POJOKSATU.id - Puasa merupakan ibadah yang memiliki batasan waktu yang jelas, dimulai sejak terbit fajar dan berakhir saat matahari terbenam.
Namun, satu hal yang kerap menimbulkan pertanyaan adalah mengapa durasi puasa bisa berbeda di setiap wilayah, bahkan di daerah yang masih berada dalam satu negara.
Di Indonesia sendiri, perbedaan durasi waktu puasa terasa nyata antar daerah karena posisi geografisnya yang memanjang dari barat ke timur.
Secara umum, durasi puasa di Indonesia selama bulan Ramadan berkisar antara ±13 jam hingga ±13,5 jam per hari, tergantung kapan waktu subuh dan maghrib tiba di kota masing‑masing.
Wilayah bagian barat seperti Sumatra dan Jawa cenderung memiliki durasi sekitar ±13 jam, sedangkan wilayah timur seperti Kalimantan Timur, Sulawesi, dan Papua bisa mencapai ±13,5 jam dalam satu hari puasa Ramadan.
Jika dibandingkan secara global, durasi puasa di daerah khatulistiwa seperti Indonesia relatif stabil di kisaran 12–14 jam.
Sementara itu, di negara‑negara lintang tinggi seperti Skandinavia atau wilayah dekat Kutub Utara dan Selatan, durasi puasa bisa jauh lebih panjang, bahkan mencapai lebih dari 16–17 jam per hari saat Ramadan berlangsung di musim tertentu.
Sebaliknya, di beberapa wilayah selatan yang mengalami musim dengan siang yang lebih pendek, durasi puasa bisa sekitar 11–13 jam.
Puasa merupakan ibadah yang memiliki batasan waktu yang jelas, dimulai sejak terbit fajar dan berakhir saat matahari terbenam.
Namun, satu hal yang kerap menimbulkan pertanyaan adalah mengapa durasi puasa bisa berbeda di setiap wilayah, bahkan di daerah yang berada dalam satu negara. Begini penjelasannya.
Berbeda dengan penentuan awal dan akhir Ramadan yang didasarkan pada pergerakan sinodik bulan dalam mengelilingi bumi, waktu harian berpuasa justru ditentukan oleh pergerakan semu matahari sebagaimana diamati dari permukaan bumi.
Guru Besar Fisika Teori IPB University, Prof Husin Alatas, menjelaskan bahwa perbedaan durasi puasa terjadi karena matahari terlihat terbit dan terbenam pada waktu yang berbeda-beda di setiap tempat.
Baca Juga: PAD Tak Maksimal, Komisi II DPRD Cirebon Singgung SDM UPT Pajak Minim
Perbedaan ini merupakan konsekuensi alamiah dari cara bumi bergerak di angkasa.
Prof Husin memaparkan, bumi tidak hanya berputar pada porosnya, tetapi juga bergerak mengelilingi matahari.
Kombinasi dua gerakan inilah yang membuat lama siang dan malam tidak selalu sama di setiap wilayah.
Ia menguraikan bahwa pergerakan semu harian matahari dipengaruhi oleh rotasi bumi dan gerak orbit bumi.
Akibat rotasi bumi, pengamat di permukaan bumi akan melihat pergantian siang dan malam secara teratur.
“Sementara itu, untuk gerak orbit bumi, karena poros rotasi bumi membentuk sudut sekitar 23,5 derajat terhadap bidang ekuatorial orbit, maka panjang hari di bulan-bulan yang berbeda dapat berbeda secara signifikan, terutama di wilayah yang tidak berada tepat di garis khatulistiwa,” ucap Prof Husin.
Baca Juga: Aniaya Guru SMPN 1 Trenggalek, Suami Anggota DPR Divonis 6 Bulan Penjara, Ribuan Guru Kawal Sidang
Fenomena Fajar Menentukan Awal Puasa
Lebih lanjut, Prof Husin menjelaskan bahwa penentuan waktu subuh dilakukan melalui pengamatan terhadap fenomena fajar.
Fajar terjadi ketika sinar matahari yang masih berada di bawah horizon sudah mulai direfleksikan oleh atmosfer bumi.
Cahaya ini tampak sebagai garis tipis berwarna kebiruan di horizon timur, lalu perlahan berubah menjadi kekuningan seiring dengan naiknya posisi matahari.
Warna biru yang terlihat saat fajar, lanjutnya, disebabkan oleh hamburan Rayleigh, yaitu proses ketika cahaya dengan panjang gelombang pendek, seperti biru, lebih banyak dihamburkan oleh partikel atmosfer dibandingkan cahaya dengan panjang gelombang yang lebih panjang.
“Waktu subuh berakhir saat piringan matahari mulai terlihat di horizon timur, yang menandai terbitnya matahari,” tuturnya.
Namun, Prof Husin mengingatkan adanya fenomena lain yang sering disalahartikan sebagai fajar, yakni fajar palsu atau false dawn.
Fenomena fajar palsu terjadi akibat refleksi sinar matahari oleh debu antarplanet yang berada di luar atmosfer bumi.
Berbeda dengan fajar sejati yang berpola horizontal, fajar palsu memiliki bentuk menjulang vertikal ke atas dan cahayanya relatif lebih samar.
Matahari Terbenam dan Akhir Puasa
Sementara itu, waktu maghrib ditentukan melalui pengamatan hilangnya piringan matahari di horizon barat, yang menandai matahari terbenam.
Baca Juga: UMKM Tak Cukup Bertahan, Kini Saatnya Naik Kelas! Juragan Jaman Now Season 5 Kembali Dibuka
Prof Husin menjelaskan, saat matahari berada di bawah horizon barat, sinarnya tidak serta-merta menghilang.
Sebagian cahaya masih direfleksikan oleh atmosfer bumi dan tampak sebagai mega merah di langit.
“Ketika cahaya yang direfleksikan tersebut menghilang, maka berakhirlah waktu maghrib yang ditandai dengan hilangnya mega merah,” jelasnya.
Warna merah yang tampak saat matahari terbenam terjadi karena cahaya dengan panjang gelombang panjang lebih sedikit dihamburkan oleh atmosfer.
Baca Juga: PPPK Paruh Waktu di Minahasa Utara, Kerja 4 Jam Sehari Digaji Rp 2 Juta! Tapi Ada Aturan Lainnya
Sementara cahaya dengan panjang gelombang pendek sudah lebih dahulu terhambur melalui mekanisme hamburan Rayleigh, sehingga tidak lagi terlihat oleh pengamat. ***




