POJOKSATU.id — Pernah melihat seseorang yang tampak selalu tenang, percaya diri, dan mampu menghadapi berbagai persoalan, tetapi ternyata sedang mengalami banyak tekanan?

Kondisi seperti ini kerap dikaitkan dengan istilah Duck Syndrome.

Duck Syndrome merupakan istilah populer yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi sebenarnya sedang berusaha keras menghadapi tekanan atau berbagai kesulitan yang tidak terlihat oleh orang lain.

Istilah tersebut menggunakan perumpamaan seekor bebek yang sedang berenang.

Baca Juga: Merambat Ratusan Kilometer, BMKG Duga Erupsi Gunung Anak Krakatau Terkait Suara Dentuman Bandung

Dari permukaan, gerakan bebek terlihat tenang dan seolah tidak mengalami kesulitan.

Namun, di bawah permukaan air, kaki bebek terus bergerak agar tubuhnya tetap mengapung dan dapat bergerak maju.

Gambaran tersebut kemudian digunakan untuk menjelaskan kondisi seseorang yang terlihat mampu menjalani kehidupan dengan baik, sementara di baliknya terdapat perjuangan yang mungkin tidak diketahui orang lain.

Seseorang yang mengalami tekanan seperti yang digambarkan dalam Duck Syndrome dapat menunjukkan sejumlah perilaku tertentu.

Baca Juga: Tel-U Buka Fakultas Kedokteran di Bandung, Ada Beasiswa Penuh dan Asrama

Misalnya, seseorang terlihat memiliki prestasi yang baik di sekolah atau kampus, aktif mengikuti berbagai kegiatan, serta mampu menjalankan tanggung jawabnya.

Di sisi lain, orang tersebut mungkin merasa kewalahan, takut gagal, cemas terhadap ekspektasi orang lain, atau merasa harus terus mempertahankan citra bahwa dirinya baik-baik saja.

Ada pula orang yang terbiasa menyembunyikan kesulitan karena tidak ingin dianggap lemah atau tidak mampu menghadapi masalah.

Kondisi tersebut membuat orang di sekitarnya terkadang tidak menyadari bahwa sebenarnya ada tekanan yang sedang dihadapi.

Tekanan untuk mendapatkan hasil terbaik dapat menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang berusaha menunjukkan bahwa dirinya mampu menangani semuanya.

Lingkungan sekolah, kampus, pekerjaan, keluarga, hingga media sosial juga dapat membuat seseorang merasa perlu memenuhi standar tertentu.

Baca Juga: Aset Eks Kepala BGN Disita Rp8,43 Miliar, Kasus Korupsi MBG Makin Melebar

Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain juga bisa memperkuat perasaan tersebut. Ketika melihat pencapaian orang lain, seseorang mungkin merasa kehidupannya harus terlihat sama suksesnya.

Padahal, apa yang terlihat di luar belum tentu menggambarkan kondisi seseorang secara keseluruhan.

Perlu diketahui bahwa Duck Syndrome bukan diagnosis gangguan mental resmi.

Istilah ini lebih banyak digunakan untuk menggambarkan fenomena ketika seseorang terlihat mampu menghadapi kehidupan, tetapi sebenarnya sedang mengalami tekanan yang cukup besar.

Baca Juga: 'Rakyat akan Mengutuk Saya': Pidato Prabowo Viral Lagi, Ucapannya Kini Jadi Bumerang

Oleh karena itu, seseorang tidak bisa langsung dianggap mengalami gangguan mental hanya karena menunjukkan beberapa ciri yang berkaitan dengan istilah tersebut.

Namun, tekanan yang terus berlangsung tetap perlu diperhatikan, terutama apabila mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.

Penampilan luar seseorang tidak selalu menunjukkan apa yang sedang dirasakannya.

Orang yang terlihat ceria, berprestasi, atau selalu membantu orang lain juga dapat menghadapi berbagai tekanan yang tidak mereka ceritakan.

Baca Juga: Febrie Adriansyah Dicecar 50 Pertanyaan Selama 10 Jam, Kasus TPPU Masuk Babak Baru

Karena itu, penting untuk membangun kebiasaan saling mendengarkan dan tidak langsung menilai seseorang hanya berdasarkan pencapaiannya.

Jika seseorang merasa tekanan yang dialaminya mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, tidur, belajar, hubungan sosial, atau kesehariannya, mencari dukungan dari orang yang dipercaya maupun tenaga profesional dapat menjadi salah satu langkah yang membantu.

Pada akhirnya, terlihat kuat bukan berarti seseorang harus menghadapi semua masalah seorang diri.***