POJOKSATU.id — Universitas Jenderal Sudirman (Unsoed) kembali mencuri perhatian lewat inovasi varietas padi unggul bernama PROTANI atau Pro Petani.

Dikembangkan oleh tiga dosen Fakultas Pertanian, yakni Prof. Totok Agung, Dyah Susanti, dan Agus Riyanto, varietas ini menjadi bukti nyata bagaimana riset kampus mampu menjawab tantangan dunia pertanian Indonesia.

Melalui unggahan video di akun resmi @unsoedofficial_1963, PROTANI digambarkan sebagai padi yang mudah ditanam, tahan hama, hasil panen melimpah, dan mampu tumbuh di lahan kering.

Baca Juga: SKTP Terbit Tapi TPG Triwulan 3 Masih Belum Dicairkan? Ini Lho Ternyata 4 Hal yang Jadi Penyebabnya!

“Bayangkan padi yang gampang ditanam, tahan serangan hama, hasil panen melimpah, bahkan bisa tumbuh di lahan kering. Itulah PROTANI, inovasi padi unggul dari Unsoed, Pro Petani,” demikian narasi dalam video tersebut.

Padi Unggul Hasil Persilangan Ciherang dan Milky Rice

Varietas PROTANI merupakan hasil persilangan antara Ciherang dan padi Milky Rice.

Baca Juga: Kabar Terbaru Pencairan TPG 2025: Daftar Lengkap Daerah yang Sudah Terima Dana TPG Triwulan III

Resmi dilepas melalui SK Menteri Pertanian Tahun 2020, PROTANI dikenal memiliki daya adaptasi luas, potensi hasil tinggi, serta kandungan protein yang lebih besar dibanding padi biasa.

Menurut Prof. Totok Agung, inovasi ini menjadi jawaban atas tantangan perubahan iklim dan keterbatasan air yang sering dihadapi petani.

“Sebenarnya ini adalah padi gogo, jadi menanamnya tidak harus menggunakan irigasi. Air hujan sudah cukup untuk mendukung pertumbuhan tanaman,” ujarnya dalam video yang sama.

Baca Juga: Kemendikdasmen Mulai Validasi Tahap 4, TPG Juli–September 2025 Segera Ditransfer

Sudah Ditanam di 15 Provinsi

Kini, benih PROTANI telah menyebar ke 15 provinsi di Indonesia, termasuk Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, hingga Kalimantan Timur.

Salah satu daerah yang merasakan manfaatnya adalah Desa Panembangan, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Pengalaman Petani: Panen Lebih Banyak, Tanam Lebih Efisien

Baca Juga: Pertamuda Seed and Scale 2025: Lahirkan Generasi Wirausaha Muda Berdaya Saing Global

Seorang petani minapadi, Narsun, menceritakan bahwa hasil tanam PROTANI jauh lebih baik dibanding padi sebelumnya.

“Dulu satu petak sawah paling menghasilkan 25 sampai 30 malai per rumpun. Sekarang dengan PROTANI bisa sampai 40. Umur 70 hari saja sudah terlihat lebih hijau dan subur,” ungkapnya.

Petani lainnya, Budi, menambahkan bahwa produktivitasnya meningkat signifikan.

Baca Juga: Puluhan Rumah Rusak di Terjang Angin Puting Beliung di Cirebon

“Biasanya kami hanya dapat 6 sampai 7 ton per hektare. Dengan PROTANI sistem salibu, kami bisa panen 7 sampai 9 ton. Tanam sekali, tapi bisa panen dua sampai tiga kali,” ujarnya.

Keberhasilan tersebut membuat tim Unsoed semakin bersemangat untuk terus mendampingi petani desa.

“Cerita dari Pak Narsun membawa kebahagiaan bagi kami untuk terus melahirkan ide-ide baru. Kami ingin hadir langsung di tengah desa, memberikan solusi untuk permasalahan ketahanan pangan,” kata Prof. Totok Agung.

Sinergi dengan TNI dan Pemerintah Daerah

Selain di tingkat petani, PROTANI juga menjadi bagian dari kerja sama antara Unsoed dan Korem 071 Wijayakusuma.

Baca Juga: Inilah Tiga Tokoh Legendaris Keuangan Dunia, Pemikirannya Mengejutkan, Yuk Kenali Lebih Dekat

Selama empat tahun terakhir, varietas ini ditanam secara berkelanjutan dan menjadi salah satu komoditas unggulan ketahanan pangan Kodam IV/Diponegoro.

Bahkan, PROTANI pernah ditampilkan di tingkat nasional pada HUT TNI Tahun 2024 sebagai salah satu inovasi pertanian strategis buatan anak bangsa.

Dukungan Pemerintah Desa Panembangan

Sekretaris Desa Panembangan, Anggoro Agus Triyono, menyampaikan apresiasi kepada Prof. Totok dan tim Unsoed atas kontribusinya memperkenalkan PROTANI ke wilayahnya.

Baca Juga: Buntut Sidak KDM ke Pabrik Aqua Subang, Inilah Respon Sejumlah Pihak, dari Walhi, BPKN, hingga Anggota DPR

Menurutnya, varietas ini terbukti memberikan hasil signifikan dibanding padi lain.

“Protani ini bisa dipakai untuk salibu, jadi tanam satu kali tapi panen bisa dua sampai tiga kali,” ujarnya.

Ia menambahkan, rata-rata hasil panen mencapai 7–9 ton per hektare, meningkat dari varietas sebelumnya yang hanya 6–7 ton per hektare.

“Ini merupakan prestasi buat kami, dan insya Allah akan kami pertahankan. Di tahun kedua ini kami akan melanjutkan kegiatan penanaman Protani salibu di lahan petani desa kami,” katanya.

Baca Juga: Tinggal Dekat Pabrik Aqua Subang, Warga Desa Darmaga Kesulitan Air Bersih, hingga Harus Beli

Varietas padi PROTANI menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi riset perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan petani bisa menghasilkan inovasi yang berdampak luas.

Selain memperkuat ketahanan pangan nasional, PROTANI juga membuka harapan baru bagi kesejahteraan petani lokal di Banyumas dan sekitarnya. ***