POJOKSATU.id, ANAK yang kelihatannya pendiam belum tentu baik-baik saja, lho. Apalagi kalau dia anak tengah.

Banyak orang tua tanpa sadar terlalu fokus sama si sulung yang serba pertama, atau si bungsu yang selalu menggemaskan.

Nah, di tengah-tengah itu, ada si kecil yang diam-diam menyimpan banyak rasa—yang dikenal dengan Middle Child Syndrome.

Anak tengah sering dianggap “mudah” karena nggak banyak menuntut. Tapi justru karena itulah mereka bisa merasa terpinggirkan.

Baca Juga: Pengamat Nilai Polri Berperan Wujudkan Swasembada Jagung dan Penjaga Keadilan Pangan

Kadang mereka nggak tahu harus jadi seperti siapa: meniru kakak, atau bersaing dengan adik? Nggak heran kalau akhirnya mereka menarik diri, jadi penengah yang kesepian, bahkan mempertanyakan keberadaan dirinya sendiri dalam keluarga.

Kalau Bunda mulai melihat si kecil lebih sering menyendiri, merasa tidak dipedulikan, atau sering membandingkan dirinya dengan saudara kandungnya, itu bukan cuma fase biasa.

Bisa jadi, itu sinyal halus bahwa ia sedang butuh perhatian lebih—bukan hanya pelukan, tapi juga pengakuan bahwa dirinya penting dan dicintai sepenuh hati.

Baca Juga: FAKTA BAHASA: Tahukah Kamu, Kata 'Enggak' Sudah Masuk KBBI? Simak Ragam Cakap Lain yang Ternyata Resmi Terdaftar!

Apa Itu Middle Child Syndrome?

Middle child syndrome atau sindrom anak tengah adalah kondisi psikologis yang menggambarkan perasaan anak tengah yang merasa terabaikan, tidak diprioritaskan, dan kehilangan identitas di antara saudara-saudaranya. Meski bukan diagnosis medis, kondisi ini nyata dirasakan banyak anak tengah dan bisa berdampak besar kalau tidak ditangani.

Ciri-Ciri Middle Child Syndrome

Yuk, kita kenali gejala yang paling sering muncul:

-Merasa Terpinggirkan: Si anak merasa nggak sepenting kakaknya dan nggak selucu adiknya.

-Cari Perhatian: Kadang lewat prestasi, kadang juga lewat kenakalan.

-Rendah Diri: Sering merasa “nggak cukup baik”.

-Bingung dengan Identitas Diri: Nggak tahu apa yang bikin dia beda atau istimewa.

-Gampang Cemas: Hal-hal kecil bisa bikin dia stres.

-Pemberontakan Halus: Bisa jadi lebih keras kepala atau suka menyendiri.

-Sosial Banget: Justru karena kurang perhatian di rumah, dia cari relasi di luar.

Baca Juga: WAJIB TAU! 5 Nilai Strategis untuk Mahasantri dari Muktamar BEM Pesantren ke-5 di Darunnajah

Kenapa Bisa Terjadi? Ada beberapa alasan kenapa sindrom ini muncul:

-Kurangnya Perhatian Orang Tua: Fokus orang tua biasanya tertuju ke anak pertama dan terakhir.

-Persaingan Saudara: Anak tengah sering harus ‘berjuang’ di antara dua kutub ini.

-Peran Keluarga yang Kabur: Dia bukan si sulung yang “harus jadi contoh”, juga bukan si bungsu yang “masih kecil”.

-Pola Asuh yang Tidak Merata: Misalnya, si tengah jarang diajak bicara serius atau dilibatkan dalam keputusan.

Dampak Jangka Panjangnya Kalau Diabaikan

Baca Juga: Mengapa Anak-anak Ogah untuk Minta Maaf saat Melakukan Kesalahan? Begini Tips Cara Orang Tua Mendidiknya

Kalau terus berlanjut, anak bisa mengalami:

-Masalah Percaya Diri: Merasa dirinya nggak layak.

-Sulit Menjalin Hubungan: Baik dengan teman, pasangan, atau keluarga sendiri nanti.

-Rentan Depresi & Cemas: Karena perasaan kurang dihargai terus-menerus.

-Perilaku Berisiko: Mulai dari kenakalan remaja, kabur dari rumah, hingga hal yang lebih serius.

Baca Juga: Jangan Khawatir Tidak Dapat Bantuan, Pendaftaran DTKS 2025 Bisa Dilakukan Sepanjang Tahun, Simak Syarat dan Alur Pendaftarannya, Mudah Banget!

Cara Mengatasinya

1. Komunikasi Terbuka: Jangan anggap anak tengah sebagai ‘pengisi ruang kosong’.

2. Waktu Khusus: Sediakan waktu 1-on-1 tanpa gangguan dari kakak atau adik.

3. Validasi Perasaan Mereka: Jangan remehkan saat mereka cerita.

4. Angkat Keunikan Mereka: Biarkan mereka tahu bahwa mereka itu spesial.

5. Stop Membandingkan! Setiap anak itu punya jalan masing-masing.

6. Beri Peran yang Bermakna: Misalnya jadi penanggung jawab mainan keluarga.

Baca Juga: Fakta Bahasa : Sudah Tahu Arti Kata Gerhana? Jangan Salah, Bahasa Indonesia Memaknai Begini di KBBI

Kapan Harus Konsultasi ke Ahli?

Kalau kamu merasa kondisi anak makin berat, jangan ragu hubungi psikolog atau konselor keluarga.

Bisa mulai dari konseling online seperti di Halodoc untuk diskusi awal. Nggak ada kata terlalu cepat untuk bantu anak kembali nyaman dengan dirinya.

Tips Buat Orang Tua

-Jangan Menganggap Remeh: Ini bukan cuma ‘anak tengah yang cemburuan’.

-Adil Bukan Sama: Perlakukan anak sesuai kebutuhan emosionalnya, bukan pakai takaran kaku.

-Dengarkan Mereka Sampai Habis: Kadang mereka cuma mau didengar.

-Bangun Rumah yang Aman: Rumah bukan tempat adu peran, tapi tempat untuk tumbuh bersama.

-Middle child syndrome itu nyata, bukan mitos.

Baca Juga: Sosok Siswi SMAN 1 Natal, Anggota Paskibraka Madina yang Ditemukan Tewas, Jasadnya Dikubur di Kebun Sawit

Ikuti berita-berita terbaru melalui web kami Pojoksatu di aplikasi berikut;

Versi Android

Versi iOS

Channel Whatsapp

Fanpage Edugov

Jangan biarkan anak merasa "sendiri di tengah keramaian", yuk mulai sekarang lebih dekat dengan si tengah jangan membanding-bandingkan lagi. ***