POJOKSATU.id — Peluang melanjutkan studi kedokteran di Jepang kembali dibuka melalui program The ASEAN-Japan Medical Scholarship Programme 2027.
Program ini menyasar mahasiswa S1 kedokteran dari negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, yang saat ini tengah menempuh studi di tahun pertama maupun kedua.
Beasiswa berbasis prestasi ini merupakan hasil kerja sama antara Economic Research Institute for ASEAN and East Asia dan Ministry of Health, Labour and Welfare.
Baca Juga: PBB 2026 Bisa Nol Rupiah! Ini Kriteria Rumah yang Lolos Pembebasan
Melalui program ini, para penerima beasiswa akan dipersiapkan menjadi tenaga medis profesional, baik sebagai dokter maupun ahli kesehatan masyarakat.
Program ini dirancang untuk mendorong peningkatan kualitas layanan kesehatan, memperkecil kesenjangan akses medis, serta memperluas kesempatan pendidikan di kawasan ASEAN.
Selain itu, inisiatif ini juga diharapkan mampu membentuk ekosistem layanan kesehatan yang inklusif, kolaboratif, dan beragam.
Baca Juga: DPR Soroti Implementasi UU PPRT, Pelanggaran Hak Pekerja Bisa Kena Sanksi Berat
Meski menawarkan banyak keuntungan, penerima beasiswa wajib memenuhi sejumlah komitmen.
Selama masa studi, mahasiswa tidak diperkenankan mengundurkan diri ataupun mengulang mata kuliah.
Jika aturan tersebut dilanggar, maka seluruh dana beasiswa yang telah diterima—termasuk yang sudah dibayarkan langsung ke pihak universitas di Jepang, harus dikembalikan.
Adapun pengecualian hanya diberikan dalam kondisi tertentu yang tidak dapat dihindari, seperti alasan kesehatan, dengan persetujuan resmi dari penyelenggara.
Baca Juga: Resmi! Daftar Pasien yang Bisa Berobat Gratis di RSPAD Bertambah
Program beasiswa ini mencakup berbagai fasilitas pendukung, mulai dari pembiayaan pendidikan secara penuh, tunjangan hidup hingga 120 ribu yen per bulan atau sekitar Rp13 juta untuk kebutuhan asrama, konsumsi, dan asuransi kesehatan, tiket pesawat pulang-pergi, hingga penyediaan buku teks.
Durasi program berlangsung selama enam tahun masa studi kedokteran, yang dilanjutkan dengan dua tahun pelatihan klinis awal di Jepang.
Menariknya, pada masa pelatihan klinis tersebut, peserta akan memperoleh gaji.
Dalam pelaksanaannya, beasiswa ini dibagi menjadi dua jalur seleksi. Kategori A menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa seleksi, dengan batas pendaftaran Kamis, 30 April 2026 pukul 17.00 WIB.
Baca Juga: Anggap Pelaku Orang Gila, Trump Meyakini Penembakan Gedung Putih TakTerkait Perang Iran
Program ini diperuntukkan bagi mahasiswa tahun pertama atau kedua dari fakultas kedokteran di perguruan tinggi ASEAN yang telah memiliki kerja sama dengan ERIA. Peserta yang lolos akan melanjutkan studi di International University of Health and Welfare.
Sementara itu, kategori B ditujukan khusus bagi mahasiswi yang memiliki kemampuan bahasa Jepang.
Seleksi dilakukan menggunakan bahasa Inggris dan Jepang, dengan batas pendaftaran Senin, 31 Agustus 2026 pukul 17.00 WIB.
Peserta wajib memiliki sertifikat kemampuan bahasa Jepang, seperti JLPT. Kampus tujuan untuk jalur ini adalah Tokyo Women's Medical University.
Untuk mendaftar, peserta diwajibkan menyiapkan sejumlah dokumen penting, di antaranya formulir pendaftaran, transkrip akademik tahun pertama dan transkrip SMA yang telah dilegalisasi beserta terjemahan bahasa Inggris, ijazah SMA.
Serta esai kurang dari 1.000 kata yang memuat tujuan studi, alasan kelayakan, pemahaman sistem kesehatan di negara asal, pengalaman kepemimpinan, hingga rencana studi dan karier.
Baca Juga: Identitas Pelaku Penembak Gedung Putih Acara Donald Trump Terungkap, Cole Allen dari California
Selain itu, pelamar juga perlu melampirkan surat rekomendasi, serta sertifikat kemampuan bahasa Inggris dan Jepang (khusus kategori B).
Proses seleksi dilakukan melalui beberapa tahapan, dimulai dari seleksi administrasi, wawancara daring bersama ERIA, pengumuman kandidat terpilih, hingga seleksi lanjutan oleh perguruan tinggi tujuan.
Bagi peserta kategori A, akan mengikuti program pelatihan bahasa Jepang pada Oktober 2026 hingga Maret 2027 sebelum memulai perkuliahan pada April 2027.
Sebagai bagian dari persyaratan akhir, peserta yang dinyatakan lolos seleksi wajib menyerahkan hasil pemeriksaan kesehatan sebelum memulai studi.
Informasi lebih lanjut mengenai program ini dapat diakses melalui laman resmi yang telah disediakan oleh penyelenggara.***




