POJOKSATU.id - banyak orang langsung membayangkan kawasan modern seperti BSD City, Alam Sutera, hingga Pamulang yang penuh deretan kafe dan perumahan elit.
Namun, di balik citra kotanya yang modern dan dinamis, ada sisi lain Tangsel yang tak kalah menarik budaya dan kreativitas lokal yang terus tumbuh di tengah arus urbanisasi.
Kota yang resmi berdiri sejak tahun 2008 ini kini menjadi rumah bagi beragam suku, komunitas, dan kelompok seni yang aktif.
Baca Juga: Gubernur Andra Soni Bahas TKD dan Ekonomi Banten Bersama Menkeu, Siapkan Langkah Antisipasi Defisit
Menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman. Dari pentas tari tradisional hingga mural jalanan, dari festival musik hingga kegiatan literasi.
Tangsel menunjukkan bahwa kemajuan tak harus meninggalkan akar budaya.
1. Budaya Lokal yang Masih Bertahan
Meski menjadi kota baru hasil pemekaran, Tangsel punya sejarah panjang yang tak bisa dilepaskan dari akar budaya Betawi dan Sunda.
Baca Juga: Dari Limbah Jadi Berkah: EANK Solo Tembus Pasar Ekspor Berkat Sentuhan BRI
Dua unsur inilah yang kemudian berpadu dan membentuk karakter masyarakat Tangsel: ramah, terbuka, dan penuh gotong royong.
Salah satu bentuk budaya lokal yang masih hidup hingga kini adalah lenong Betawi.
Beberapa sanggar di wilayah Ciputat dan Pamulang masih rutin menggelar pertunjukan lenong pada acara hajatan, khitanan, maupun peringatan hari besar nasional.
Baca Juga: Kamu Mau Bikin SIM Baru 2025? Cek Dulu Syarat, Usia Minimal, dan Biayanya di Sini
Di sana, tawa penonton berpadu dengan sindiran khas Betawi yang lucu tapi tajam.
“Lenong bukan cuma hiburan, tapi juga cara kita ngajarin nilai-nilai kehidupan,” ujar Udin, ketua Sanggar Seni Betawi di Pondok Cabe.
Selain lenong, tari topeng Betawi, marawis, dan rebana qasidah juga masih sering ditampilkan di acara keagamaan maupun festival budaya.
Pemerintah Kota Tangsel pun memberi ruang bagi komunitas budaya untuk tetap eksis, misalnya melalui kegiatan Festival Budaya Tangsel yang rutin digelar setiap tahun.
2. Festival Seni yang Menghidupkan Kota
Bicara tentang Tangsel, tak lengkap tanpa menyinggung berbagai festival seni dan budaya yang menjadi daya tarik tersendiri.
Baca Juga: 12 Tahun IMHG: Merajut Persaudaraan Bikers Honda Garut, Siap Jadi Tuan Rumah Honda Bikers Day 2025
Salah satunya adalah Tangsel Creative Festival (Tangsel CF) yang menjadi ajang tahunan bagi pelaku seni, komunitas, dan UMKM lokal untuk menampilkan karya mereka.
Di acara ini, pengunjung bisa menemukan stan batik khas Tangsel, pertunjukan musik, pameran lukisan, hingga karya digital dari anak muda lokal.
Konsepnya sederhana tapi bermakna: menghubungkan kreativitas dengan identitas kota.
“Anak muda Tangsel banyak banget yang kreatif, tinggal difasilitasi aja biar karya mereka bisa dilihat lebih luas,” kata Dinda, salah satu peserta pameran ilustrasi di Tangsel CF.
Selain itu, ada pula Festival Cisadane Selatan, Tangsel Art Festival, dan Kampoeng Budaya Festival yang mengangkat kekayaan seni tradisional, kuliner, dan kerajinan tangan.
Kegiatan seperti ini tidak hanya memeriahkan kota, tapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap produk dan budaya lokal.
Baca Juga: Menjelajahi Oase Hijau di Tengah Kota Pesona Wisata Alam Tangerang Selatan yang Tak Pernah Pudar
Banyak di antaranya lahir dari inisia
3. Komunitas Kreatif yang Bergerak Mandiri
Salah satu kekuatan Tangsel adalah komunitas kreatifnya yang hidup dan mandiri.
Banyak di antaranya lahir dari inisiatif warga, bukan dari proyek pemerintah. Mereka berangkat dari semangat kolaborasi dan cinta terhadap kota.
Beberapa komunitas yang cukup dikenal antara lain:
1. Tangsel Creative Movement (TCM): yang fokus pada pengembangan industri kreatif lokal.
2. Ciputat Art District: komunitas seniman visual dan muralis yang sering menghiasi dinding kota dengan karya bertema sosial.
Baca Juga: Perkembangan Kota Tangerang Selatan Dari Wilayah Penyangga Jadi Kota Modern
3. Komunitas Kamera Tangsel : wadah fotografer muda yang aktif mengabadikan sisi lain kota, dari gang sempit sampai landmark megah.
4. Tangsel Writing Club: kelompok penulis yang rutin mengadakan diskusi sastra dan kelas menulis di taman kota.
Kehadiran komunitas seperti ini membuat Tangsel terasa hidup. Mereka menjadikan ruang publik bukan hanya tempat berkumpul, tapi juga tempat berkarya.
Baca Juga: Sekda Banten Dampingi Kapolri Tinjau Lahan Jagung, Bukti Nyata Dukung Ketahanan Pangan Nasional
“Kalau di Jakarta mungkin komunitas susah cari ruang, tapi di Tangsel kita bisa bikin acara di taman, di kafe, bahkan di balai warga,” kata Fadli, pendiri Ciputat Art District.
4. Dukungan Pemerintah dan Dunia Pendidikan
Pemerintah Kota Tangerang Selatan menyadari bahwa kota modern tak bisa lepas dari kebudayaan dan kreativitas.
Melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud), berbagai program digulirkan untuk mendukung seniman lokal. Misalnya, pelatihan seni tari, lomba mural, dan festival musik pelajar.
Tak hanya itu, sejumlah kampus besar di Tangsel seperti Universitas Pamulang (UNPAM), UIN Syarif Hidayatullah
Hingga Universitas Prasetiya Mulya juga turut menjadi pusat gerakan kreatif.
Banyak mahasiswa yang membuat event seni, startup kreatif, hingga pameran budaya lintas kampus.
Misalnya, Festival Kampus Merdeka Tangsel yang digagas oleh mahasiswa UNPAM menjadi ruang kolaborasi bagi anak muda.
Untuk menampilkan ide-ide segar dalam bentuk musik, fotografi, film pendek, dan karya sosial.
“Dari kampus lah banyak ide muncul. Tangsel ini kota pendidikan, dan pendidikan itu fondasi utama kreativitas,” kata Nurul, mahasiswa UIN yang aktif di komunitas film.
Baca Juga: Kertas dan Plastik Bekas Pakai Disulap Jadi Bernilai, Ini Inisiatif Pertamina Regional JBB
5. Kreativitas Anak Muda dan Digitalisasi Budaya
Di era digital, anak muda Tangsel berhasil membawa budaya ke dunia maya tanpa kehilangan jati diri lokal.
Mereka membuat konten edukatif dan seni digital yang mengangkat budaya daerah ke media sosial.
Akun seperti @TangselKreatif, @ExploreTangsel, dan @TangselHeritage menjadi contoh nyata bagaimana kreativitas anak muda bisa memperkenalkan budaya kota lewat media digital.
Baca Juga: Polres Karawang Amankan Pelaku Curanmor yang Nyaris Diamuk Massa di Tirtajaya
Dari unggahan tentang sejarah Situ Gintung hingga video pendek tentang kuliner tradisional, semua dikemas menarik dan mudah dipahami oleh generasi muda.
Selain itu, banyak juga podcaster dan YouTuber lokal yang mengangkat isu budaya dan seni Tangsel.
Mereka berbicara tentang musik indie, fotografi urban, hingga kisah kampung-kampung tua yang kini menjadi bagian dari wajah modern kota.
Tangerang Selatan mungkin dikenal sebagai kota modern dengan segala fasilitasnya, tapi di balik itu ada denyut budaya dan semangat kreatif yang tak pernah padam.
Dari panggung lenong hingga mural di dinding jalan, dari festival budaya hingga podcast anak muda. semuanya menegaskan satu hal:
Bahwa Tangsel bukan hanya kota untuk tinggal tapi kota untuk berkarya, berbudaya, dan bertumbuh bersama.***
