POJOKSATU.id - Di usia yang baru menginjak 22 tahun, seorang Azizah Luthfia telah menjalani peran yang begitu beragam dan inspiratif.
Sebagai Miss Hijab DKI Jakarta dan Duta Kampus Indonesia, ia tak hanya dikenal dengan prestasi di panggung, tetapi juga dengan kesehariannya yang penuh dedikasi.
Saat ini, Azizah adalah mahasiswi semester 5 di Institut Ummul Quro Al-Islami, dengan segudang aktivitas di luar kampus.
Dia aktif engajar sebagai guru Tahfidz di sebuah Sekolah Dasar, melatih drumband freelance di sebuah pondok pesantren di Pamijahan, Bogor, serta kerap mendapat panggilan sebagai penari, model photoshoot dan brand ambassador dari silym.hijab.
Bagi Azizah, filosofi hidupnya sederhana namun penuh makna: “Anak muda yang keren itu yang bisa menyeimbangkan hidupnya. Hidupnya balance, attitudenya baik, masih terus belajar namun tidak merasa sombong".
Prinsip inilah yang mendorongnya untuk aktif mengejar berbagai pencapaian dan pengalaman positif di luar kuliah, sehingga ia dapat terus mengikuti perkembangan zaman, baik dari segi teknologi maupun gaya hidup yang positif.
Menghadapi Stereotip dan Tantangan Manajemen Waktu
Sebagai wanita berhijab yang aktif di berbagai bidang, Azizah mengakui bahwa tantangan terbesar justru sering datang dari stereotip masyarakat.
“Banyak kegiatan yang dibatasi ketika seseorang berhijab, contohnya seperti job tari yang kebanyakan tidak memakai kerudung, begitu juga dalam dunia modeling,” ujarnya.
Baca Juga: Sosok Saiful, Dedikasi 16 Tahun, Menguatkan Praktik Hipnoterapi untuk Kesehatan Mental Masyarakat
Namun, ia memilih untuk tidak terpengaruh oleh batasan yang dilekatkan orang lain.
Baginya, kunci utama adalah menjaga marwah sebagai muslimah, menyeleksi setiap aktivitas agar tetap dalam koridor syariat, tanpa harus kehilangan semangat untuk energik menggapai mimpi.
Selain itu, kesibukan yang padat antara kuliah dan berbagai pekerjaan sampingan menuntut kemampuan manajemen waktu yang luar biasa.
Azizah harus terus berinovasi agar jadwalnya tidak bentrok dan semua tanggung jawab dapat terlaksana dengan baik.
Belajar Kesabaran dari Dunia Mengajar dan Kompetisi
Menjadi guru Tahfidz bagi anak-anak SD memberinya tantangan tersendiri. “Mengatur emosional ketika mengajar murid-murid membutuhkan kesabaran yang luas dan emosi yang stabil,” tuturnya.
Baca Juga: Hipnoterapi Bisa untuk Peak Performance, Ini Rahasia Mental Atlet dan Profesional
Jarak usia yang tidak terlalu jauh dengan siswa, serta kondisi emosi anak-anak yang masih labil, menjadi pelajaran berharga baginya untuk terus melatih kesabaran dan pengendalian diri.
Sementara itu, di panggung kompetisi seperti Miss Hijab dan Duta Kampus Indonesia, tantangannya terletak pada kemampuan adaptasi.
“Setiap ajang mempunyai kualifikasi winner yang berbeda-beda. Tantangan bagiku adalah bisa menyetarakan diri dengan finalis lain dan memposisikan diri agar masuk ke kualifikasi masing-masing ajang,” jelas Aziza.
Kemampuan ini menunjukkan sikap fleksibel dan resilien yang dimilikinya.
Bangkit dari Fase “Down” dan Kekuatan Prinsip Hidup
Perjalanan hidup Azizah tidak selalu mulus. Ia pernah mengalami fase “down” ketika mengejar cita-citanya tanpa dukungan keluarga.
Baca Juga: Dari AHRS ke Balap Dunia: Mario dan Veda Siap Melesat di Grand Prix 2026
“Pencapaian-pencapaianku tidak diberi dukungan oleh keluarga, sehingga aku berjuang sendiri di atas kaki sendiri, membangun mental sendiri,” kenangnya.
Untuk bangkit, ia berpegang teguh pada prinsip bahwa hidup adalah miliknya sendiri. Selama yang dilakukan adalah hal positif dan membawa dampak baik, ia akan terus memperjuangkannya.
Dukungan dari teman-teman terdekat menjadi pengganti kekuatan emosional yang ia butuhkan.
Pencapaian dan Pesan untuk Generasi Muda
Di antara berbagai peran yang dijalani, Azizah menyebut beberapa pencapaian yang sangat ia banggakan: menjadi Miss Hijab DKI Jakarta, Duta Kampus Indonesia, penulis buku, dan yang terpenting, mampu keluar dari zona nyaman.
“Awalnya belum bisa berani berbicara di depan orang banyak, sekarang bisa lebih berani. Menurutku, anak muda keren sekarang dilihat bukan dari good looking-nya saja, tetapi dari good thinking dan good public speaking,” tegasnya.
Baca Juga: Sosok Machado Oposisi Venezuela yang Serahkan Hadiah Nobel Perdamaian 2025 Miliknya ke Donald Trump
Azizah juga dikenal disiplin dengan wishlist tahunan, daftar pencapaian yang ingin ia raih dalam setahun. Ia percaya bahwa perencanaan yang baik adalah langkah awal untuk mewujudkan mimpi.
Kepada anak muda yang masih mencari jati diri, Aziza berpesan: “Jangan takut gagal. Karena tujuan kita mencari pengalaman itu untuk belajar, menebar manfaat, dan menambah pengalaman hidup," tegasnya.
Jadi, bagi Azizah tidak ada kata gagal karena tujuan utama adalah mencari kebaikan.
"Kita enggak pernah tau, usaha mana yang berhasil membawa kita ke puncak keberhasilan. Terutama bagi kita sebagai perempuan yang sudah jelas hanya karir dan pendidikan yang bisa menyelamatkan," sebutnya.
"Jadi setidaknya kita sudah berani berusaha dan mencoba karna sejati nya semua hal bisa jadi bagian dari perjuangan," tutupnya.
Baca Juga: ASN Jombang Dapat Perlindungan Penuh, Rp36 Miliar Disiapkan untuk BPJS PNS dan PPPK
Kisah Azizah Luthfia adalah bukti bahwa menjadi muslimah yang taat bukanlah halangan untuk aktif, kreatif, dan berkontribusi di banyak bidang.
Dengan prinsip balance, sikap positif, dan keteguhan hati, ia mengajak kita semua untuk terus belajar, berkembang, dan menebar manfaat seluas-luasnya. ***


