POJOKSATU.ID - Internet Rakyat menggunakan teknologi 5G FWA (Fixed Wireless Access) yang disalurkan via sinyal dari menara BTS ke modem rumah bukan lewat kabel fiber optik.

Teknologi ini memungkinkan instalasi cepat, tanpa menarik kabel ke tiap rumah, sehingga cocok untuk area yang sulit dijangkau fiber. 

Di satu sisi, itu solusi efisien tapi di sisi lain, berarti kualitas koneksi bergantung besar pada jarak ke BTS, kondisi lingkungan, dan jumlah pengguna di satu BTS.

Semakin dekat rumah pengguna ke menara BTS, semakin kuat sinyal yang diterima modem.

Baca Juga: DIMULAI 30 November 2025! Ini Tahapan Lapor Diri ke LPTK Bagi Peserta PPG Guru Tertentu Tahap 5 Tahun 2025!

Sebaliknya, jika rumah jauh atau terhalang gedung, pohon, bukit, atau bangunan padat sinyal bisa melemah, menghasilkan koneksi lemot atau tak stabil.

Ini karena sinyal wireless, terutama 5G FWA, rentan terhadap hambatan fisik dan degradasi jarak.

Itu sebabnya di satu kecamatan atau bahkan satu desa kualitas bisa berbeda yang dekat BTS bisa ngebut, tapi yang jauh seringkali kesulitan mendapat kecepatan maksimal.

Selain jarak, jumlah pengguna yang terhubung ke satu BTS secara bersamaan juga krusial.

Baca Juga: Heboh! 10,5 Juta Hektare Hutan Hilang, Indonesia Jadi Jawara Deforestasi

Saat banyak orang memakai internet di waktu bersamaan malam hari, akhir pekan, jam belajar atau kerja remote trafik data bisa melonjak.

Jika kapasitas BTS/FWA terbatas, kecepatan melambat atau koneksi jadi tidak stabil. 

Dengan layanan murah seperti Internet Rakyat (kuota unlimited, tarif flat), potensi pengguna massif sangat besar maka tekanan pada BTS tinggi.

Tanpa distribusi menara merata dan manajemen kapasitas, kualitas bisa timpang dari satu lokasi ke lokasi lain.

Menurut data penyedia, layanan Internet Rakyat saat ini memang masih dalam tahap ekspansi dan jangkauannya belum merata ke seluruh wilayah.

Banyak wilayah terutama daerah pedesaan atau pinggiran belum tercover BTS FWA. 

Artinya sebelum berlangganan, pelanggan perlu cek dulu apakah alamat mereka termasuk area cakupan.

Jika tidak kualitas layanan bisa jauh di bawah janji kecepatan maksimal.

Baca Juga: Inovasi Digital GIIAS 2025, Begini Astra Financial Membangun Ekosistem Otomotif yang Lebih Praktis dan Aman

Sebagai konsumen, penting untuk mengetahui apakah rumah berada dalam jangkauan baik dekat BTS, tanpa penghalang besar, serta apakah BTS tidak terlalu padat pengguna.

Dengan informasi ini, mereka bisa punya ekspektasi realistis terhadap layanan, bukan berharap selalu 100 Mbps.

Transparansi dari penyedia layanan menjadi penting peta cakupan, estimasi kecepatan realistik, dan kondisi ideal supaya pelanggan bisa menilai apakah layanan sesuai kebutuhan.

Teknologi FWA memberi kemudahan dan kecepatan penyebaran ideal untuk menjangkau area sulit fiber. 

Baca Juga: Starlink Turun Tangan! Internet Gratis Digelontorkan untuk Sumatra di Tengah Banjir Besar

Tapi agar kualitas konsisten perlu penambahan kesempatan BTS di area padat, perhitungan kapasitas sesuai jumlah pengguna, dan edukasi kepada pelanggan agar memahami batasan teknologi nirkabel.

Dengan begitu, layanan seperti Internet Rakyat bisa menjadi solusi akses internet yang adil dan merata bukan hanya hype belaka.***