POJOKSATU.ID - Di balik bangku-bangku sekolah dasar yang tampak biasa, ada persoalan besar yang jarang dibicarakan siapa yang menjaga kesehatan mental anak-anak dari keluarga miskin?
Tragedi yang melibatkan anak SD akibat tekanan ekonomi membuka mata publik bahwa persoalannya bukan semata soal uang, buku, atau pena, melainkan ketiadaan pendampingan psikologis yang memadai sejak dini.
Isu ini kerap tenggelam karena perhatian publik lebih sering tertuju pada aspek fisik pendidikan gedung sekolah, kurikulum, atau bantuan materi.
Padahal, bagi anak-anak rentan ekonomi, beban mental bisa jauh lebih berat dibandingkan beban pelajaran.
Baca Juga: Mahfud MD Tercengang! DPR Mendadak Ganti Hakim MK, Proses Dinilai Makin Ga Keliatan!
Anak SD dan Dunia Batin yang Tak Terlihat
Anak usia sekolah dasar belum memiliki kemampuan mengelola emosi seperti orang dewasa.
Mereka belum mampu memaknai kesulitan secara rasional.
Ketika menghadapi keterbatasan ekonomi, tekanan akademik, atau rasa berbeda dari teman-temannya, semua itu diserap mentah-mentah ke dalam batin.
Masalahnya, dunia batin anak tidak selalu tampak di rapor atau nilai ujian.
Baca Juga: Sering Merasa Lelah Mental? Ini Tanda Kamu atau Orang Terdekat Butuh Bantuan Profesional
Anak bisa tetap duduk rapi di kelas, tetap hadir setiap hari, namun menyimpan kecemasan, rasa takut, dan rasa rendah diri yang terus menumpuk.
Dalam banyak kasus, tidak ada satu pun orang dewasa yang secara khusus bertanya “Kamu baik-baik saja?”
Minimnya Pendampingan Psikologis di Sekolah Dasar
Di tingkat sekolah dasar, keberadaan konselor atau psikolog masih sangat terbatas.
Banyak sekolah tidak memiliki tenaga pendamping psikologis sama sekali.
Jika pun ada guru BK, perannya sering kali lebih fokus pada kedisiplinan dan administrasi, bukan pendampingan mental mendalam.
Anak-anak dari keluarga miskin menjadi kelompok paling rentan dalam situasi ini.
Mereka menghadapi tekanan berlapis kondisi ekonomi keluarga, tuntutan sekolah, serta tekanan sosial dari lingkungan sebaya.
Namun, tidak ada sistem yang secara aktif memantau kondisi mental mereka.
Akibatnya, masalah psikologis anak sering kali baru disadari ketika sudah terlambat.
Ketika Anak Dipaksa Tangguh Terlalu Dini
Ada anggapan keliru yang masih kuat di masyarakat anak harus kuat, anak harus terbiasa susah, anak harus mengerti kondisi orang tua.
Kalimat-kalimat ini terdengar bijak, tetapi dalam praktiknya sering kali memaksa anak memikul beban emosional yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang dewasa.
Baca Juga: Seleksi Kepala Sekolah SMA Garuda Baru Dibuka, Ini Syarat dan Jadwal Pendaftarannya
Anak dari keluarga miskin belajar menahan diri, tidak mengeluh, tidak meminta.
Mereka terbiasa menyimpan perasaan karena takut dianggap manja atau tidak tahu diri.
Ketangguhan semu inilah yang sering menutupi luka psikologis yang sebenarnya.
Tanpa pendampingan, anak bisa merasa sendirian menghadapi dunia yang terasa terlalu berat.
Sekolah sebagai Ruang Aman yang Belum Sepenuhnya Aman
Idealnya, sekolah menjadi ruang aman kedua setelah rumah.
Namun bagi sebagian anak miskin, sekolah justru menjadi sumber tekanan tambahan.
Teguran soal tugas, perlengkapan sekolah yang kurang, atau perbandingan dengan teman sebaya bisa menjadi pemicu stres yang berulang.
Tanpa pendekatan psikologis yang tepat, sekolah hanya berfungsi sebagai ruang akademik, bukan ruang tumbuh yang utuh.
Aspek kesehatan mental anak sering kali berada di urutan paling belakang, kalah oleh target nilai dan kelulusan.
Ketimpangan yang Tak Kasatmata
Ketimpangan dalam pendidikan tidak hanya soal fasilitas fisik, tetapi juga soal akses terhadap dukungan emosional.
Anak dari keluarga mampu mungkin memiliki orang tua yang lebih hadir, akses konseling, atau lingkungan yang suportif.
Sebaliknya, anak miskin sering menghadapi keterbatasan di semua sisi.
Ketimpangan ini tidak terlihat jelas, tetapi dampaknya sangat nyata.
Anak yang tumbuh tanpa dukungan mental berisiko mengalami kecemasan, depresi, atau perasaan tidak berharga sejak usia sangat muda.
Peran Orang Dewasa yang Terlupakan
Guru, orang tua, dan lingkungan sekitar sebenarnya memegang peran kunci.
Namun tanpa kesadaran dan pengetahuan tentang kesehatan mental anak, banyak tanda bahaya yang terlewat.
Anak yang mendadak pendiam, menarik diri, atau takut ke sekolah sering dianggap “biasa”.
Padahal, perubahan kecil dalam perilaku anak bisa menjadi sinyal besar adanya tekanan batin.
Sayangnya, tidak ada sistem yang memastikan sinyal ini ditindaklanjuti dengan pendampingan profesional.
Menggeser Cara Pandang, Dari Ekonomi ke Mental Anak
Tragedi yang melibatkan anak SD seharusnya menjadi titik balik.
Bukan hanya untuk memperbaiki bantuan ekonomi, tetapi juga untuk menempatkan kesehatan mental anak sebagai isu utama dalam pendidikan dasar.
Anak-anak tidak hanya butuh buku dan pena.
Baca Juga: Siap-Siap Lansia dan Penyandang Disabilitas Kebagian MBG! Gus Ipul Sudah Siapkan Rencananya
Mereka juga membutuhkan rasa aman, didengar, dan dipahami.
Pendampingan psikologis bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar bagi anak, terutama mereka yang hidup dalam kerentanan.
Tidak ada satu solusi instan.
Namun langkah pertama adalah mengubah cara pandang.
Berhenti menganggap anak selalu baik-baik saja hanya karena mereka diam.
Mulai bertanya, mulai mendengar, dan mulai menyediakan ruang aman bagi kesehatan mental anak.
Karena pada akhirnya, anak yang sehat mentalnya adalah fondasi masa depan bangsa.
Dan kegagalan menjaga mental anak hari ini adalah luka sosial yang akan kita tanggung bersama di kemudian hari.***

