POJOKSATU.id - Sebuah unggahan dari Budiono Intan melalui grup Facebook Simpatika Kemenag mendadak viral setelah menampilkan kisah seorang guru yang pamit undur diri karena tak kunjung dipanggil mengikuti PPG Daljab Kemenag Batch IV.

Guru tersebut sudah bertahun-tahun mengabdi, tetapi namanya tidak pernah muncul dalam daftar pemanggilan.

Dalam kondisi putus asa, ia mencoba melamar ke Program MBG (Makan Bergizi Gratis).

Hasilnya mengejutkan, guru tersebut langsung diterima bekerja sebagai tenaga pelaksana dengan gaji Rp4 juta per bulan.

Baca Juga: DPR Sentil Proyek KopDes, Jangan Sampai 80 Ribu Gerai Cuma Jadi Tempat Kambing Nongkrong

Prosesnya cepat tanpa kerumitan panjang seperti seleksi PPG yang berlapis.

Kisah ini memicu diskusi besar tentang masa depan profesi guru dan sistem sertifikasi yang semakin membuat banyak guru kehilangan arah.

 

Guru Sudah Bertahun-tahun Menunggu PPG Tetapi Tak Pernah Terpanggil

Guru dalam kisah ini telah lama mengajar di madrasah. Ia mengikuti pendaftaran PPG setiap tahun tetapi hasilnya selalu sama.

Baca Juga: Bogor Jadi Kabupaten Termiskin Nomor 1 Versi BPS, Ara Sentil Tempat Tinggal Tokoh Nasional

Namanya tidak pernah masuk daftar pemanggilan termasuk di Batch IV tahun ini.

Penantian panjang membuatnya merasa seolah-olah tidak diakui padahal pengalaman dan pengabdiannya sudah panjang.

 

Program MBG Memberikan Jawaban Cepat yang Tidak Ditemukan di PPG

Setelah melihat peluang baru dari program pemerintah, guru tersebut mencoba mendaftar MBG.

Prosesnya sangat sederhana, daftar langsung dapat panggilan.

Interview langsung diterima, surat tugas langsung diberikan.

Gaji ditetapkan jelas yaitu Rp4 juta per bulan.

Tidak ada validasi linieritas.

Baca Juga: Gunung Semeru Erupsi, Basarnas Pastikan Kondisi Pendaki di Ranu Kumbolo

Tidak ada seleksi rumit.

Tidak ada antrean ribuan peserta. Tidak ada status “Belum Terpanggil”.

 

Komentar Guru Lain Memperlihatkan Bahwa Fenomena Ini Semakin Meluas

Unggahan Budiono Intan menunjukkan banyak guru mulai mengungkapkan pengalaman serupa.

Baca Juga: Bogor Jadi Rumah Presiden, Tapi Data BPS Bilang Warganya Paling Banyak yang Miskin, Kok Bisa?

Ada yang menunggu PPG hingga delapan tahun.

Ada yang linier tetapi tetap gagal.

Ada yang TMT lama tetapi tidak pernah dipanggil.

Ada yang merasa sistem PPG seperti tidak memberikan ruang bagi guru yang sudah mengabdi lama.

Banyak guru mulai mempertimbangkan pekerjaan lain karena merasa pendidikan tidak memberi kepastian.

Ketidakjekasan Standar PPG Menjadu Alasan Utama Guru Mudah Menyerah

Guru tidak memahami bagaimana prioritas PPG ditentukan.

TMT tidak menjamin lolos.

Prodi linier tidak menjamin lolos.

Baca Juga: Satu Triliun

Mapel agama tidak menjamin lolos.

Usia tua tidak menjamin lolos.

Banyak guru merasa sistem PPG tidak transparan karena seleksi tidak mencerminkan kriteria yang konsisten.

Baca Juga: Hari Anak Sedunia, Fakta Mengejutkan, 1 dari 9 Anak Indonesia Masih Hidup Miskin

Ketika guru tidak tahu apa yang harus diperbaiki, rasa putus asa muncul dan mereka mulai mencari peluang lain.

 

Program MBG Menjadi Pilihan Rasional Bagi Guru yang Lelah Menunggu

Program Makan Bergizi Gratis membuka banyak posisi seperti pelaksana lapangan, koordinator wilayah, pencatat data, pengawas titik sekolah, pendamping penyaluran.

Baca Juga: Laporan Dugaan Gratifikasi di Pemkab Subang Diterima KPK dan Bareskrim Polri

Semuanya tidak membutuhkan persyaratan seketat PPG. Semua memiliki gaji yang jelas.

Semua memiliki alur kerja yang pasti.

Bagi guru yang merasa masa depannya digantung PPG, MBG menjadi peluang yang lebih realistis.

Dunia Pendidikan Terancam Kehilangan Guru Berpengalaman Jika Fenomena Ini Terus Berlanjut

Jika semakin banyak guru meninggalkan madrasah karena tidak kunjung dipanggil PPG, dampaknya sangat besar.

Kualitas pembelajaran menurun.

Ketersediaan guru mapel tertentu semakin sedikit.

Baca Juga: Dekranasda Tangsel Hadirkan Tangsel Art Festival 2025, Angkat Karya Kreatif dan UMKM Lokal

Sekolah kehilangan tenaga berpengalaman.

Guru baru belum tentu memiliki keterampilan mengajar yang setara.

PPG seharusnya meningkatkan kualitas guru tetapi justru membuat banyak guru memilih keluar jalur.

 

Kisah Ini Menjadi Sinyal Keras Bahwa Sistem PPG Harus Dievaluasi Serius

Satu guru pamit adalah tragedi kecil.

Baca Juga: Serius? ASN Jabar Kini Boleh Nggak Ngantor Kalau Ibu Sakit atau Ulang Tahun! Perintah Langsung dari KDM

Sepuluh guru pamit adalah masalah besar.

Ratusan guru mulai berpindah ke MBG adalah krisis.

Kisah ini harus menjadi bahan refleksi bahwa sistem PPG yang terlalu ketat tetapi tidak transparan dapat membuat guru meninggalkan profesinya.

Kisah guru yang undur diri dari madrasah kemudian diterima dalam Program Makan Bergizi Gratis dengan proses cepat menunjukkan satu hal penting.

Guru tidak hanya membutuhkan gaji tetapi juga kepastian dan penghargaan.

PPG Daljab yang penuh ketidakjelasan membuat banyak guru merasa tidak layak padahal mereka sudah mengabdi lama.

Sementara program MBG justru memberikan kepastian cepat tanpa membuat guru merasa terbuang.

Jika kondisi ini tidak direspons serius, bukan tidak mungkin profesi guru akan ditinggalkan oleh lebih banyak orang di masa depan.***