POJOKSATU.ID - Sejumlah pengguna e-wallet belakangan mengeluhkan hilangnya opsi pembelian token listrik nominal Rp20 ribu di beberapa platform dompet digital.

Padahal, nominal kecil tersebut selama ini menjadi pilihan favorit masyarakat, terutama pelanggan listrik prabayar dengan daya rendah dan kebutuhan harian terbatas.

Fenomena ini memicu pertanyaan publik mengapa e-wallet menghapus opsi token listrik Rp20 ribu?

Apakah ada perubahan kebijakan dari PLN, atau justru murni strategi bisnis penyedia layanan pembayaran digital?

Baca Juga: ANTAM Percepat Penyaluran Bantuan dan Kerahkan Tim Tanggap Darurat untuk Bencana di Aceh dan Sumatra

Bukan Kebijakan PLN, Ini Penjelasannya

Perlu ditegaskan, PLN tidak pernah menghapus nominal token listrik Rp20 ribu.

Token dengan nilai tersebut masih tersedia secara resmi dan dapat dibeli melalui berbagai kanal lain seperti loket pembayaran, minimarket, aplikasi PLN Mobile, maupun agen resmi.

Artinya, hilangnya opsi Rp20 ribu di beberapa e-wallet bukan berasal dari kebijakan PLN, melainkan keputusan masing-masing penyedia layanan digital.

E-wallet memiliki kewenangan mengatur daftar produk, termasuk denominasi token listrik yang ditampilkan kepada pengguna.

Baca Juga: Insentif PPh 21 2026 Dijanjikan Pemerintah, Pekerja Tertentu Dapat Tambahan Gaji Bersih hingga Jutaan Rupiah

Alasan Biaya Administrasi dan Efisiensi Sistem

Salah satu alasan utama penghapusan token listrik nominal kecil adalah biaya administrasi.

Setiap transaksi token listrik melibatkan biaya sistem, biaya switching, hingga biaya layanan pihak ketiga.

Untuk nominal Rp20 ribu, margin yang diperoleh e-wallet dinilai terlalu kecil, bahkan berpotensi merugi jika volume transaksi tinggi.

Dengan kata lain, semakin kecil nominal token, semakin tidak sebanding antara biaya operasional dan keuntungan yang diperoleh penyedia e-wallet.

Karena itu, beberapa platform memilih menaikkan batas minimal pembelian menjadi Rp50 ribu atau Rp100 ribu demi efisiensi bisnis.

Baca Juga: Total Kerugian Akibat Banjir dan Tanah Longsor di Sumut Capai Rp 18,37 Triliun, Surya: 14 Kabupaten dan 5 Kota Terdampak

Strategi Mendorong Transaksi Bernilai Lebih Besar

Selain efisiensi, penghapusan nominal kecil juga berkaitan dengan strategi bisnis.

E-wallet cenderung mendorong transaksi dengan nilai lebih besar agar:

Biaya layanan lebih tertutup

Nilai transaksi (gross transaction value/GTV) meningkat

Beban sistem transaksi mikro berkurang

Dari sudut pandang bisnis digital, transaksi bernilai kecil namun sangat sering justru dapat membebani sistem tanpa memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan.

Faktor Perilaku Pengguna dan Promo

Alasan lain yang tak kalah penting adalah perubahan perilaku pengguna.

Baca Juga: HPCI Bandung Chapter Gelar Musda ke-6, Tetapkan Ketua Periode 2025–2028

Banyak pengguna e-wallet kini memanfaatkan promo, cashback, atau diskon.

Untuk nominal kecil seperti Rp20 ribu, promo sering kali tidak relevan atau bahkan tidak dapat diterapkan, sehingga minat beli dinilai lebih rendah dibanding nominal lebih besar.

Beberapa e-wallet juga mengarahkan pengguna untuk membeli token listrik dengan nominal lebih tinggi agar saldo listrik cukup untuk jangka waktu lebih lama, sehingga transaksi tidak perlu dilakukan terlalu sering.

Meski masuk akal dari sisi bisnis, kebijakan ini tetap berdampak bagi sebagian masyarakat, terutama pelanggan listrik prabayar dengan penghasilan harian atau daya listrik rendah.

Token Rp20 ribu selama ini menjadi solusi cepat untuk menjaga listrik tetap menyala tanpa harus mengeluarkan dana besar sekaligus.

Sebagai alternatif, masyarakat masih bisa membeli token listrik nominal kecil melalui aplikasi resmi PLN Mobile, loket pembayaran, atau minimarket yang masih menyediakan berbagai pilihan denominasi.

Baca Juga: Pemerintah Tanggung PPh 21, 2,2 Juta Pekerja Berpenghasilan Kurang dari Rp10 Juta Dapat Insentif Fiskal 2025–2026

Apakah Opsi Rp20 Ribu Bisa Kembali?

Pengamat ekonomi digital menilai opsi token Rp20 ribu bisa saja kembali, tergantung evaluasi masing-masing e-wallet.

Jika permintaan pengguna tinggi atau ada penyesuaian biaya sistem, penyedia layanan dapat kembali menampilkan nominal tersebut.

Namun selama biaya transaksi masih dianggap tidak seimbang dengan nilai pembelian, e-wallet cenderung mempertahankan batas minimal yang lebih tinggi.

Beberapa e-wallet dan aplikasi bank menghapus opsi denom Rp20.000 untuk pembelian token listrik karena kebijakan internal masing-masing platform, bukan aturan dari PLN.

Baca Juga: BRI Satukan Langkah untuk Sumatra, Siapkan Rp50 Miliar untuk Percepat Pemulihan Bencana

Hal ini dimulai sekitar November 2025 di channel seperti BRImo, untuk efisiensi operasional dan penyesuaian sistem penjualan.

Alasan Utama Penghapusan

E-wallet menerapkan kebijakan sendiri terkait denominasi token, seperti membatasi nominal kecil untuk mengurangi transaksi rendah nilai yang dianggap kurang efektif.

PLN tetap menyediakan Rp20.000 via PLN Mobile, tapi mitra bank/e-wallet seperti BRI memilih hapus untuk fokus nominal lebih besar (Rp50.000 ke atas).

Pelanggan dengan saldo minim kesulitan isi token darurat, memicu keluhan di medsos seperti di Padangsidimpuan.

E-wallet prioritaskan promo nominal besar, sementara batas saldo aman Rp20 juta tak terkait langsung.

Gunakan PLN Mobile untuk denom mulai Rp5.000-Rp20.000 tanpa batas ketat.

Cek aplikasi resmi PLN untuk verifikasi terkini, hindari hoaks penghapusan total.***