POJOKSATU.id — Mungkinkah penyandang tunanetra bisa membaca dan menulis aksara Jawa seperti bentuk aslinya?

Pertanyaan yang terdengar mustahil itu kini terjawab berkat inovasi mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Empat mahasiswa, yaitu Risywan Taufiq, Muhammad Sulhanul Hilma, Irwan Ali Prasetyo, dan Muhamad Taufiqi, berhasil menghadirkan solusi lewat inovasi bernama Bagong’s Smart.

Proyek ini dikembangkan di bawah bimbingan dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa, Fakultas Bahasa dan Seni Unnes, Dr. Nur Hanifah Insani, S.Pd., M.Pd.

Baca Juga: Media Israel Tulis Prabowo Batal ke Sana Gara-gara Rencana Itu Bocor ke Pers, Kini Selamatkan Muka

Inovasi ini lahir melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) dengan dukungan dana hibah dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Ditjen Pendidikan Tinggi, Kemendikbudristek.

Produk ini menjadi bentuk nyata pelestarian aksara Jawa yang inklusif dan adaptif terhadap kemajuan teknologi.

Website Bagong’s Smart hadir sebagai media pembelajaran menulis aksara Jawa yang ramah bagi penyandang tunanetra, memungkinkan mereka mengenal dan mempelajari bentuk aksara Jawa sesuai aslinya, bukan hanya melalui huruf braille.

Baca Juga: Pendaftaran Segera Ditutup, Peserta Program Magang Nasional 2025 Terima Upah UMK, 1.000 Perusahaan Sudah Buka Peluang

Makna di Balik Nama Bagong

Nama Bagong ternyata memiliki filosofi tersendiri. Istilah ini merupakan singkatan dari Bridging Aksara Jawa with Games for Outstanding New Generation.

Menurut Risywan Taufiq, nama tersebut menggambarkan semangat tim PKM-RSH untuk menjembatani literasi aksara Jawa bagi generasi baru, termasuk para penyandang tunanetra.

“Website Bagong’s Smart kami kembangkan sebagai media pembelajaran agar siswa tunanetra bisa mengenal pola penulisan aksara Jawa sesuai bentuk aslinya,” ujar Risywan.

Selama ini, para tunanetra hanya mengenal huruf braille aksara Jawa dan belum pernah memahami bentuk visual aslinya.

Karena itu, tim melakukan uji coba penggunaan website Bagong’s Smart di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Semarang pada 8 Oktober 2025 lalu.

Dimulai Guru Diteruskan Siswa

Dalam pelaksanaannya, tim memulai sosialisasi kepada guru kelas tunanetra sebelum mengenalkannya kepada siswa.

Langkah ini dilakukan agar para guru memahami cara penggunaan dan manfaat website dalam proses pembelajaran.

Muhammad Sulhanul Hilma menuturkan, sambutan para siswa tunanetra sangat positif. “Mereka antusias mencoba menulis aksara Jawa lewat panduan website,” ujarnya.

Tak hanya belajar menulis, para siswa juga tertarik mengenal beragam makanan tradisional Jawa yang menjadi bagian dari konten pembelajaran di dalam website.

Dosen pembimbing, Dr. Nur Hanifah Insani, menyebut Bagong’s Smart sebagai media pembelajaran yang benar-benar ramah bagi penyandang disabilitas tunanetra.

Dalam proses pengembangannya, tim juga mempertimbangkan fitur-fitur yang mempermudah akses pengguna.

Teknologi Budaya dalam Satu Platform

Anggota tim lainnya, Muhamad Taufiqi, menjelaskan bahwa Bagong’s Smart dirancang dengan integrasi permainan berbasis tantangan.

Tujuannya agar para pengguna tunanetra dapat merasakan suasana belajar yang menyenangkan dan interaktif.

Aksara Jawa yang digunakan pun memakai model penulisan mbata sarimbag atau cetakan bata.

“Model ini cenderung kubistis dan sederhana, sehingga efektif untuk membantu tunanetra belajar menulis aksara Jawa,” jelasnya.

Sementara itu, Irwan Ali Prasetyo menambahkan bahwa website ini juga membawa nuansa budaya lewat kuliner tradisional Jawa.

“Setiap nama makanan dilengkapi dengan audio deskripsi, sehingga pengguna tunanetra bisa memvisualisasikan bentuk dan rasa dari makanan tersebut,” ungkapnya.

Inovasi Bagong’s Smart bukan hanya membantu siswa tunanetra memahami aksara Jawa, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara lewat pendekatan yang inklusif dan berbasis teknologi. ***