhkan waktu, keberanian, dan kerendahan hati.
Bagi penonton Indonesia, konflik semacam ini terasa sangat relevan. Banyak orang pernah berada di posisi Mutia—ingin membuktikan diri—atau di posisi Retno yang merasa cintanya disalahpahami.
Di situlah film ini menemukan kekuatannya: cerita yang sederhana tetapi terasa personal.
Senin Harga Naik bukan sekadar kisah tentang karier atau konflik keluarga.
Baca Juga: Viral Petugas TolJemput Bola ke Mobil yang Menumpuk, Cara Unik Ini Bikin Netizen Salut
Film ini adalah tentang harga yang harus dibayar seseorang untuk membuktikan dirinya—dan tentang rumah yang selalu menunggu, meski pintunya sempat ditinggalkan terlalu lama.
Jika penasaran bagaimana Mutia memilih antara ambisi dan keluarganya, kisah emosional ini sepertinya layak disaksikan langsung di layar lebar saat Lebaran nanti. ***


