POJOKSATU.id, Jakarta 
— Dokter Spesialis Anak, Konsultan Tumbuh Kembang–Pediatri Sosial, Prof. DR. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), mengatakan kebiasaan membaca atau mengecek komposisi suatu produk menjadi sangat penting, terutama bagi para orang tua.

Dengan begitu, saat membeli produk, mereka tidak hanya mengandalkan klaim pada bagian depan kemasan.

Rini menerangkan bahwa pemenuhan nutrisi anak tidak hanya berkaitan dengan jumlah asupan, tetapi juga kualitas dan keseimbangan komposisi nutrisi sejak dini.

Baca Juga: Spanyol Lolos ke 16 Besar Piala Dunia 2026 Usai Hajar Austria 3-0, Berikut Daftar 11 Negara yang Sudah Mengamankan Tiket

Dua tahun pertama kehidupan, atau periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), merupakan masa penting bagi pertumbuhan fisik, perkembangan otak, dan sistem imun anak.

Pada periode ini, anak membutuhkan kombinasi zat gizi secara seimbang, mulai dari energi yang cukup, protein, lemak esensial, zat besi, zinc, vitamin, hingga mineral lainnya.

Selain pemenuhan nutrisi, stimulasi yang tepat juga diperlukan untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Menurut Rini, salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan orang tua adalah memahami komposisi utama produk.

Dengan membaca daftar komposisi secara lebih cermat, orang tua dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai bahan utama, kandungan tambahan, serta kesesuaian produk dengan kebutuhan anak.

Baca Juga: UI Tegaskan Kajian BEM Psikologi soal LGBT Bukan Sikap Resmi Kampus, Ini Duduk Perkaranya

“Klaim dan kandungan tambahan yang ditampilkan pada kemasan sering kali hanya menggambarkan sebagian kecil dari keseluruhan produk. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya berfokus pada informasi yang ada di bagian depan kemasan, tetapi juga membaca dengan cermat dan memahami komposisi utama produk tersebut,” ujar Rini kepada wartawan.

Dalam memilih produk nutrisi anak, orang tua juga dapat memperhatikan bahan utama, sumber bahan, dan proses pengolahannya.

Misalnya, pada produk nutrisi berbasis susu, orang tua dapat mencermati bagaimana bahan dasar susu dituliskan dalam daftar komposisi, serta apakah informasi mengenai sumber bahan dan proses produksi dijelaskan secara transparan.

Baca Juga: Contoh Kegiatan MPLS Ramah SD 2026 Hari Pertama hingga Hari Kelima, Kemendikdasmen Ubah Orientasi Sekolah Jadi Lebih Ramah Anak

Beberapa informasi, seperti proses pengolahan dari bahan utama hingga menjadi produk akhir maupun karakteristik produk seperti kemudahan larut saat disajikan, dapat membantu orang tua memahami produk secara lebih menyeluruh.

Dengan begitu, orang tua tidak hanya melihat kandungan tambahan yang ditonjolkan pada kemasan, tetapi juga memahami bahan utama dan proses di balik produk tersebut.

Agar tidak bingung, Rini menyarankan empat hal yang perlu diperhatikan saat mengecek komposisi produk.

Baca Juga: Cara Cek Status e-Tilang ETLE Lewat HP, Tak Perlu Datang ke Kantor Polisi

Pertama, lihat bahan yang tercantum paling awal.

Urutan pertama dalam daftar komposisi umumnya merupakan komponen yang jumlahnya paling dominan dalam produk tersebut.

Pada produk berbasis susu, misalnya, orang tua dapat mencermati apakah susu tercantum sebagai salah satu bahan utama serta bagaimana bahan tersebut dituliskan dalam daftar komposisi.

Baca Juga: 60 Ribu Calon Mahasiswa Lolos PTN Tak Daftar Ulang, DPR Ungkap Dugaan Penyebab hingga Soroti UKT dan KIP Kuliah

Kedua, cermati jenis bahan utama dan sumbernya.

Terutama pada produk nutrisi berbasis susu, jika susu segar tercantum sebagai komposisi utama, hal itu dapat menunjukkan bahwa produk menggunakan susu sapi segar sebagai bahan dasar formulasinya.

Melalui proses pengolahan yang lebih ringkas, bahan utama tersebut kemudian diproses menjadi produk akhir dengan tetap menjaga kualitas nutrisi alami susu tanpa melewati paparan panas tinggi secara berulang.

Baca Juga: 60 Ribu Calon Mahasiswa Lolos PTN Tak Daftar Ulang, DPR Ungkap Dugaan Penyebab hingga Soroti UKT dan KIP Kuliah

Sementara itu, apabila yang tercantum adalah susu bubuk, susu rekonstitusi, atau susu rekombinasi, orang tua perlu memahami bahwa bahan dasar dan proses pengolahannya dapat berbeda.

Susu rekonstitusi atau rekombinasi umumnya berbahan utama susu bubuk yang dicampur kembali dengan air dan komponen tambahan lainnya, kemudian melalui tahapan pengolahan lanjutan hingga menjadi produk akhir.

Sejumlah komponen nutrisi dalam susu, seperti protein bioaktif, vitamin, dan enzim tertentu, dapat bersifat sensitif terhadap paparan panas tinggi dan proses pengolahan berulang.

Baca Juga: Konser BTS di Chile Terancam Batal, Pemerintah Tolak Pemakaian Stadion Nasional, Sementara Tiket Sold Out sejak April 2026

Oleh sebab itu, informasi mengenai bahan utama, sumber bahan, dan proses pengolahan menjadi penting untuk dicermati.

Dengan memahami hal ini, orang tua tidak hanya menilai produk dari kandungan tambahan, tetapi juga dari transparansi bahan, sumber susu, dan proses di balik produk tersebut.

Ketiga, kenali gula, pemanis tambahan, dan bahan tambahan pangan.

Baca Juga: Pertamina Buka Suara soal Antrean Pertalite di Cirebon, Ternyata Dipicu Lonjakan Permintaan

Gula tambahan dapat muncul dengan berbagai nama, seperti sukrosa, glukosa, fruktosa, sirup jagung, atau maltodekstrin.

Hal ini berbeda dengan laktosa, yaitu gula alami yang terdapat dalam susu.

Namun, orang tua tetap perlu memperhatikan jenis bahan yang digunakan, posisinya dalam daftar komposisi, serta frekuensi konsumsi produk oleh anak.

Baca Juga: Persiapan Sudah 85 Persen, Kostum dan Koreografi Peserta JFC 2026 Makin Matang

Keempat, lengkapi dengan membaca informasi nilai gizi.

Informasi ini membantu orang tua melihat kandungan energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral per sajian.

Namun, informasi nilai gizi sebaiknya tidak dibaca secara terpisah dari daftar komposisi.

Baca Juga: Wabup Langkat Nangis Dimintai Komentar OTT KPK Bupati Ondim, Terakhir Ketemu 2 Hari Lalu

Keduanya perlu dilihat bersamaan agar orang tua dapat memahami kandungan nutrisi per sajian sekaligus bahan utama yang membentuk produk tersebut.

Rini juga mengingatkan bahwa paparan gula tambahan pada usia dini perlu dikelola secara bijak.

Selain dapat berkaitan dengan risiko kelebihan berat badan dan obesitas, paparan rasa manis yang konstan juga dapat memengaruhi pembentukan preferensi rasa dan kebiasaan makan anak.

Baca Juga: Catat! Pemutihan Pajak Kendaraan Juli 2026 Masih Dibuka di 6 Provinsi, Ada Bebas Denda hingga Diskon PKB

Anak yang terbiasa dengan rasa manis berpotensi lebih menyukai makanan atau minuman manis sehingga penerimaannya terhadap pilihan makanan yang lebih alami dan seimbang, seperti sayur, buah, dan sumber nutrisi lainnya, dapat menjadi lebih terbatas.

Pada akhirnya, memilih produk nutrisi anak dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni membaca daftar komposisi, melihat bahan utama, memeriksa informasi nilai gizi, membatasi produk dengan gula tambahan yang tinggi, serta menyesuaikan pilihan dengan usia dan kebutuhan anak.

Prof. Rini juga menekankan bahwa tidak ada satu produk yang dapat menggantikan pola makan sehat secara keseluruhan.

Baca Juga: Polri Buka Suara usai Pejabat BGN Jadi Tersangka Korupsi MBG, Tegaskan Tak Ada Impunitas

“Nutrisi terbaik bagi anak tetap perlu dibangun melalui variasi makanan, pola makan seimbang, dan lingkungan makan yang tepat,” tambahnya.

Penting untuk diingat, Air Susu Ibu (ASI) tetap merupakan sumber nutrisi terbaik bagi bayi, terutama pada awal kehidupan.

Penggunaan produk nutrisi anak perlu disesuaikan dengan usia, kebutuhan anak, serta dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan bila diperlukan agar pemenuhan nutrisi dilakukan secara tepat, aman, dan sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak.***