POJOKSATU.ID - Siapa sangka sebuah langkah yang dimulai dari "keisengan" bisa berujung pada pengalaman profesional yang mengubah cara pandang hidup?

Bagi saya, Elsa Sayyidina Aulia, lulusan dari Universitas Djuanda, transisi dari dunia kampus menuju realitas kerja adalah fase yang penuh teka-teki. 

Di tengah hiruk-pikuk persiapan wisuda, saya dipertemukan dengan MagangHub, sebuah platform yang akhirnya menjembatani ambisi saya dengan dunia industri kreatif di PT PojokSatu Indonesia. 

Baca Juga: Masjid Kuno Bayan Beleq, Saksi Bisu Masuknya Islam di Lombok Utara yang Sarat Filosofi

Artikel ini bukan sekadar catatan harian, melainkan narasi tentang bagaimana ketelitian angka seorang calon akuntan diuji di tengah dinamisnya arus informasi media nasional.

Perjalanan ini membawa saya melintasi aspal jalanan selama berjam-jam setiap harinya, menembus batas rasa lelah demi sebuah impian. 

Dari kecemasan saat seleksi hingga kebanggaan saat berhasil mengelola data keuangan perusahaan, setiap detiknya adalah pelajaran berharga. 

Baca Juga: Kadin Minta Prabowo Batalkan Impor 105.000 Pickup CBU, Dinilai Ancam Industri Otomotif Nasional

Mari ikuti kisah saya dalam menyeimbangkan presisi akuntansi dengan ritme cepat industri media, sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa peluang besar sering kali datang kepada mereka yang berani mencoba, meski awalnya hanya bermodal rasa penasaran.

Awal Mula Mendaftar MagangHub

Semua ini bermula dari "keisengan" yang berfaedah.

Baca Juga: Gaji PPPK Paruh Waktu Jember Cuma Rp1,1 Juta? Gus Fawait Buka Suara Soal Kenaikan

Sambil menunggu jadwal wisuda dan sesekali mengirim lamaran kerja ke berbagai perusahaan, saya melihat informasi mengenai program nasional MagangHub. 

Tanpa ekspektasi berlebih, saya memutuskan untuk mendaftar. 

Pikir saya saat itu sederhana saja: daripada waktu terbuang percuma hanya dengan menunggu, lebih baik mencoba peruntungan untuk menambah portofolio.

Saya memilih posisi Accounting, sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. 

Meski awalnya hanya sekadar mengisi waktu luang, ternyata takdir punya rencana lain. 

Notifikasi yang awalnya saya kira hanya angin lalu, justru menjadi tiket emas yang mengantarkan saya masuk ke dunia kerja yang sesungguhnya. 

Momen tersebut menjadi pembuktian bahwa peluang sering kali datang di saat kita berani mencoba, meski tanpa kepastian. 

Baca Juga: Belum Genap Sebulan, Aspal Jalan Proyek Rp1,5 Miliar di Bima NTB Sudah Mengelupas dan Tergulung

Langkah kecil ini perlahan mengikis rasa cemas akan masa depan, mengubah ketidakpastian masa transisi menjadi fase pengembangan diri yang penuh makna. 

Saya tidak lagi sekadar menunggu hari wisuda, melainkan sedang membangun fondasi karier yang nyata.

Proses Seleksi dan Tantangan

Proses seleksi MagangHub bukanlah jalan yang mulus.

Baca Juga: Belum Genap Sebulan, Aspal Jalan Proyek Rp1,5 Miliar di Bima NTB Sudah Mengelupas dan Tergulung

Saya sempat merasa pesimis. 

Hari demi hari berlalu, hingga mendekati penutupan masa seleksi, tidak ada satu pun perusahaan yang menghubungi saya. 

Saya sudah mulai berdamai dengan keadaan dan berpikir bahwa mungkin kali ini keberuntungan belum berpihak.

Namun, kejutan datang di waktu yang tak terduga. 

Di suatu sore yang tenang, sebuah pesan WhatsApp masuk. Pesan itu berasal dari tim HRD PT PojokSatu Indonesia. 

Saya diundang untuk mengikuti tes online soal akuntansi dan wawancara. Rasa senang bercampur tegang seketika menyergap.

Tantangan nyata dimulai saat saya mengetahui bahwa saya harus bersaing dengan kurang lebih 20 kandidat lainnya untuk satu posisi Accounting. 

Dalam hati saya membatin, "Mampukah saya bersaing?". 

Saya harus mengasah kembali teori-teori akuntansi yang selama ini hanya saya pelajari di bangku kuliah Universitas Djuanda dan membuktikan bahwa saya adalah kandidat yang tepat untuk mengelola angka di sebuah perusahaan media besar.

Hari Pertama di Perusahaan

Memasuki kantor PT PojokSatu Indonesia di hari pertama memberikan kesan yang mendalam. 

Baca Juga: Belum Bisa Membaca Alquran di Bulan Ramadan? Ini Penjelasan Hukum dan Cara Agar Tetap Raih Pahalanya

Sebagai perusahaan media, atmosfernya terasa sangat dinamis dan hidup; suara diskusi redaksi dan deru aktivitas digital menciptakan energi yang menular. 

Saya disambut dengan sangat ramah oleh tim keuangan dan langsung diperkenalkan dengan lingkungan kerja yang ternyata jauh dari kesan kaku yang selama ini saya bayangkan tentang divisi akuntansi. 

Tidak ada sekat yang dingin, melainkan keterbukaan untuk saling berbagi ilmu.

Baca Juga: Ketua MPR Tanggapi Kasus Tewasnya Bocah di Tual Maluku Dipukul Helm Oknum Anggota Brimob

Meskipun status saya adalah anak magang, saya merasa benar-benar dihargai sebagai bagian dari tim. 

Saya mulai diperkenalkan dengan sistem internal perusahaan serta bagaimana alur transaksi di industri media yang serba cepat ini berjalan. 

Penjelasan yang sistematis dari para senior membantu saya memetakan tanggung jawab yang akan saya emban ke depan. 

Baca Juga: Beredar Bocoran dari Gedung Putih, Selasa Pekan Depan Militer AS akan Serang Iran

Momen orientasi singkat namun padat ini sukses mengubah rasa gugup saya menjadi semangat membara. 

Saya menyadari bahwa di sinilah tempat yang tepat untuk menerapkan teori dari bangku kuliah Universitas Djuanda ke dalam praktik profesional yang sesungguhnya.

Tantangan Selama Magang

Tentu saja, perjalanan magang ini tidak selalu tentang keberhasilan instan.

Ada beberapa tantangan signifikan yang harus saya hadapi setiap harinya:

1. Adaptasi dengan Ritme Industri Media

Industri media bekerja dengan kecepatan tinggi.

Berita tidak pernah tidur, dan hal itu berdampak pada ritme kerja di seluruh divisi, termasuk akuntansi.

Saya harus belajar bergerak cepat namun tetap akurat dalam memproses data keuangan.

Baca Juga: Tips Mengatasi Bau Mulut Saat Berpuasa Ramadhan, Mulai dari Menu Sahur

2. Perjuangan Jarak dan Waktu

Salah satu tantangan fisik terbesar adalah jarak.

Rumah saya cukup jauh dari kantor, sehingga setiap harinya saya harus menempuh perjalanan selama 2 jam.

Total 4 jam pulang-pergi dihabiskan di jalanan, yang menuntut ketahanan fisik dan manajemen waktu yang sangat disiplin.

Baca Juga: Resmi Dibuka 25 Februari! Mudik Gratis Jasa Marga Berangkat 15 Maret 2026 Jam 6 Pagi

3. Ketelitian vs Kreativitas

Menyeimbangkan fokus antara ketelitian angka (accounting) dan kreativitas konten adalah tantangan yang unik.

Bekerja di perusahaan media membuat saya terpapar pada arus kreativitas yang deras, sementara tugas utama saya adalah memastikan setiap rupiah tercatat dengan presisi.

Menjaga kepala tetap dingin untuk urusan angka di tengah lingkungan yang "ekspresif" memerlukan konsentrasi tingkat tinggi.

Pelajaran dan Perubahan Diri

Selama menjalani program MagangHub di PojokSatu, saya tidak hanya belajar cara menjurnal atau membuat laporan keuangan secara praktis. 

Saya belajar tentang resiliensi.

Jarak tempuh yang jauh mengajarkan saya tentang komitmen, sementara tekanan di industri media mengasah mental saya menjadi lebih kuat.

Baca Juga: SKTP Februari 2026 Resmi Terbit di Info GTK, Ini Timeline Lengkap hingga Dana TPG Masuk Rekening Agar Guru Tak Salah Perhitungan

Saya merasa ada perubahan besar dalam diri saya. 

Elsa yang dulunya ragu-ragu kini menjadi lebih percaya diri dalam mengambil keputusan dan berkomunikasi dengan rekan kerja. 

Saya memahami bahwa akuntansi bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan bahasa yang menceritakan kesehatan sebuah organisasi. 

Pengalaman ini telah mendewasakan sudut pandang saya tentang dunia profesional.

Harapan dan Rencana ke Depan

Pengalaman berharga ini adalah fondasi kokoh untuk langkah saya selanjutnya. 

Baca Juga: Siap-Siap Cek Saldo! Ini Kriteria Guru yang TPG Februari Cair ke Rekening Minggu Depan!

Dengan bekal mental dan teknis yang sudah terasah di industri media, saya memiliki target besar untuk masa depan. 

Saya ingin membawa semangat kerja keras ini ke jenjang yang lebih tinggi.

Harapan saya adalah mampu menembus jajaran auditor di Big 4 Accounting Firms, tempat di mana standar akuntansi dunia diterapkan dengan ketat. 

Namun, di atas segalanya, motivasi terbesar saya adalah mewujudkan impian yang selalu menjadi doa orang tua: melihat putri mereka berbakti kepada negara sebagai pegawai BUMN. 

Saya ingin membuktikan bahwa lulusan Universitas Djuanda mampu bersaing di kancah nasional dan memberikan kontribusi nyata bagi ekonomi Indonesia.

Perjalanan magang ini mengajarkan saya satu hal penting: jangan pernah meremehkan langkah kecil yang dimulai dengan keraguan, karena sering kali di sanalah pintu kesuksesan sedang dipersiapkan.***