POJOKSATU.id, JAKARTA— Kapal induk USS Gerald R Ford (CVN-78) milik AS mampu mengangkut lebih dari 75 hingga 90 unit pesawat tempur dan helikopter dari berbagai jenis.
Kapal induk ini memiliki panjang hampir 3 kali lapangan sepakbola atau panjang keseluruhan mencapai 1.106 kaki atau sekitar 337 meter.
Untuk lebar dek penerbangan sekitar 78 meter. Tinggi kapal induk 76 meter. Dan bobotnya lebih dari 100.000 ton.
Jenis pesawat yang bisa diangkut antara lain jet tempur siluman F-35C Lightning II, F/A-18E/F Super Hornet, pesawat perang elektronika EA-18G Growler, E-2D Advanced Hawkeye, serta helikopter MH-60 R/S.
Kapal induk ini juga dilengkapi sistem elektromagnetik (EMALS) yang memungkinkan penerbangan bisa 160 per hari.
Baca Juga: DKPP Kota Bandung Gelar Expo Bangsawan, Vaksin Gratis dan Mobil Klinik Keliling Diluncurkan
Kapal ini membutuhkan sekitar 2.600 - 4.500 personel untuk mengoperasikan kapal dan sayap udara.
Berada di Karibia
Berita sebelumnya, sebuah citra satelit memperlihatkan kapal induk USS Gerald R Ford sudah berada di kawasan Karibia.
Pentagon juga dilaporkan akan mengirim tambahan kapal induk ke Timur Tengah, lengkap dengan pesawat tempur, kapal perusak rudal, serta ribuan personel militer.
Baca Juga: Jelang Ramadhan 1447 H, Pemkot Bengkulu Sidak Daging: Cegah Gelonggongan hingga Cacing Hati
Langkah ini diambil setelah diplomat AS dan Iran bertemu di Oman pekan lalu untuk mencoba menghidupkan kembali perundingan terkait program nuklir Teheran.
Dalam kunjungannya ke pangkalan militer di North Carolina, Trump mengakui negosiasi dengan Iran tidak mudah.
“Sulit untuk mencapai kesepakatan,” kata Trump, dikutip dari Reuters, Sabtu 14 Februari 2026.
“Terkadang Anda harus memiliki rasa takut. Hanya itulah yang benar-benar akan menyelesaikan situasi ini," ujarnya.
Menanggapi kesiapan operasi militer tersebut, juru bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan mereka memiliki semua opsi terkait Iran.
“Presiden Trump memiliki semua opsi yang tersedia terkait Iran,” katanya.
Ia menambahkan bahwa presiden mendengarkan berbagai pandangan sebelum mengambil keputusan akhir demi kepentingan keamanan nasional. Sementara itu, Pentagon menolak berkomentar.
Berbeda dengan serangan terbatas sebelumnya, kali ini perencanaan militer disebut jauh lebih kompleks.
Jika kampanye berkelanjutan benar-benar dilakukan, AS tidak hanya menargetkan fasilitas nuklir, tetapi juga instalasi negara dan keamanan Iran.***

