POJOKSATU.ID - Cerpen Mata yang Enak Dipandang karya Ahmad Tohari bukan sekadar kisah tentang kemiskinan dan kematian di sudut stasiun.

Di balik alur yang tampak sederhana, tersimpan struktur naratif yang kuat serta permainan bahasa yang memperkaya makna.

Melalui pendekatan Formalisme Rusia, cerpen ini dapat dibedah secara sistematis untuk menyingkap mekanisme internal serta keindahan gaya bahasanya.

Formalisme Rusia merupakan kajian sastra yang menitikberatkan pada struktur internal karya.

Baca Juga: Viral Zulhas Sebut Banyak Agenda Dalam Satu Hari, Klaim Dirinya Sampai Kurus!

Fokusnya bukan pada latar belakang pengarang atau kondisi sosial semata, melainkan pada bagaimana cerita disusun dan bagaimana bahasa bekerja membentuk efek estetik.

Dalam perspektif ini, karya sastra dinilai dari unsur intrinsiknya: alur, struktur, gaya bahasa, serta teknik penceritaan.

Dalam teori Formalisme, dikenal istilah fabula (cerita) dan sujzet (cara penceritaan).

Fabula merujuk pada rangkaian peristiwa secara kronologis, sedangkan sujzet adalah bagaimana pengarang menyusun peristiwa tersebut agar memiliki daya tarik artistik.

Baca Juga: Perencanaan Bahasa, Strategi Negara Menjaga Eksistensi Bahasa Indonesia di Era Globalisasi

Selain itu, konsep defamiliarisasi juga penting, yakni upaya pengarang menghadirkan sesuatu yang biasa menjadi terasa asing melalui bahasa.

Gambaran Umum Cerita dan Mekanika Internal

Cerpen ini mengisahkan Mirta, seorang pengemis buta (picek), dan Tarsa, orang yang menuntunnya saat mengemis.

Sejak awal, pembaca diperlihatkan kondisi Mirta yang lemah dan tidak berdaya.

Ia demam, tubuhnya menggigil, dan hanya minum air putih untuk menahan lapar.

Sementara itu, Tarsa tetap memaksanya untuk mengemis karena rasa lapar yang mendesak.

Konflik muncul ketika Mirta menolak untuk terus mengemis.

Ia menyarankan agar mereka menunggu kereta kelas tiga, karena menurut pengalamannya, penumpang kelas tersebut lebih mudah berempati dan memberi sedekah.

Baca Juga: Bahasa Asing Banjiri Iklan, Pakar Soroti Kesalahan Berbahasa dalam Promosi Produk

Ketegangan meningkat saat tubuh Mirta semakin lemah, hingga akhirnya ketika kereta datang dan Tarsa hendak kembali mengajaknya bergerak, Mirta telah menghembuskan napas terakhirnya di stasiun.

Dari sisi alur, cerpen ini menggunakan alur maju. Urutan waktu berjalan linier dari awal hingga akhir, sehingga pembaca dengan mudah mengikuti perkembangan peristiwa.

Kejelasan alur ini memperlihatkan bagaimana sujzet disusun secara sistematis untuk memperkuat dampak emosional.

Struktur Naratif, Dari Orientasi hingga Koda

Jika diuraikan berdasarkan struktur naratif, cerpen ini memiliki tahapan yang jelas:

1. Orientasi

Tahap awal terlihat ketika Tarsa meminum es limun, sedangkan Mirta hanya diberi air putih.

Baca Juga: Tanpa SKTM, Ini 20 Beasiswa Paling Diburu 2026, Ada LPDP, Djarum hingga CIMB ASEAN Scholarship

Adegan ini menjadi pengantar yang menggambarkan kondisi sosial dan relasi keduanya.

2. Konflik

Konflik mulai muncul saat tubuh Mirta panas dan menggigil.

Ia tidak mampu bergerak, sementara Tarsa tetap mendesaknya untuk mengemis.

3. Klimaks

Puncak konflik terjadi ketika Mirta bersikeras menunggu kereta kelas tiga dan menolak ajakan Tarsa.

Ketegangan memuncak karena kondisi fisiknya semakin memburuk.

4. Resolusi

Tarsa akhirnya menyetujui saran Mirta untuk menunggu kereta kelas tiga.

5. Koda

Cerita ditutup dengan kematian Mirta di stasiun.

Akhir ini memberi efek tragis yang kuat sekaligus menjadi penegasan nasib tokoh.

Baca Juga: Kapal Induk Gerald Ford yang Menuju Timur Tengah, Panjangnya Hampir 3 Kali Lapangan Sepakbola

Struktur yang runtut ini menunjukkan mekanika internal yang solid.

Tidak ada peristiwa yang hadir secara kebetulan.

Setiap adegan memiliki fungsi dalam membangun alur dan memperkuat makna.

Keindahan Bahasa, Analisis Majas dalam Cerpen

Selain struktur yang rapi, kekuatan cerpen ini juga terletak pada penggunaan majas.

Baca Juga: DKPP Kota Bandung Gelar Expo Bangsawan, Vaksin Gratis dan Mobil Klinik Keliling Diluncurkan

Gaya bahasa menjadi elemen penting dalam pendekatan Formalisme karena di situlah letak keunikan karya sastra dibanding bahasa sehari-hari.

1. Majas Personifikasi

Beberapa contoh personifikasi yang menonjol antara lain:

  • “Matahari melirik tajam dari belahan langit barat.”

  • “Bayangan kerai payung bergerak ke arah sebaliknya dan lama-lama wajah Mirta tertatap langsung oleh matahari.”

Dalam kutipan tersebut, matahari digambarkan seolah-olah dapat melirik dan menatap.

Padahal, yang dimaksud adalah sorotan sinar matahari.

Penggunaan personifikasi ini memperkuat suasana panas dan tekanan yang dialami Mirta.

Contoh lain adalah angin yang “menyapu” keringat.

Angin diperlakukan seperti makhluk hidup yang dapat bertindak.

Baca Juga: Darurat! Jalan Trans Papua Tertimbun Longsor, Pemerintah Gerak Cepat Buka Jalur Penghubung

Efeknya, suasana terasa lebih hidup dan visual.

2. Majas Hiperbola

Hiperbola tampak pada ungkapan seperti:

  • “Rasa pening terus menggigit kepalanya.”

  • “Ada suara gemuruh dan bunyi rem logam yang menggurat telinga.”

Ungkapan tersebut jelas berlebihan, namun justru di situlah kekuatan estetiknya.

Rasa sakit dan kebisingan divisualisasikan secara intens, sehingga pembaca ikut merasakan penderitaan tokoh.

Baca Juga: Mudik Gratis 2026 Meledak! 96 BUMN Siap Berangkatkan 100 Ribu Pemudik ke Seluruh Indonesia

3. Majas Simile

Simile digunakan untuk membandingkan keadaan tokoh dengan benda atau makhluk lain, misalnya:

  • “Diam seperti bekicot.”

  • “Melengkung seperti bangkai udang.”

  • “Mata yang dingin seperti mata bambu.”

Perbandingan ini memperjelas gambaran visual sekaligus memperkuat kesan keterasingan dan kekerasan dunia terhadap Mirta.

4. Majas Metafora

Metafora tampak dalam penggunaan kata-kata seperti:

  • “Bunyi keruyuk dari perut.” (lapar)

  • “Kacung bagi kere picek.” (pesuruh)

  • “Keropos kedua matanya.” (buta)

Metafora-metafora ini memperkaya makna tanpa harus menjelaskan secara langsung.

Baca Juga: Pertamina Regional JBB Tindak Lanjut Keluhan BBM, SPBU Parungpanjang Disetop Sementara

Bahasa menjadi lebih padat, simbolis, dan bernilai estetik.

5. Majas Sinestesia

Penggabungan indra terlihat pada kalimat:

  • “Tubuhnya menggigil dan terasa sangat panas.”

  • “Rasa dingin merambah ke seluruh badan.”

Kata panas dan dingin menghadirkan sensasi fisik yang kuat.

Pembaca seolah ikut merasakan kondisi tubuh Mirta yang lemah.

Defamiliarisasi dan Efek Estetik

Dalam perspektif Formalisme Rusia, penggunaan majas tersebut merupakan bentuk defamiliarisasi.

Ahmad Tohari tidak sekadar mengatakan “Mirta kepanasan” atau “Mirta lapar”.

Ia mengubahnya menjadi ungkapan yang tidak biasa, sehingga pembaca berhenti sejenak untuk mencerna makna.

Bahasa yang menyimpang dari keseharian inilah yang membedakan karya sastra dari bahasa informatif biasa.

Keasingan tersebut justru memperkuat daya pikat cerita.

Baca Juga: Kocak! Aksi Jambret Gagal Dikejar Warga, Pelaku Malah Ketakutan hingga Telpon Polisi Minta Ditolong

Melalui pendekatan Formalisme Rusia, cerpen Mata yang Enak Dipandang dapat dipahami sebagai karya dengan struktur internal yang solid dan penggunaan gaya bahasa yang dominan berupa majas perbandingan.

Alur maju yang jelas memudahkan pembaca memahami fabula dan sujzet.

Struktur orientasi, konflik, klimaks, resolusi, hingga koda tersusun rapi.

Sementara itu, penggunaan personifikasi, hiperbola, simile, metafora, dan sinestesia memperkuat efek estetik serta menghadirkan pengalaman membaca yang lebih mendalam.

Baca Juga: ASN, TNI, Polri, dan Pensiunan Full Senyum! Rp55 Triliun Digelontorkan untuk THR 2026, Cair Awal Ramadhan

Cerpen ini membuktikan bahwa kekuatan sastra tidak hanya terletak pada tema, tetapi juga pada cara cerita disusun dan bahasa dimanfaatkan.

Di tangan Ahmad Tohari, kisah sederhana tentang dua pengemis berubah menjadi potret tragis yang sarat nilai estetik dan struktur yang matang.***