POJOKSATU.id — Job crafting adalah upaya yang dilakukan karyawan secara proaktif untuk menyesuaikan atau mengubah beberapa aspek pekerjaannya agar terasa lebih bermakna, menarik, dan sesuai dengan kemampuan, minat, maupun nilai yang dimiliki.

Penyesuaian tersebut dilakukan tanpa harus berganti jabatan atau berpindah pekerjaan.

Konsep ini berfokus pada bagaimana seseorang dapat membentuk pengalaman kerjanya sendiri melalui perubahan kecil yang tetap sejalan dengan tanggung jawab serta tujuan organisasi.

Baca Juga: Sedih, Tangisan Bocah Perempuan di Bali Ratapi Jenazah Ayahnya yang Dituduh Maling Ayam Aduan

Dengan demikian, pekerjaan tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga dapat memberikan kepuasan dan rasa memiliki yang lebih besar.

Secara umum, job crafting terbagi menjadi tiga jenis utama.

Jenis pertama adalah task crafting, yaitu mengubah atau menyesuaikan tugas yang dikerjakan.

Karyawan dapat mengambil tanggung jawab tambahan, mengembangkan cara kerja yang lebih efektif, atau lebih banyak terlibat dalam aktivitas yang sesuai dengan keahliannya.

Baca Juga: Kemdiktisaintek Buka BPDDI Kemitraan Pendanaan 2026, Dosen Bisa Tempuh S3 dengan Skema Co-Funding, Cek Lengkapnya

Sebagai contoh, seorang perawat yang memiliki minat mengajar dapat secara sukarela memberikan edukasi kepada pasien mengenai cara mengelola penyakit kronis.

Jenis kedua adalah relational crafting, yaitu mengubah cara seseorang membangun hubungan dengan rekan kerja maupun pihak lain di lingkungan kerja.

Misalnya, seorang akuntan mulai lebih sering berkolaborasi dengan tim pemasaran untuk memahami strategi bisnis perusahaan sekaligus memperluas wawasan di luar bidang keuangan.

Baca Juga: Tarif PNBP Kementerian Hukum 2026 Naik, Merek UMKM Tetap Murah dan Hak Cipta Lagu Rp0

Jenis ketiga adalah cognitive crafting, yaitu mengubah cara pandang terhadap pekerjaan yang dijalani.

Dalam pendekatan ini, seseorang tidak mengubah tugasnya, tetapi mengubah makna yang diberikan pada pekerjaannya.

Sebagai contoh, petugas kebersihan tidak hanya memandang pekerjaannya sebagai aktivitas membersihkan ruangan, melainkan sebagai peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan sehat bagi penghuni gedung atau pasien.

Baca Juga: Bansos 2026 Tahap 3 Sudah Cair, Ini Alasan NIK KTP Tidak Terdaftar dan Solusinya

Penerapan job crafting dinilai penting karena dapat memberikan berbagai manfaat bagi karyawan maupun perusahaan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa karyawan yang mampu melakukan job crafting cenderung memiliki kepuasan kerja yang lebih tinggi, lebih terlibat dalam pekerjaan, memiliki motivasi yang lebih besar, menunjukkan performa yang lebih baik, mengalami risiko burnout yang lebih rendah, serta memiliki rasa tujuan atau makna yang lebih kuat dalam bekerja.

Sebagai ilustrasi, seorang petugas layanan pelanggan yang menyukai pemecahan masalah dapat memilih untuk menangani kasus pelanggan yang lebih kompleks sebagai bentuk task crafting.

Baca Juga: Spesifikasi Laptop yang Cocok untuk Mahasiswa DKV, Ini Rekomendasi Minimal hingga Ideal

Ia juga dapat mempererat komunikasi dengan tim pengembang produk untuk menyampaikan masukan dari pelanggan sebagai bentuk relational crafting.

Selain itu, ia dapat memandang pekerjaannya bukan sekadar menjawab keluhan, melainkan membantu pelanggan menemukan solusi terbaik sehingga mereka memperoleh pengalaman yang lebih baik.

Cara pandang tersebut merupakan contoh cognitive crafting.

Pada dasarnya, job crafting merupakan strategi yang memungkinkan karyawan membentuk pengalaman kerja agar lebih selaras dengan kemampuan, nilai, dan minat pribadi tanpa mengabaikan tanggung jawab serta tujuan perusahaan.

Konsep ini banyak dibahas dalam bidang psikologi organisasi dan manajemen sumber daya manusia karena dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan karyawan sekaligus mendukung produktivitas dan kinerja organisasi.***