POJOKSATU.id – Percakapan soal kendaraan listrik di Surabaya kini bergeser. Bukan lagi sekadar jarak tempuh atau lokasi stasiun pengisian, melainkan soal tanggung jawab lingkungan dari komponen terpentingnya, baterai.

Sejumlah universitas di Kota Pahlawan mempercepat penelitian baterai ramah lingkungan dengan pendekatan menyeluruh, mulai dari pemantauan kondisi, pemanfaatan ulang, hingga rancangan daur ulang sejak tahap desain.

Di bengkel kampus dan ruang uji, baterai tidak diperlakukan sebagai benda mati.

Baca Juga: Kisah Inspiratif Azizah Luthfia, Muslimah Produktif di Era Modern: Sukses Jalani Beragam Profesi di Tengah Padatnya Jadwal Kuliah

Ia dipahami sebagai sistem yang menua, mengalami penurunan performa, dan menyimpan risiko bila tak dikelola dengan benar.

Karena itu, riset diarahkan untuk mendeteksi degradasi sejak dini, bukan menunggu baterai rusak dan berakhir sebagai limbah berbahaya.

Salah satu contoh yang menonjol adalah proyek REVOLT yang digerakkan tim riset Electric Vehicle on Study (EVOS) di Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga.

Baca Juga: Sosok Saiful, Dedikasi 16 Tahun, Menguatkan Praktik Hipnoterapi untuk Kesehatan Mental Masyarakat

Sepanjang 2025, eksperimen dilakukan di workshop kampus dengan melibatkan mahasiswa dan dosen lintas disiplin.

Fokusnya sederhana tapi krusial: bagaimana memanfaatkan baterai bekas kendaraan listrik secara aman dan terukur.

Pendekatan yang dipakai berbasis data. Sensor suhu, arus, dan tegangan dipasang pada baterai, lalu dihubungkan dengan sistem IoT.

Baca Juga: Syarat Lengkap Pendaftaran PPPK Guru 2026, Honorer Masih Punya Peluang Besar, Ini Lengkapnya

Data real-time ini dianalisis menggunakan kecerdasan buatan untuk menilai kesehatan baterai dan memprediksi potensi gagal fungsi.

Dengan cara ini, baterai yang performanya menurun masih bisa dimanfaatkan tanpa mengorbankan keselamatan.

Kebutuhan riset semacam ini makin terasa seiring meningkatnya penggunaan motor dan mobil listrik di Surabaya.

Pertanyaannya, apakah baterai yang mulai turun kapasitasnya harus langsung diganti dan dibuang?

Baca Juga: Hipnoterapi Bisa untuk Peak Performance, Ini Rahasia Mental Atlet dan Profesional

Dari perspektif keberlanjutan, jawabannya tidak selalu.

Banyak baterai masih memiliki nilai guna, misalnya untuk kebutuhan jarak pendek atau aplikasi penyimpanan energi.

Surabaya juga diuntungkan oleh ekosistem manufaktur dan logistik di Jawa Timur.

Peluang kolaborasi dengan industri terbuka lebar, tetapi menuntut standar yang jelas.

Baca Juga: Dari AHRS ke Balap Dunia: Mario dan Veda Siap Melesat di Grand Prix 2026

Di sinilah riset kampus berperan, mulai dari penyusunan parameter kesehatan baterai, protokol uji keselamatan, hingga rekomendasi desain modul yang mudah dibongkar-pasang.

Pendekatan “design for recycling” yang juga didorong lewat kolaborasi internasional, seperti kerja sama peneliti Indonesia dan Australia, menjadi relevan.

Desain baterai sejak awal menentukan mudah atau tidaknya proses daur ulang, sekaligus mempengaruhi nilai ekonomisnya di akhir masa pakai.

Baca Juga: Info GTK Hadirkan Skema TPG Bulanan, Validasi SKTP Jadi Kunci, Guru Perlu Pahami Tahapan Agar Tak Keliru

IoT dan AI Jaga Keselamatan Baterai Bekas
Proyek REVOLT menarik perhatian karena menyatukan dua kepentingan yang sering bertabrakan: efisiensi dan keselamatan.

Keinginan memanfaatkan baterai bekas kerap terbentur kekhawatiran akan panas berlebih atau penurunan tegangan mendadak.

Melalui pemantauan berbasis IoT dan AI, risiko tersebut bisa dikendalikan.

Sistem analitik membaca pola pemakaian yang sulit dinilai secara manual.

Baca Juga: BYD Uji Ketangguhan Kendaraan Listrik Lewat Sirkuit All-Terrain Zhengzhou, Dari Off Road hingga Fast Charging 5 Menit

Ketika muncul anomali, sistem dapat memberi peringatan dini agar beban diturunkan atau baterai dijadwalkan untuk inspeksi.

Pendekatan ini membuat baterai bekas lebih layak digunakan ulang dan mengurangi pembuangan dini.

Sharing Economy Baterai untuk Tekan Limbah
Gagasan lain yang berkembang dari riset kampus Surabaya adalah penerapan sharing economy pada baterai kendaraan listrik.

Baca Juga: Sosok Machado Oposisi Venezuela yang Serahkan Hadiah Nobel Perdamaian 2025 Miliknya ke Donald Trump

Alih-alih dimiliki secara permanen, baterai bisa disewakan setelah direkondisi, dengan catatan status kesehatannya transparan dan keselamatannya terjamin.

Model sewa ini dinilai mampu menekan biaya awal pengguna sekaligus mengurangi kebutuhan produksi baterai baru.

Di sisi lain, penyedia layanan tetap memegang tanggung jawab atas pengelolaan baterai hingga akhir masa pakai, sejalan dengan prinsip tanggung jawab produsen.

Secara ekonomi, konsep ini relevan bagi segmen kurir, UMKM, dan komunitas motor listrik yang sensitif terhadap biaya.

Baca Juga: Jangan Salah Paham, Pegawai SPPG Tidak Semuanya Diangkat Jadi PPPK

Bagi lingkungan, perpanjangan siklus hidup baterai berarti pengurangan limbah elektronik dan tekanan pada rantai pasok material.

Dari Kendaraan ke Penyimpanan Energi
Ketika baterai tak lagi ideal untuk traksi kendaraan, ia masih bisa beralih peran sebagai penyimpanan energi.

Baca Juga: WADUH! Islah Bahrawi Bongkar Rahasia, Sebut Yaqut Disuruh Pergi ke Prancis Biar Enggak Hadir Ke Pansus Kouta Haji

Baterai tahap kedua ini berpotensi mendukung sistem energi terbarukan, seperti panel surya atap di rumah, fasilitas publik, atau UMKM.

Dengan sistem manajemen baterai yang tepat, biaya investasi bisa ditekan tanpa mengabaikan keselamatan.***