POJOKSATU.id - Seorang dosen Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM), Profesor Solehah Yacoob, tengah jadi sorotan setelah pernyataannya soal asal-usul teknologi kapal kuno viral di media sosial.

Ia mengklaim bahwa bangsa Romawi kuno belajar membuat kapal dari masyarakat Kepulauan Melayu.

"Hipotesis saya bersumber dari literatur Arab klasik, menyatakan bangsa Romawi mendapatkan sebagian keterampilan membuat kapal dari masyarakat Kepulauan Melayu," ujar Solehah dalam unggahan Facebook pada 9 November, yang kemudian dikutip luas berbagai media regional.

Baca Juga: Transjakarta Diguncang Kasus Pelecehan Seksual, Pelaku Hanya Dapat SP2

Menurutnya, masyarakat Melayu di masa lampau memiliki peradaban maritim yang lebih maju dibanding bangsa Eropa yang lebih terbiasa hidup di daratan.

Klaim itu awalnya disampaikan dalam kuliah umum di sebuah masjid di Selangor pada 31 Desember 2022.

Namun, video rekamannya baru viral setelah diunggah ke kanal YouTube Nota Kuliah pada 31 Oktober 2025 dan ditonton lebih dari 27 ribu kali.

Baca Juga: Menuju Indonesia Emas 2045, Ini 8 Jurusan Prioritas Beasiswa LPDP yang Wajib Kamu Ketahui

Menuai Kritik dan Lelucon
Pernyataan tersebut memicu gelombang perdebatan di dunia maya Malaysia. Banyak pengguna media sosial menanggapinya dengan skeptis, bahkan menjadikannya bahan lelucon dan meme.

Namun, meski jadi bulan-bulanan warganet, Profesor Solehah tetap kukuh mempertahankan pandangannya.

Ia menegaskan bahwa perbedaan pandangan harus dihormati, baik dalam tradisi akademik maupun dalam nilai-nilai Islam.

"Saya hanya ingin membuka ruang dialog tentang sejarah yang sering kali ditulis sepihak," katanya.

Baca Juga: Cek Ijazah Kini Gampang Banget! Begini Cara Verifikasi Resmi Lewat PISN dan SatuDikti

Namun, kalangan akademisi menilai klaim semacam ini berbahaya karena berpotensi menyesatkan publik dan merusak kredibilitas ilmiah perguruan tinggi di Malaysia.

Sorotan Tajam Dunia Akademik
Pada 10 November, peneliti independen Sharifah Munirah Alatas bahkan menyerukan penarikan artikel ilmiah tahun 2018 di Jurnal Al-Tamaddun yang diduga ditulis oleh Solehah.

Artikel tersebut mengutip sumber dari situs satir Amerika, The Onion, dan menyebut peradaban Yunani kuno sebagai "hasil rekayasa sejarah".

Baca Juga: Harapan Baru PPPK, Tanpa Tes Ulang, Bisa Jadi PNS dan Dapat Pensiun dalam Revisi UU ASN

Kritik juga datang dari Profesor Emeritus Wan Ramli Wan Daud dari Universiti Kebangsaan Malaysia yang menilai tidak ada bukti historis mendukung klaim tersebut. “Kalau tidak berbasis bukti, itu bukan riset akademik, tapi cerita rakyat,” ujarnya.

Pihak IIUM sendiri menyampaikan penyesalan atas pernyataan dosennya itu. Mereka menegaskan bahwa pendapat tersebut disampaikan dalam kapasitas pribadi, namun tetap dianggap mencoreng nama baik universitas.

Asosiasi Staf Akademik IIUM bahkan mendorong adanya penegakan disiplin bagi dosen yang melanggar etika dan profesionalisme.

Baca Juga: Kapan Pendaftaran KIP Kuliah 2026 Dibuka? Simak Jadwal dan Besaran Bantuan agar Tak Ketinggalan!

Pemerintah Turun Tangan
Menteri Pendidikan Tinggi Malaysia, Zambry Abdul Kadir, turut angkat bicara. Ia mengimbau para akademisi agar berhati-hati dan tidak berbicara di luar bidang keahlian mereka.

“Kredibilitas akademik harus dijaga. Ilmu itu bukan untuk sensasi,” tegasnya.

Kasus Profesor Solehah menambah daftar panjang kontroversi ilmiah di negeri jiran.

Sebelumnya pada 2024, Universiti Putra Malaysia (UPM) juga dikritik karena keliru mengidentifikasi kapal Tiongkok sebagai kapal Melayu.

Baca Juga: Honorer Diangkat PPPK Paruh Waktu Mulai 2026, Ada Aturan Pindah Instansi

Bahkan pada 2018 dan 2013, sejarawan Zaharah Sulaiman sempat menuai kecaman atas klaimnya soal asal-usul gen Melayu dan dugaan "invasi selatan" oleh migran Tionghoa.

Peristiwa ini menjadi pengingat, dunia akademik bukan sekadar ruang untuk klaim, tapi untuk kebenaran yang teruji dan terbuka terhadap kritik. ***