POJOKSATU.id - Tim dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama STAI Al Qudwah dan Universitas Indraprasta PGRI mengembangkan inovasi tekstil berbasis potensi lokal di Desa Wisata Cisaat, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Program pengabdian kepada masyarakat tersebut memadukan batik cap bermotif rusa dengan teknik ecoprint berbahan alami. Inovasi ini diarahkan untuk memperkuat ekonomi kreatif sekaligus membangun identitas pariwisata desa.
Kegiatan dipimpin Prof. Usep Suhud dari UNJ dengan melibatkan Doni Sugianto Sihotang, Laelah Purnamasari dari STAI Al Qudwah, Fismayatni Cholifah dari Universitas Indraprasta PGRI, serta mahasiswa UNJ Rizaldi Mu’min.
Baca Juga: SATU UI Resmi Diluncurkan, Sistem Akademik Baru Gantikan SIAK-NG
Program tersebut melibatkan enam perajin perempuan yang tergabung dalam Komunitas Batik Sumbangsih.
Sebelumnya, para perajin telah memiliki pengalaman membuat batik cap, tetapi produksinya masih bergantung pada pesanan.
Tim kemudian mendorong diversifikasi produk melalui teknik ecoprint dan pengembangan motif khas agar memiliki nilai tambah serta pasar yang lebih luas.
Dua Teknik dalam Satu Kain
Prof. Usep mengatakan pengembangan batik ecoprint bermotif rusa memiliki tantangan tersendiri karena prosesnya dilakukan melalui dua tahap yang saling berkaitan.
Baca Juga: Pendaftaran Poltekimipas 2026 Dibuka, Ada 405 Formasi untuk 6 Prodi, Gunakan Seleksi Sistem Gugur
"Proyek ini sangat menantang karena kain harus melalui dua tahap pengerjaan, yaitu pembuatan batik cap bermotif rusa dan penerapan ecoprint menggunakan bahan-bahan alami.
Kedua tahap tersebut memiliki risiko teknis yang cukup tinggi. Kesalahan pada tahap kedua dapat memengaruhi atau bahkan merusak hasil batik yang telah dikerjakan pada tahap pertama," ujar Prof. Usep.
Tantangan produksi antara lain ketidaksesuaian warna, jejak daun yang kurang jelas, kerusakan lapisan malam, pergeseran komposisi motif, hingga perubahan karakter kain saat pengukusan dan fiksasi.
Karena itu, setiap tahapan membutuhkan ketelitian, mulai dari pengendalian suhu, pemilihan bahan alami hingga pengaturan waktu.
Pelatihan mencakup pemilihan dan pembersihan kain, mordanting, penataan daun dan bunga, pengukusan, teknik pukul, fiksasi warna hingga penyelesaian produk.
Bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar juga dimanfaatkan untuk menghasilkan pola, warna dan tekstur yang khas.
Baca Juga: RSUD Ujung Berung Habiskan Rp360 Miliar, Pansus 17 Minta Pemkot Bandung Waspadai Beban Fiskal
Peserta diperkenalkan pada pemanfaatan kembali larutan mordant untuk mendukung proses produksi yang lebih hemat sumber daya dan ramah lingkungan.
Motif Rusa Dikembangkan dengan AI
Tak hanya teknik produksi, tim juga memperkenalkan lokakarya perancangan motif rusa dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan generatif.
Teknologi tersebut digunakan untuk mengeksplorasi berbagai komposisi motif, bentuk tanduk rusa, dedaunan hingga lanskap alam.
Desain yang terpilih kemudian disempurnakan menjadi pola cap batik.
Baca Juga: Prosignal Disuspend, Sampah Organik 2–3 Ton Menumpuk di Pakemitan, Buruan SAE Ikut Terdampak
Motif rusa dipilih untuk merepresentasikan keharmonisan dengan alam, keseimbangan ekologis dan karakter lingkungan perdesaan.
Ketika dipadukan dengan jejak alami daun dan bunga, motif tersebut menghasilkan visual yang sekaligus membawa narasi kedekatan masyarakat dengan lingkungannya.
Inovasi ini diharapkan memperkaya produk ekonomi kreatif Desa Wisata Cisaat, mulai dari cendera mata dan produk fesyen hingga bagian dari pengalaman wisata berbasis kreativitas masyarakat.
Dengan demikian, batik tidak hanya dikembangkan sebagai produk kerajinan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas destinasi wisata.
Program tersebut turut meningkatkan keterampilan perajin dalam produksi ecoprint, pemanfaatan pewarna alami, pengembangan motif, teknik pengecapan dan penyelesaian kain.
Kolaborasi antara dosen, mahasiswa dan perajin juga membuka ruang pertukaran pengetahuan serta meningkatkan kepercayaan diri masyarakat dalam menghasilkan produk yang lebih inovatif dan sesuai kebutuhan pasar.
Tahap selanjutnya diarahkan pada peningkatan mutu produk, penguatan merek, pemasaran digital, pengelolaan keuangan, perluasan jaringan pasar hingga pengelolaan limbah produksi.
Hasil kegiatan ini telah dipublikasikan dalam International Journal of Research and Innovation in Social Science, Volume X, Issue VI, Juni 2026, melalui artikel berjudul "Development of Integrated Ecoprint and Deer-Motif Batik Innovation to Strengthen Local Creative Economy in Cisaat Tourism Village, Subang".
Program tersebut menunjukkan bagaimana kolaborasi lintas perguruan tinggi dapat mempertemukan pelestarian budaya, inovasi tekstil berkelanjutan, pemberdayaan perempuan dan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat. ***




