POJOKSATU.id - Di tengah transformasi cepat masyarakat moderen, tekanan pekerjaan dan perubahan sosial, filosofi kuno ternyata menemukan relevansinya kembali untuk membangun kekuatan mental, yakni Stoicism atau Stoikisme.

Bukan sekadar ajaran untuk menahan diri, tetapi panduan hidup yang praktis untuk menghadapi ketidakpastian dengan kebijaksanaan, pengendalian diri, dan keberanian.

Stoikisme pertama kali dikembangkan oleh Zeno of Citium di Athena sekitar abad ke-4 SM.

Kemudian diadopsi oleh tokoh‐tokoh Romawi seperti Marcus Aurelius dan Seneca.

Baca Juga: Pelaku Peledakan Bom Rakitan di SMAN 72 Ternyata Korban Bully Teman-temannya

Prinsip dasar dari konsep ini adalah fokuslah pada apa yang dapat dikendalikan, terimalah yang di luar kendali, dan jalani kehidupan berdasarkan kebajikan.

Dalam konteks Indonesia, beberapa studi menyoroti bagaimana stoikisme diterapkan dalam konteks mahasiswa, kebahagiaan, dan pengendalian emosi.

Contohnya: penelitian di Universitas Pendidikan Indonesia menunjukkan bahwa penerapan prinsip stoik membantu kematangan emosional mahasiswa baru.

Untuk membuatnya lebih aplikatif, berikut empat prinsip hidup utama Stoicism yang sangat relevan untuk memperkuat mental dalam kehidupan moderen.

Baca Juga: Pengumuman Kelulusan PPG Guru Tertentu Tahap 2 Resmi Dirilis, Begini Cara Cek di Akun UKPPPG!

Kebijaksanaan (Wisdom)

Kebijaksanaan dalam stoikisme berarti kemampuan untuk membedakan antara apa yang penting dan apa yang tidak atau antara apa yang bisa dikendalikan dan apa yang tidak.

Sebagaimana dicatat, bahwa “Tugas utama dalam hidup adalah memisahkan apa yang ada dalam kekuatan kita dengan apa yang tidak.”

Pada praktiknya, prinsip ini membantu seseorang berhenti bereaksi impulsif terhadap tekanan atau perubahan tak terduga.

Sebaliknya, mereka akan mempertimbangkan pilihan dengan tenang, memfokuskan energi pada hal-hal yang dapat dikendalikan, dan menerima sisanya dengan lapang.

Di Indonesia, penelitian tentang stoikisme menunjukkan bahwa penerapan pembeda kendali (dichotomy of control) memiliki kaitan erat dengan kesejahteraan mental.

Baca Juga: Terobosan Dedi Mulyadi! ASN Jabar Kini WFH Setiap Kamis Demi Efisiensi dan Disiplin Kinerja

Keberanian (Courage)

Dalam tradisi stoik, keberanian bukan sekadar tidak takut, melainkan kesiapan untuk bertindak dengan benar meskipun menghadapi risiko atau kesulitan.

Di dunia modern, mental yang tangguh tercermin ketika seseorang tetap melangkah meskipun menghadapi kritik, kegagalan, atau ketidakpastian.

Prinsip ini relevan bagi pekerja, siswa, maupun siapa pun yang harus mengambil keputusan sulit.

Keberanian ini muncul saat seseorang memilih untuk berfokus pada pertumbuhan, bukan hanya menghindar dari rasa takut.

Pengendalian Diri atau Moderasi (Temperance)

Stoikisme menekankan bahwa emosi yang tak terkendali dan keinginan berlebihan dapat menghancurkan ketenangan batin.

Baca Juga: Disdik Jabar Larang Siswa Bawa Kendaraan Pribadi ke Sekolah, Begini Mekanismenya

Prinsip pengendalian diri mengajak seseorang agar tidak dikuasai oleh dorongan instan, misalnya konsumsi berlebihan, reaksi impulsif, atau kebiasaan yang merugikan.

Dengan moderasi, mental menjadi stabil dan lebih resilient.

Dalam konteks mahasiswa atau remaja di Indonesia, penelitian menunjukkan bahwa stoikisme dapat membantu mengatur respons terhadap agresivitas atau tekanan sosial.

Keadilan (Justice)

Keadilan dalam stoikisme bukan hanya soal hukum formal, tetapi juga tentang menjalankan peran dengan integritas, hormat terhadap orang lain, dan memperlakukan sesama dengan benar.

Seseorang dengan mental tangguh juga memperhatikan dampak tindakannya terhadap lingkungan sosial.

Tidak hanya fokus pada diri sendiri, tetapi juga menjalankan etika dalam hubungan antar-manusia.

Baca Juga: Prabowo Lantik Komite Percepatan Reformasi Polri Langkah Tegas Pemimpin untuk Benahi Wajah Penegakan Hukum Nasional

Di era media sosial dan perubahan cepat, prinsip ini membantu seseorang tetap grounded dan berkontribusi positif.

Stoicism bukan hanya warisan filsafat kuno yang usang, melainkan pedoman hidup yang sangat relevan untuk memperkuat mental dalam era modern.

Dengan menanamkan kebijaksanaan, keberanian, pengendalian diri, dan keadilan dalam keseharian, seseorang bisa menghadapi tekanan hidup dengan kepala tenang, bertindak dengan integritas, dan menjaga keseimbangan batin.

Mental yang tangguh bukan diukur dari minimnya tantangan, tetapi dari bagaimana seseorang merespons dan tumbuh dari tantangan tersebut.

Semoga pembahasan dalam artikel ini memberi wawasan baru bahwa stoikisme bukan hanya gagasan abstrak, melainkan alat nyata untuk membangun kekuatan mental yang siap menghadapi dunia yang dinamis. ***