POJOKSATU.id — Inovasi baru kembali lahir dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Melalui Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Pendidikan Teknologi dan Industri (FPTI), tim dosen berhasil mengembangkan alat penjernih limbah cair elektroplating yang tak hanya efektif dan ekonomis, tetapi juga ramah lingkungan.
Terobosan ini merupakan hasil program hilirisasi penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (PKM) yang berlangsung sejak Juni hingga September 2025.
Tujuannya sederhana tapi penting: membantu pelaku usaha kecil dan industri rumahan pengrajin logam dalam mengelola limbah berbahaya agar tidak mencemari lingkungan.
Baca Juga: WaveGuard Madura dari UTM Raih Juara Dunia Lewat Inovasi Smart Buoy, Turut Jaga Laut Indonesia
Tim ini diketuai oleh Dr. Ir. Agus Solehudin, S.T., M.T., IPM., bersama Haipan Salam, S.Si., M.Si., Ph.D., dan Drs. Enda Permana, M.Eng.
Mereka merancang sistem penjernih yang mampu menurunkan kadar ion logam beracun dalam limbah elektroplating.
Limbah elektroplating dikenal sulit diolah karena mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) serta memerlukan biaya tinggi untuk penanganannya.
Melalui inovasi ini, proses pengolahan limbah bisa dilakukan lebih aman, praktis, dan hemat tanpa mengabaikan standar kelestarian lingkungan.
“Limbah elektroplating bila tidak diolah dengan benar dapat mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan.
Teknologi ini kami rancang agar para pengrajin dapat mengolah limbah secara sederhana dan efisien,” ujar Dr. Agus Solehudin.
Baca Juga: Bagong’s Smart, Inovasi Anak Unnes Bantu Tunanetra Menulis Aksara Jawa
Sementara itu, Haipan Salam menambahkan bahwa pengembangan alat ini juga mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Income Generating Unit (IGU) universitas.
“Kami ingin riset kampus benar-benar berdampak pada masyarakat dan dunia industri kecil,” jelasnya.
Pengembangan alat dilakukan di laboratorium UPI, kemudian diimplementasikan bersama CV Sinar Cemerlang Jaya, mitra industri di Gedebage, Bandung.
Kerja sama ini memastikan alat berfungsi optimal di lapangan dan diperkuat dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Dekan FPTI UPI dan pimpinan CV Sinar Cemerlang Jaya.
Langkah tersebut menjadi bentuk nyata sinergi antara dunia akademik dan dunia usaha.
Hasil uji coba di lapangan menunjukkan capaian menggembirakan.
Konsentrasi ion logam dalam limbah berkurang dari 745 ppm menjadi 521 ppm.
pH limbah juga menjadi lebih stabil, dari 8,0 ke 7,2, sementara konduktivitas menurun dari 1200 S menjadi 925 S.
Data tersebut menegaskan efektivitas alat dalam menurunkan tingkat toksisitas limbah sekaligus menjaga kualitas air buangan agar tetap aman bagi lingkungan.
Pimpinan CV Sinar Cemerlang Jaya, Ir. Numan Basir, turut menyampaikan apresiasinya.
“Alat ini sangat membantu industri kecil dalam pengolahan limbah. Selain mudah digunakan, hasilnya juga jauh lebih ramah lingkungan dan hemat biaya,” ujarnya.
Lebih dari sekadar solusi teknis, inovasi ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Terutama SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak, serta SDG 12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Melalui alat ini, pelaku industri kecil didorong untuk mengelola limbah secara berkelanjutan, efisien, dan sesuai standar lingkungan.
Lebih jauh, pengembangan alat ini menjadi bukti nyata komitmen UPI dalam menghadirkan riset terapan yang solutif dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Dengan menggabungkan kekuatan akademik, kebutuhan praktis industri, dan orientasi pada keberlanjutan lingkungan, Fakultas Pendidikan Teknologi dan Industri UPI terus memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan teknologi tepat guna yang inovatif dan berdaya saing global. ***




