POJOKSATU.id — Bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti zaman.
Salah satu buktinya, kata-kata gaul yang dulunya hanya digunakan di kalangan anak muda kini telah resmi tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Kata "enggak" misalnya, semula dianggap sebagai bahasa percakapan santai, kini sudah sah tercatat menjadi bagian dari bahasa resmi.
Baca Juga: WAJIB TAU! 5 Nilai Strategis untuk Mahasantri dari Muktamar BEM Pesantren ke-5 di Darunnajah
Hal ini membuktikan bahwa bahasa tidak bersifat kaku, melainkan dinamis dan selalu bergerak mengikuti perkembangan sosial budaya serta penuturnya.
Apa Itu Kata "Enggak"?
"Enggak" adalah bentuk tidak baku dari kata “tidak”.
Penggunaannya begitu populer dalam percakapan sehari-hari, bahkan lebih sering dipilih karena terdengar lebih santai dan akrab. Misalnyya, dalam percakapan:
"Mau ikut jalan?"
"Enggak, aku lagi capek."
Meski dulu dianggap tidak formal, intensitas pemakaiannya yang sangat tinggi membuat kata ini akhirnya diakui KBBI.
Mengapa Kosakata Gaul Masuk KBBI?
Baca Juga: Bantuan PKH Juli—September 2025 Sudah Cair! Jangan Sampai Salah, Begini Proses Pencairannya
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menetapkan sejumlah syarat sebelum memasukkan kata ke KBBI, salah satunya tingginya frekuensi penggunaan.
Kosakata gaul seperti "enggak", "alay", dan "kepo" muncul dari percakapan sehari-hari, lalu meluas melalui media sosial, televisi, hingga karya populer.
Menurut para ahli bahasa, hal ini menunjukkan bahwa bahasa adalah cerminan masyarakatnya.
Baca Juga: Siswi Paskibraka Madina Dibunuh dan Dikubur di Kebun Sawit, Teman Korban Beri Penghormatan Terakhir
Jika sebuah kata sering dipakai dan dipahami banyak orang, maka kata tersebut pantas diakui sebagai bagian dari bahasa resmi.
Dengan begitu, KBBI tetap relevan dan bisa menjembatani generasi tua maupun muda.
Ragam Kosakata Gaul yang Kini Resmi di KBBI
- Alay
Menggambarkan gaya hidup berlebihan demi menarik perhatian. Istilah ini kadang juga disebut akronim dari "anak layangan".
Baca Juga: Serikat Mahasiswa Muslimin Kecam Oknum Aparat Polres Seruyan Kalteng yang Represif ke Masyarakat
"Foto selfie-nya alay banget sampai penuh filter bunga-bunga."
"Gaya berpakaian Dita dulu sering dianggap alay, tapi sekarang justru jadi tren."
- Kepo
Dari akronim bahasa Inggris Knowing Every Particular Object. Maknanya dalam KBBI adalah rasa ingin tahu yang berlebihan.
Baca Juga: Motif Pelaku Pembunuhan Siswi SMAN 1 Natal Madina, Cuma Ingin Curi Sepeda Motor Korban?
"Aku kepo deh, siapa yang ngirim bunga ke meja kamu tadi pagi?"
"Dia langsung kepo begitu tahu ada gosip baru di kampus."
- Cie
Kata ini tentu tidak asing bagi kalian. Kata seru ini dipakai untuk menggoda atau memuji seseorang agar tersipu.
“Cie, udah mulai rajin olahraga nih sekarang.”
“Cie, ketahuan lagi chat sama gebetan.”
- Oalah
Ekspresi yang muncul saat terkejut atau menyadari sesuatu. Wah, ternyata kata ini sudah resmi masuk KBBI.
"alah, jadi kamu yang bikin heboh grup semalam."
"Oalah, ternyata kuncinya dari tadi ada di saku celanaku sendiri."
- Oppa
Siapa yang suka menonton drama Korea?
Oppa merupakan sapaan populer dari budaya Korea yang kini juga akrab di Indonesia.
Kata ini digunakan perempuan untuk memanggil pria lebih tua yang dekat dengannya.
"Oppa, tolong dong ajarin aku bikin kimchi."
"Dia sering manggil kakak tingkatnya oppa karena hobi nonton drama Korea."
Sekarang jadi bisa panggil gebetan dengan sebutan "oppa" walau bukan orang Korea.
- Gebetan
Ternyata "gebetan" juga sudah resmi ada di KBBI.
Istilah ini berarti seseorang yang sedang dikagumi atau disukai.
"Sekarang dia punya gebetan baru yang satu kelas dengannya."
"Rina sering senyum-senyum sendiri kalau lagi chat sama gebetan."
- Meme
Cuplikan gambar, potongan acara TV, atau film yang diberi tulisan lucu untuk menghibur.
"Aku ngakak lihat meme ttentang ujian online kemarin."
Baca Juga: Ibu Korban soal Siswi SMAN 1 Natal Madina yang Ditemukan Tewas Terkubur: Mamak Kangen
"Banyak meme lucu soal cuaca panas beredar di media sosial."
Bahasa Indonesia yang Dinamis dan Dekat dengan Generasi Muda
Masuknya kosakata gaul ke KBBI bukan sekadar formalitas, melainkan wujud pengakuan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang hidup.
Ia menyerap perubahan sosial, budaya, bahkan tren global.
Dengan begitu, generasi muda merasa bahasa Indonesia tetap akrab, dekat, dan mewakili cara mereka berkomunikasi sehari-hari.
Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga identitas dan cermin perkembangan zaman.
Jadi, jangan heran bila ke depan semakin banyak kosakata gaul lain yang ikut tercatat di KBBI.
Tetap ikuti perkembangannya, jangan takut disebut "ikut-ikutan".***




