POJOKSATU.id - Telapak tangan yang selalu basah meski tidak sedang berolahraga atau berada di cuaca panas sering dianggap hal sepele.
Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda hiperhidrosis palmaris, yaitu gangguan yang menyebabkan produksi keringat berlebihan pada telapak tangan.
Keluhan ini memang umumnya tidak membahayakan kesehatan.
Namun, tangan yang terus berkeringat dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, mulai dari kesulitan menggenggam benda, menggunakan gawai, menulis, hingga menurunkan rasa percaya diri saat berjabat tangan atau bertemu orang lain.
Pada sebagian orang, produksi keringat berlebih terjadi tanpa penyebab yang jelas dan berlangsung dalam jangka panjang.
Sementara pada kondisi lain, tangan berkeringat bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang memerlukan penanganan medis.
Penyebab tangan berkeringat
Secara umum, hiperhidrosis dibagi menjadi dua jenis, yaitu primer dan sekunder.
Hiperhidrosis primer terjadi tanpa penyakit yang mendasari.
Kondisi ini diduga berkaitan dengan aktivitas saraf simpatis yang terlalu aktif dalam merangsang kelenjar keringat.
Baca Juga: Gelar Honda Modif Contest 2026, AHM Siapkan Wadah Kreativitas Modifikator Indonesia
Faktor keturunan juga diduga berperan karena sering ditemukan pada anggota keluarga yang memiliki keluhan serupa.
Berbeda dengan itu, hiperhidrosis sekunder muncul akibat penyakit atau kondisi tertentu. Beberapa penyebab yang dapat memicu tangan berkeringat antara lain:
Stres, kecemasan, atau emosi yang kuat.
Diabetes.
Hipertiroidisme atau kelenjar tiroid yang terlalu aktif.
Infeksi, termasuk tuberkulosis.
Baca Juga: Suhanta Alek Marques Maju Calon BPD Desa Duren, Siap Kawal Transparansi Anggaran Desa
Penyakit jantung.
Menopause.
Efek samping obat tertentu, seperti antidepresan, obat penurun tekanan darah, atau obat penurun demam.
Pada hiperhidrosis sekunder, keringat biasanya tidak hanya muncul di telapak tangan, tetapi juga pada bagian tubuh lain, bahkan dapat terjadi saat tidur.
Gejala yang perlu diwaspadai
Tanda paling khas adalah telapak tangan yang hampir selalu terasa lembap atau basah.
Pada kondisi yang lebih berat, keringat bahkan bisa menetes dan membasahi benda yang sedang dipegang.
Baca Juga: Belum Bayar Pajak Kendaraan? Siap-siap Tak Bisa Beli BBM Bersubsidi di NTT
Gejala lain yang dapat menyertai antara lain:
Kulit tangan tampak pucat atau mudah berkeriput.
Tangan terasa licin sehingga sulit menggenggam benda.
Timbul bau tidak sedap akibat pertumbuhan bakteri pada kulit yang lembap.
Keringat berlebih juga muncul di kaki, ketiak, atau wajah.
Keluhan biasanya semakin berat ketika seseorang sedang gugup, cemas, atau mengalami tekanan emosional.
Baca Juga: Sampah Jadi Persoalan Krusial, Pansus XV DPRD Jabar Siapkan Regulasi yang Lebih Efektif
Namun bila tangan tetap berkeringat meski tubuh dalam kondisi santai, sebaiknya jangan mengabaikannya.
Kapan harus memeriksakan diri ke dokter?
Pemeriksaan medis disarankan apabila tangan berkeringat muncul secara tiba-tiba tanpa penyebab yang jelas atau disertai keluhan lain, seperti nyeri dada, jantung berdebar, demam, penurunan berat badan, maupun keringat berlebih saat tidur.
Pemeriksaan juga diperlukan jika kondisi tersebut mengganggu pekerjaan, aktivitas sehari-hari, tidak kunjung membaik, atau menyebabkan iritasi dan infeksi kulit yang berulang.
Bagaimana dokter memastikan penyebabnya?
Dokter akan memulai pemeriksaan dengan menanyakan riwayat kesehatan, pola munculnya keringat, faktor pemicu, hingga penggunaan obat-obatan.
Baca Juga: BKN Sedang Mematangkan Tahapan Seleksi CPNS Pada Pelaksanaan Tahun 2026!
Bila diperlukan, pemeriksaan lanjutan dapat dilakukan, seperti tes darah untuk mendeteksi diabetes, gangguan tiroid, atau infeksi.
Dokter juga dapat melakukan starch-iodine test guna mengetahui area produksi keringat berlebih, serta pemeriksaan lain seperti EKG atau tes hormon jika dicurigai terdapat penyakit tertentu.
Pilihan pengobatan
Penanganan hiperhidrosis disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahan keluhan.
Beberapa terapi yang umum dilakukan meliputi penggunaan antiperspirant berbahan aluminium klorida untuk mengurangi produksi keringat, terapi iontophoresis menggunakan arus listrik ringan, hingga suntikan botulinum toxin (botox) yang bekerja menghambat sinyal saraf menuju kelenjar keringat.
Baca Juga: Pertamina Perkuat Keandalan Distribusi Energi, Komisaris Utama Tinjau IT Jakarta dan KM 57A
Pada kondisi tertentu, dokter dapat memberikan obat antikolinergik untuk menekan produksi keringat.
Sementara pada kasus yang sangat berat dan tidak membaik dengan terapi lain, tindakan operasi simpatektomi dapat menjadi pilihan.
Selain pengobatan medis, mengelola stres melalui relaksasi, olahraga, atau teknik pernapasan juga dapat membantu mengurangi keluhan pada sebagian penderita.
Komplikasi dan cara mencegah
Meski jarang berbahaya, hiperhidrosis yang tidak ditangani dapat menyebabkan infeksi kulit, iritasi, kulit pecah-pecah, hingga gangguan psikologis berupa rasa malu, cemas, dan berkurangnya kepercayaan diri.
Tidak semua kasus dapat dicegah, terutama yang dipengaruhi faktor keturunan.
Baca Juga: Prabowo dan PM Modi Sepakat Jaga Perdamaian Dunia, Indonesia-India Perkuat Stabilitas Indo-Pasifik
Namun, menjaga kebersihan tangan, mengeringkan telapak tangan secara rutin, menggunakan antiperspirant khusus, mengelola stres, serta menghindari makanan pedas atau minuman berkafein bila menjadi pemicu dapat membantu mengurangi gejala.
Tangan berkeringat memang sering dianggap masalah sepele, tetapi jika terjadi terus-menerus hingga mengganggu aktivitas, jangan ragu mencari penyebabnya.
Penanganan yang tepat bukan hanya membantu mengurangi keringat berlebih, tetapi juga mengembalikan kenyamanan dan rasa percaya diri dalam menjalani aktivitas sehari-hari.***




