POJOKSATU.id – Ramadan telah tiba. Ada satu tradisi yang kerap dilakukan jelang bulan suci ini yaitu saling bermaafan.
Tradisi ini dilakukan dengan keluarga, sahabat, rekan kerja, bahkan melalui pesan singkat di media sosial.
Tujuannya satu: membersihkan hati sebelum memasuki bulan penuh ampunan.
Namun, muncul pertanyaan yang kerap dibahas: apakah saling bermaafan menjelang Ramadan itu wajib secara syariat?
Baca Juga: Resep Sahur 5 Menit: Menu Sat-Set untuk Kamu yang Sering Bangun Kesiangan di Puasa Pertama Ramadhan
Hukum Bermaaf-maafan Jelang Ramadan
Secara hukum fiqih, tidak terdapat dalil Al-Qur’an maupun hadits sahih yang secara khusus mewajibkan umat Islam untuk bermaafan menjelang Ramadan.
Tidak ada perintah khusus dari Nabi Muhammad SAW yang menetapkan bahwa sebelum masuk bulan puasa seseorang harus meminta dan memberi maaf terlebih dahulu.
Artinya, saling bermaafan sebelum Ramadan bukanlah kewajiban syariat dan bukan pula syarat sah puasa.
Puasa seseorang tetap sah selama memenuhi rukun dan syaratnya, yakni menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, disertai niat.
Tradisi bermaafan lebih merupakan kebiasaan baik yang berkembang di tengah masyarakat Muslim sebagai bentuk persiapan spiritual.
Baca Juga: Dua Sekolah Kedinasan Baru 2026 Resmi Disiapkan! Peluang Lulus Jadi CPNS Makin Terbuka Lebar
Dalil Tentang Anjuran Memaafkan
Walaupun tidak diwajibkan secara khusus menjelang Ramadan, Islam sangat menganjurkan umatnya untuk memiliki sifat pemaaf.
Allah SWT berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 133–134:
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang dan sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Ayat ini menegaskan bahwa memaafkan adalah ciri orang bertakwa dan termasuk perbuatan yang dicintai Allah.
Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah berkurang harta karena sedekah, dan tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan.”
Hadits ini menunjukkan bahwa memaafkan bukan tanda kelemahan, melainkan kemuliaan yang akan ditinggikan oleh Allah.
Baca Juga: Aktivasi Rekening PIP 2025 Diperpanjang hingga 28 Februari 2026, Ini Data Terbaru dan Cara Ceknya
Dosa Kepada Sesama Manusia
Dalam Islam dikenal konsep hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan dengan manusia (hablum minannas).
Dosa yang berkaitan dengan sesama manusia tidak cukup hanya dengan taubat kepada Allah, tetapi juga harus diselesaikan dengan meminta maaf dan mengembalikan hak jika ada yang terzalimi.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatan maupun sesuatu yang lain, hendaklah ia meminta halal (maaf) darinya hari ini sebelum datang hari yang tidak ada dinar dan dirham.”
Hadits ini menjadi dasar penting bahwa meminta maaf adalah kewajiban ketika seseorang melakukan kesalahan terhadap orang lain.
Baca Juga: Urutan Surat untuk Salat Tarawih dan Witir 23 Rakaat Lengkap dengan Bacaan Latin dan Artinya
Namun kewajiban tersebut berlaku ketika ada kesalahan atau hak yang dilanggar, bukan karena momentum Ramadan semata.
Apakah Ada Dalil Khusus Sebelum Ramadan?
Sebagian masyarakat mengaitkan tradisi bermaafan dengan riwayat tentang khutbah Nabi SAW yang di dalamnya beliau mengucapkan “amin” tiga kali.
Namun riwayat tersebut tidak secara spesifik memerintahkan tradisi bermaafan sebelum Ramadan, dan tidak ada penjelasan sahih yang menjadikannya dasar kewajiban khusus.
Karena itu, bermaafan menjelang Ramadan lebih tepat dipahami sebagai amalan baik dan tradisi positif, bukan ibadah khusus yang memiliki ketentuan waktu tertentu.
Hikmah Bermaaf-maafan
Meski tidak wajib, tradisi ini memiliki nilai besar:
Pertama, membersihkan hati dari dendam dan kebencian sehingga ibadah puasa dijalankan dengan jiwa yang tenang.
Kedua, mempererat ukhuwah dan memperbaiki hubungan yang sempat renggang.
Ketiga, menjadi momentum refleksi diri untuk memperbaiki akhlak, bukan hanya selama Ramadan tetapi sepanjang tahun.
Ramadan adalah bulan ampunan. Maka memulai Ramadan dengan hati yang lapang tentu menjadi langkah yang baik, walaupun tidak diwajibkan secara hukum.
Bermaaf-maafan menjelang Ramadan bukan kewajiban syariat dan bukan syarat sah puasa. Namun Islam sangat menganjurkan sikap memaafkan sebagai bagian dari akhlak mulia seorang Muslim.
Jika ada kesalahan terhadap sesama, maka meminta maaf menjadi kewajiban. Tetapi jika sekadar tradisi menyambut Ramadan, maka hukumnya sunnah dan termasuk perbuatan terpuji. ***




