POJOKSATU.id - Cikal bakal berdirinya Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) berawal dari Program Non Gelar Pendidikan Ahli Teknik (PAT) Jurusan Teknik Perkapalan ITS pada tahun 1979 yang berlokasi di Jalan Basuki Rachmad, Surabaya.

Nah, dari sinilah perjalanan panjang institusi pendidikan vokasi di bidang perkapalan ini dimulai.

Seiring adanya perubahan struktur organisasi perguruan tinggi melalui berbagai peraturan pemerintah pada awal 1980-an, program non gelar tersebut kemudian dikelompokkan menjadi Fakultas Non Gelar Teknologi (FNGT) ITS pada tahun 1982.

Baca Juga: WFH ASN di Riau Bukan Sekadar Kerja dari Rumah, Target Utamanya Hemat Anggaran dan Energi

Di dalamnya tetap terdapat Jurusan Teknik Perkapalan yang menjadi cikal bakal lahirnya politeknik ini.

Pada tahun yang sama, pemerintah juga mendirikan enam politeknik di berbagai kota besar seperti Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, dan Malang.

Kehadiran lembaga pendidikan politeknik ini ternyata mendapat respons positif dari masyarakat karena dianggap mampu mencetak tenaga ahli siap pakai.

Baca Juga: Resmi Cair! THR ASN Tasikmalaya Rp38,5 Miliar Akhirnya Dibayarkan Penuh

Melihat prospek cerah tersebut, pemerintah melalui kerja sama dengan World Bank pada tahun 1986 menawarkan pembukaan politeknik baru di ITS.

Tawaran itu disambut oleh Rektor ITS saat itu, Ir. Harjono Sigit BS.

Dari sinilah berdiri Politeknik Perkapalan Surabaya – ITS yang kemudian mulai membangun fasilitas perkuliahan.

Setahun kemudian, tepatnya 1987, politeknik ini resmi menerima mahasiswa baru untuk pertama kalinya dengan Prof. Ir. Soegiono sebagai direktur. Kala itu, statusnya masih berada di bawah FNGT ITS.

Baca Juga: SNBT 2026 Makin Dekat, Ini 3 Persiapan Wajib Jelang UTBK 21–30 April

Menariknya, selama periode 1987 hingga 1998, PPNS mendapatkan hibah dari Pemerintah Jerman Barat melalui GTZ.

Bantuan ini digunakan untuk pengembangan sumber daya manusia, melengkapi peralatan laboratorium, hingga dukungan teknis lainnya.

Hal ini jadi salah satu faktor penting dalam peningkatan kualitas pendidikan di PPNS.

Kemudian pada tahun 1991, berdasarkan kebijakan Kementerian Pendidikan, nama institusi ini berubah menjadi Politeknik Perkapalan Surabaya dan tidak lagi berada di bawah FNGT, meski masih menjadi bagian dari ITS.

Baca Juga: WFH Setiap Jumat, Gaji ASN Banyumas Tak Berkurang, Benarkah Ini Efisiensi? Ini Penjelasan Resminya

Lalu pada tahun 1995, statusnya kembali diperkuat dengan perubahan nama menjadi Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS).

Puncaknya terjadi pada tahun 2014, ketika PPNS resmi menjadi institusi mandiri berdasarkan peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Bahkan, PPNS menjadi satu-satunya politeknik negeri di Indonesia yang secara khusus berfokus pada bidang perkapalan.

Dalam kancah global, PPNS juga dikenal dengan nama Shipbuilding Institute of Polytechnic Surabaya (SHIPS).

Baca Juga: Di Depan Kantor Mewah Demokrat Karawang, Teh Celly Pilih Ngobrol dengan Penjual Jamu

Dalam perkembangannya, PPNS terus berbenah menghadapi tantangan global.

Pengembangan SDM dilakukan secara berkelanjutan, baik bagi tenaga pengajar maupun tenaga kependidikan melalui pelatihan hingga studi lanjut ke jenjang lebih tinggi.

Fasilitas pun terus diperbarui, mulai dari laboratorium hingga gedung perkuliahan.

Tak hanya itu, PPNS juga aktif memanfaatkan berbagai program hibah kompetisi dari pemerintah seperti TPSDP, INHERENT, IMHERE, hingga PEDP.

Kerja sama dengan industri, instansi pemerintah, dan BUMN juga terus diperluas demi meningkatkan kualitas lulusan yang siap terjun ke dunia kerja.

Baca Juga: PPPK Aman dari PHK, Tapi APBD Terancam Jebol, Ini Yang Dilakukan Pemkab Rejang Lebong Bengkulu

Kini, PPNS tidak hanya fokus pada pendidikan Diploma-3, tetapi juga telah mengembangkan program Sarjana Terapan di berbagai bidang seperti Teknik Bangunan Kapal, Teknik Permesinan Kapal, Teknik Kelistrikan Kapal, hingga Manajemen Bisnis Maritim.

Bahkan, arah pengembangan ke jenjang Magister Terapan di bidang teknologi maritim juga telah dirancang.

Dengan berbagai jurusan dan program studi yang terus berkembang, PPNS semakin menegaskan posisinya sebagai kampus vokasi unggulan di sektor kemaritiman Indonesia.

Perjalanan panjang PPNS ini seolah jadi bukti bahwa konsistensi dan adaptasi adalah kunci kemajuan.

Dari sebuah program sederhana hingga menjadi institusi mandiri yang disegani, PPNS menunjukkan bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari langkah kecil—asal terus dijaga dengan semangat dan visi yang jelas.***