POJOKSATU.ID - Kisah pengabdian Ribut Santoso, atau yang akrab disapa Pak Ribut, menyentuh hati publik.
Selama 23 tahun mengabdi sebagai guru honorer, ia pernah menerima gaji hanya Rp25 ribu per bulan.
Cerita ini viral di media sosial dan kembali membuka luka lama tentang kesejahteraan guru honorer di Indonesia.
Pak Ribut mengajar di Sekolah Dasar Negeri Pagowan 1 Pasrujambe, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Meski hidup dalam keterbatasan, ia tetap memilih bertahan demi satu alasan sederhana: mengabdi dan mencerdaskan anak bangsa.
Awal Pengabdian Sejak 2003
Pak Ribut memulai kariernya sebagai guru honorer pada tahun 2003. Saat itu, kondisi ekonomi sekolah sangat terbatas.
Ia mengaku gaji yang diterimanya hanya Rp25 ribu per bulan dan dibayarkan rutin setiap bulan tanpa dirapel.
“Tahun 2003 (jadi guru), terima gaji Rp25 ribu per bulan. Nggak dirapel, tapi langsung per bulan,” ujar Pak Ribut dikutip Pojoksatu.id dari Portaloka.id pada 29/01/2026.
Baca Juga: Puasa Tak Hentikan Program MBG, Pemerintah Justru Ganti Menu Siswa Jadi Kurma, Telur, hingga Abon
Nominal tersebut bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari, apalagi menafkahi keluarga.
Namun, kondisi itu tidak menyurutkan langkahnya untuk tetap datang ke sekolah dan mengajar murid-muridnya.
Makna Mengajar Lebih dari Sekadar Gaji
Bagi Pak Ribut, profesi guru bukan sekadar pekerjaan untuk mencari penghasilan.
Ia memandang mengajar sebagai panggilan hidup dan bentuk pengabdian.
Dalam sebuah acara talkshow yang dikutip warganet, Pak Ribut menyampaikan rasa syukurnya meski hidup dalam keterbatasan ekonomi.
“Alhamdulillah saya bersyukur kepada Allah. Saya merasa bangga bisa mengabdi sampai sekarang ini, itu semuanya berkat Allah Subhanahu wa ta’ala dan kedua orang tua saya,” ucapnya.
Baca Juga: Gibran Capres
Ia menegaskan bahwa besar atau kecilnya gaji bukan alasan untuk berhenti mengabdi. Baginya, rezeki sudah diatur dan harus diterima dengan penuh keikhlasan.
Cerminan Nasib Guru Honorer di Indonesia
Kisah Pak Ribut bukan satu-satunya. Di berbagai daerah, masih banyak guru honorer yang menerima gaji jauh di bawah standar kelayakan.
Sebagian hanya digaji Rp300 ribu hingga Rp700 ribu per bulan, bergantung pada jam mengajar dan kemampuan keuangan sekolah.
Fakta ini menunjukkan masih adanya persoalan struktural dalam sistem pengelolaan tenaga pendidik, khususnya guru honorer yang belum berstatus ASN maupun PPPK.
Baca Juga: Pengakuan Ammar Zoni Gegerkan Publik, Menko Yusril Tanggapi Dugaan Pemerasan Rp3 Miliar di Lapas
Pengabdian panjang yang tidak sebanding dengan kesejahteraan menjadi realitas pahit yang harus diterima ribuan guru honorer di Indonesia.
Viral dan Menggugah Empati Publik
Cerita Pak Ribut viral di media sosial dan menuai beragam reaksi. Banyak warganet menyampaikan rasa haru, salut, sekaligus keprihatinan.
Tak sedikit yang menilai kisah ini seharusnya menjadi pengingat serius bagi pemerintah dan pemangku kebijakan.
Nama Pak Ribut kini menjadi simbol ketulusan dan dedikasi guru honorer yang tetap bertahan meski dihimpit kesulitan ekonomi.
Kisah Pak Ribut mengajarkan bahwa dedikasi seorang guru sering kali melampaui logika materi.
Namun, di balik keteladanan itu, tersimpan persoalan besar tentang keadilan dan kesejahteraan guru honorer.
Baca Juga: Agar Tetap Aman Dikonsumsi, Begini Cara Menghindari Keracunan Makanan
Viral atau tidak, nasib guru seperti Pak Ribut semestinya menjadi perhatian utama agar pengabdian panjang tidak lagi dibalas dengan gaji yang tak layak.***




