POJOKSATU.id — Usaha crochet atau rajut handmade belakangan semakin populer.

Kegiatan yang awalnya hanya dilakukan sebagai hobi kini berkembang menjadi peluang usaha yang menjanjikan dan bisa menjadi sumber penghasilan tambahan.

Meski begitu, tidak sedikit pelaku UMKM crochet yang masih kebingungan saat menentukan harga jual produk mereka.

Baca Juga: Gaji Guru Honorer Rp300 Ribu, Ini Dampak Nyata Kebijakan Upah Rendah terhadap Kualitas Pendidikan Nasional

Masalah ini umumnya muncul karena belum memahami cara menghitung modal produksi secara tepat.

Padahal, kekeliruan dalam menghitung modal dan menetapkan harga jual dapat berdampak serius pada keberlangsungan usaha.

Produk bisa saja laku, tetapi keuntungan tidak terasa, bahkan usaha berisiko mengalami kerugian secara perlahan.

Baca Juga: Dari Hobi ke Cuan! Fenomena Crochet di Kalangan Anak Muda yang Berubah Jadi Bisnis Baru

Untuk menghindari hal tersebut, pelaku usaha perlu memahami tahapan menghitung modal dan harga jual barang crochet secara menyeluruh, baik bagi pemula maupun pengrajin rumahan.

Langkah awal yang perlu dilakukan adalah menghitung biaya bahan baku.

Seluruh bahan yang digunakan untuk membuat satu produk crochet harus dicatat secara rinci.

Baca Juga: Alih-alih Atas Nama Swasembada Pangan, 328 Ribu Hektare Hutan Merauke Dilepas, Ruang Hidup Adat Terancam

Perhitungan dilakukan berdasarkan jumlah bahan yang benar-benar terpakai, bukan harga satuan bahan secara utuh.

Biaya bahan baku biasanya mencakup benang rajut, dakron atau bahan isi, aksesoris tambahan seperti kancing atau mata boneka, hingga kemasan dan label produk.

Seluruh komponen tersebut kemudian dijumlahkan sebagai modal bahan baku.

Setelah itu, pelaku usaha perlu memasukkan biaya alat dengan sistem penyusutan.

Baca Juga: CAT PPPK Kemenham 2026 Digelar Februari, Ini Kisi-Kisi Soal, Jadwal, dan Sistem Kelulusannya

Alat-alat seperti hakpen, gunting, atau jarum rajut tidak dibebankan penuh pada satu produk, melainkan dihitung berdasarkan masa pakai dan jumlah produk yang dihasilkan.

Caranya dengan membagi harga alat dengan perkiraan total produk yang bisa dibuat.

Meskipun nominalnya relatif kecil, biaya alat tetap penting dicatat agar perhitungan modal menjadi lebih akurat dan profesional.

Baca Juga: Masih Abu-Abu di Info GTK? Jangan Panik, Ini Penyebab Teknis yang Paling Sering Terjadi

Tahap berikutnya adalah menentukan biaya tenaga kerja.

Waktu dan keterampilan pembuat crochet memiliki nilai yang tidak boleh diabaikan.

Pelaku usaha perlu menetapkan upah per jam yang wajar, kemudian mengalikannya dengan lama pengerjaan satu produk.

Sebagai contoh, jika satu produk membutuhkan waktu dua jam dengan upah Rp10.000 per jam maka biaya tenaga kerja yang harus dimasukkan adalah Rp20.000.

Baca Juga: Bareskrim Bongkar Scam Online Internasional, Kerugian Capai Rp1,5 Triliun

Komponen ini sering terlewatkan, padahal berperan besar dalam menentukan keuntungan usaha.

Selain itu, biaya lain-lain juga perlu diperhitungkan.

Biaya tambahan seperti listrik, transportasi kecil, atau kebutuhan pendukung lainnya dapat dimasukkan sebagai biaya operasional.

Agar lebih praktis, biaya ini bisa ditetapkan secara rata per produk sehingga perhitungannya lebih sederhana dan mudah diterapkan.

Baca Juga: Lulus PPG 2025 Tapi Masih Ragu Dapat TPG? Ini Kepastian Resmi untuk Penerima Tahun 2026

Setelah seluruh komponen biaya dijumlahkan, barulah pelaku usaha dapat menentukan harga jual crochet.

Harga jual ditetapkan dengan menambahkan margin keuntungan dari total modal produksi.

Pada umumnya, produk crochet handmade memiliki margin keuntungan sekitar 50 hingga 100 persen, tergantung pada tingkat kerumitan, kualitas, dan target pasar.

Baca Juga: Viral SD Negeri Tanpa Murid, Guru Malah Asyik Ngopi dan Dangdutan Tapi Sekolah Masih Terima MBG

Rumus sederhana yang sering digunakan adalah harga jual sama dengan modal produksi dikali 1,5 hingga 2.

Sementara itu, untuk produk custom atau bersifat eksklusif, margin keuntungan dapat ditetapkan lebih tinggi.***