POJOKSATU.id - Pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan sarana untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi efektif, mengembangkan kreativitas, dan ruang kolaborasi peserta didik.
Capaian pembelajaran di kelas 7 Bahasa Indonesia fase D adalah memiliki kemampuan berbahasa untuk berkomunikasi dan bernalar sesuai dengan tujuan, konteks sosial, dan akademis.
Selain itu, peserta didik mampu memahami, mengolah, dan menginterpretasikan informasi paparan tentang topik yang beragam dan karya sastra.
Berikut merupakan matriks tujuan pembelajaran dan ringkasan materi karya informasi: Surat yang sesuai dengan tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia kelas 7 Kurikulum Merdeka bab 6 semester 2.
Baca Juga: Program Ruang Baca Keliling: Akses Literasi untuk Semua Lapisan Masyarakat
Bab VI: Sampaikan dengan Surat
Tujuan Pembelajaran
1. Menganalisis isi dan tujuan dalam surat pribadi.
Peserta didik melatih kemampuannya mengakses informasi dan menganalisis tujuan penulisan surat melalui kegiatan menjawab pertanyaan secara tepat.
2. Menganalisis isi dan tujuan dalam surat resmi.
Peserta didik mengenal surat resmi dengan menganalisis bentuk, isi bahasanya dan membandingkannya dengan surat pribadi dengan baik.
3. Membedah kosakata dalam surat resmi.
Peserta didik memahami isi surat resmi dengan berlatih menggunakan kosakata baru dalam beragam konteks dengan baik.
4. Membandingkan surat pribadi dan surat resmi.
Peserta didik membandingkan surat pribadi dan surat resmi dengan menemukenali perbedaan bentuk, unsur, tujuan, serta aspek kebahasaan dalam surat pribadi dan surat resmi dengan teliti.
Baca Juga: LENGKAP! Ringkasan Materi Teks Tanggapan Bahasa Indonesia Kelas 7 Semester 2 Kurikulum Merdeka
5. Mencermati isi surat pembaca.
Peserta didik mendiskusikan perbandingan surat pembaca dan surat resmi dengan merujuk kepada informasi pendukung, yaitu aspek surat, dengan baik.
6. Mengenal kata sapaan.
Peserta didik mengenali konteks dan mitra bincang dalam kegiatan komunikasi dengan menganalisis kata sapaan untuk pembicaraan di media sosial dengan baik.
7. Menandai penggunaan pronomina dalam surat.
Peserta didik memahami unsur kebahasaan dalam surat dengan menandai penggunaan pronomina dalam surat pembaca, surat resmi, surat pribadi, dan pesan di media sosial yang telah dibacanya.
8. Mengenal kata baku dan tidak baku.
Peserta didik berkomunikasi secara tertulis dengan menulis pesan secara ringkas dan santun.
9. Membandingkan informasi di ruang bincang daring.
Peserta didik mendiskusikan analisisnya terhadap informasi di ruang bincang daring dengan memberikan saran untuk pengambilan keputusan secara kritis.
Baca Juga: Posyandu 6 Bidang SPM Didorong TP PKK untuk Diterapkan di Gedong Panjang dan Cikondang Kota Sukabumi
10. Mengidentifikasi fakta dan opini di ruang bincang.
Peserta didik mengembangkan analisis dan refleksinya dengan menulis saran untuk pengambilan keputusan secara bijak.
11. Menulis surat resmi.
Peserta didik berlatih menulis surat resmi dengan melengkapi draf surat dengan kosakata baku yang tepat.
12. Menulis surat pribadi dan menulis surat di media sosial daring.
Peserta didik berlatih berkomunikasi secara tertulis sesuai tujuan dan konteks dengan menulis surat pribadi kepada seorang sahabat menggunakan pilihan kata yang tepat dan santun.
Peserta didik berlatih berkomunikasi secara tertulis sesuai tujuan dan konteks dengan menulis surat pribadi kepada seorang sahabat di media sosial daring menggunakan pilihan kata yang tepat dan santun.
Baca Juga: Waspada! Prediksi Perubahan Passing Grade dan Pola soal SKD-SKB Sekdin 2026 Berdasarkan Tren Terbaru
Pengertian Surat
Surat merupakan bentuk komunikasi tertulis yang digunakan seseorang untuk menyampaikan pesan kepada pihak lain.
Dalam pembelajaran Bab 6, peserta didik mempelajari bahwa surat memiliki berbagai fungsi.
Surat dapat digunakan untuk memberikan informasi dan menyampaikan permintaan.
Surat juga dapat digunakan untuk menyatakan pendapat atau mengajukan permohonan.
Selain itu, surat berperan dalam menjaga hubungan personal maupun resmi.
Kurikulum Merdeka menekankan bahwa jenis surat dipilih berdasarkan tujuan komunikasi dan konteks hubungan antara penulis dan penerima.
Jenis-Jenis Surat
1. Surat Pribadi
Surat pribadi adalah surat yang dibuat untuk kepentingan personal dan ditujukan kepada orang-orang terdekat seperti keluarga atau sahabat.
Bahasa yang digunakan bersifat bebas dan santai karena tidak terikat aturan ketat.
Isi surat pribadi biasanya berupa obrolan hangat, cerita pribadi, ungkapan perasaan, atau tujuan tertentu.
Penggunaan sapaan akrab menjadi ciri khasnya.
2. Surat Resmi
Surat resmi digunakan untuk kepentingan kedinasan atau kelembagaan, seperti sekolah, organisasi, atau instansi pemerintah.
Bahasa yang digunakan harus baku, jelas, dan formal, serta mengikuti struktur baku yang telah ditetapkan.
Dalam banyak kasus, surat resmi dilengkapi dengan kop surat dan ditulis untuk tujuan tertentu seperti pemberitahuan, undangan, permohonan, atau laporan.
Surat pribadi dan surat resmi memiliki perbedaan yang jelas.
Baca Juga: Penuntasan TBC Sukabumi Jadi Fokus Ayep Zaki Lewat Kampanye Sehat dan Pemeriksaan Kesehatan
Surat pribadi bertujuan mempererat hubungan personal dan menggunakan bahasa santai dengan struktur bebas.
Sebaliknya, surat resmi ditulis untuk kepentingan formal dengan bahasa baku dan struktur yang lengkap.
Sapaan dalam surat pribadi bersifat akrab, sedangkan surat resmi menggunakan sapaan formal.
Penggunaan pronomina dalam surat resmi juga lebih terikat pada kesopanan dan formalitas.
Struktur Surat
1. Struktur Surat Pribadi
Surat pribadi biasanya dimulai dengan penulisan tempat dan tanggal.
Setelah itu, surat dilanjutkan dengan salam pembuka.
Paragraf pembuka kemudian berisi sapaan atau pertanyaan tentang kabar penerima.
Isi surat ditulis setelahnya, berisi inti pesan yang ingin disampaikan.
Pada bagian akhir, penulis menutup dengan salam penutup diikuti nama atau tanda tangan.
2. Struktur Surat Resmi
Surat resmi memiliki struktur yang lebih lengkap.
Surat diawali dengan kop surat, kemudian memuat tanggal penulisan, nomor surat, lampiran, dan perihal.
Setelah itu, penulis mencantumkan alamat tujuan, salam pembuka yang formal, serta isi surat yang disusun secara sistematis mulai dari pembuka, isi pokok, hingga penutup.
Surat resmi adalah ditutup dengan salam formal, nama terang, tanda tangan, jabatan pengirim, dan stempel lembaga jika diperlukan.
Baca Juga: Jangan Salah Paham! Ini Fakta Sebenarnya Soal Lokasi Keberminatan PPG Calon Guru 2025
Kaidah Kebahasaan Surat
Penggunaan pronomina dalam surat harus menyesuaikan konteks.
Surat resmi menggunakan kata ganti formal seperti “kami” atau “Bapak/Ibu,” sementara surat pribadi menggunakan kata ganti yang lebih akrab seperti “aku” atau “kamu.”
Dalam surat resmi, seluruh kata harus baku, sedangkan surat pribadi lebih fleksibel namun tetap santun.
Kata sapaan pun berbeda sesuai jenis surat, sapaan formal digunakan dalam surat resmi, sementara sapaan santai digunakan dalam surat pribadi atau media sosial.
Dalam surat resmi, terdapat banyak kosakata khas seperti permohonan, melampirkan, atau sehubungan dengan.
Baca Juga: Penuntasan TBC Sukabumi Jadi Fokus Ayep Zaki Lewat Kampanye Sehat dan Pemeriksaan Kesehatan
Cara Menulis Surat Resmi
Ketika menulis surat resmi, peserta didik perlu menentukan tujuan surat terlebih dahulu.
Bahasa baku digunakan dalam keseluruhan isi surat.
Penulis juga harus memastikan bahwa semua unsur wajib seperti nomor surat, perihal, lampiran, dan alamat tujuan terisi dengan lengkap.
Isi surat disusun dengan jelas, ringkas, dan sopan.
Bagian akhir surat ditutup dengan salam formal seperti “Hormat kami,” disertai nama terang dan tanda tangan.
Baca Juga: Warga Sukmajaya Ditantang Bikin Video Konten Kreatif, Pendaftaran Dibuka hingga 29 November 2025
Cara Menulis Surat Pribadi
Untuk menulis surat pribadi, peserta didik menggunakan sapaan yang akrab dan sesuai konteks kedekatan dengan penerima.
Isi surat ditulis secara santai dan personal, namun tetap memperhatikan kesantunan.
Surat pribadi dapat berisi cerita, perasaan, atau tujuan tertentu yang ingin disampaikan.
Pada bagian akhir, penulis menutup surat dengan salam yang hangat dan ramah.
Menulis Surat di Media Sosial
Dalam komunikasi digital, peserta didik belajar menjaga etika dalam menyampaikan pesan.
Bahasa yang digunakan boleh informal tetapi tetap santun.
Peserta didik diingatkan untuk menghindari ujaran kebencian, kata kasar, atau singkatan yang berlebihan.
Mereka juga mempelajari penggunaan pronomina sesuai lawan bicara, menjaga privasi, serta membedakan fakta dan opini ketika berkomunikasi daring.
Kegiatan ini menguatkan kemampuan berpikir kritis dan literasi digital.
Baca Juga: Warga Sukmajaya Ditantang Bikin Video Konten Kreatif, Pendaftaran Dibuka hingga 29 November 2025
Menganalisis Fakta, Opini, dan Isi Surat
Peserta didik dilatih untuk menemukan tujuan penulisan suatu surat dan memahami perbedaan bentuk surat pribadi, resmi, dan surat pembaca.
Mereka menganalisis unsur-unsur surat seperti bahasa, struktur, dan penggunaan pronomina untuk membandingkan jenis-jenis surat tersebut.
Selain itu, peserta didik juga mempelajari cara membedakan fakta dan opini dalam percakapan atau surat di ruang digital.
Menulis Surat Pembaca
Pada bagian ini, peserta didik mengenal surat pembaca sebagai wadah untuk menyampaikan pendapat, kritik, atau aspirasi kepada media massa.
Bahasa yang digunakan harus jelas, sopan, dan kritis.
Mereka juga membandingkan surat pembaca dengan surat resmi untuk memahami perbedaan struktur dan gaya bahasanya.
Baca Juga: Ramalan Formasi Sekolah Kedinasan 2026 Kebutuhan ASN Meningkat, Tapi Apa Saja Lokasi Utamanya?
Materi Bab 6 membekali peserta didik kemampuan untuk memahami dan menulis berbagai jenis surat, baik formal maupun informal.
Melalui kegiatan membaca, menganalisis, membandingkan, dan menulis, peserta didik diharapkan mampu berkomunikasi secara efektif sesuai konteks dalam kehidupan sehari-hari maupun ruang digital.
Pelajarilah dengan baik ringkasan materi tersebut supaya lebih memahami materi mengenai surat.
Jangan ragu untuk bertanya pada guru jika ada hal yang belum dipahami.***




