POJOKSATU.ID - Bulan Ramadan memang penuh berkah, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa fenomena "Bukber" (Buka Bersama) seringkali menjadi ujian bagi ketahanan dompet.
Terkadang, saking banyaknya undangan dari teman SD, SMP, SMA, kuliah, hingga rekan kerja, anggaran makan kita bisa membengkak berkali-kali lipat.
Ingin menolak tapi takut dianggap tidak setia kawan? Tenang, kamu tidak sendirian.
Berikut adalah panduan taktis menolak ajakan bukber secara halus tanpa merusak silaturahmi.
Baca Juga: Pemberitahuan Penyesuaian Otomatis Sistem RomBel Terkait Kendala Data Murid Kosong
1. Gunakan Alasan "Acara Keluarga"
Ini adalah alasan klasik yang paling sulit untuk didebat.
Di Indonesia, menghormati waktu bersama keluarga terutama orang tua adalah prioritas yang dimaklumi semua orang.
Contoh Kalimat: "Wah, seru banget kayaknya! Tapi maaf ya, hari itu aku sudah ada janji bukber bareng keluarga besar di rumah. Lain kali ya!"
Baca Juga: Kemenag dan BKN dalam Tata Kelola ASN, Apakah Membahas CPNS atau Kepegawaian Lainnya?
2. Jujur Sedang "Menabung" atau "Ada Pengeluaran Tak Terduga"
Jujur bukan berarti memalukan. Mengakui bahwa kamu sedang mengatur keuangan justru menunjukkan bahwa kamu adalah orang yang bertanggung jawab.
Gunakan bahasa yang santai agar tidak terkesan terlalu serius.
Contoh Kalimat: "Aduh, pengen banget ikut! Tapi lagi harus 'ikat pinggang' dulu nih bulan ini karena ada kebutuhan mendadak. Nitip salam buat yang lain ya!"
3. Alasan Fokus Ibadah atau Lelah
Ramadan adalah waktu untuk meningkatkan ibadah. Mengatakan bahwa kamu ingin fokus mengejar target tarawih atau sedang merasa kurang fit setelah bekerja seharian adalah alasan yang sangat masuk akal.
Contoh Kalimat: "Makasih ya ajakannya, tapi badan lagi kurang fit nih kalau harus pulang malam. Mau istirahat sambil kejar tarawih di masjid dekat rumah aja."
Baca Juga: Pemberitahuan Penyesuaian Otomatis Sistem RomBel Terkait Kendala Data Murid Kosong
Menolak bukber bukan berarti memutuskan komunikasi. Kamu bisa menawarkan untuk bertemu setelah Lebaran, di mana biasanya euforia makan-makan mahal sudah sedikit mereda.
Kesimpulannya, menjaga kesehatan finansial adalah hak setiap orang.
Teman yang baik pasti akan mengerti bahwa prioritas setiap orang berbeda-beda di bulan suci ini.
Jangan sampai demi gengsi satu malam, kamu harus "puasa" beneran di akhir bulan!***




