POJOKSATU.id - Aksi bundir atau bunuh diri kerap terjadi di sejumlah daerah dan dilakukan dengan berbagai cara.

Salah satunya dengan gantung diri atau gandir seperti yang dilakukan seorang warga Ciamis di jembatan penyeberangan orang atau JPO Cimindi, pada Jumat 14 Juli 2023.

Jenazah korban pertama kali diketahui warga yang hendak menggunakan JPO pada Jumat pagi.

Sontak saja, lokasi sekitar JPO yang terletak di perbatasan Kota Bandung dan Kota Cimahi itu dipadati pengendara atau masyarakat yang kebetulan melintas.

Baca Juga: Kisah Kelam Denny Caknan, Pernah Jadi Tukang Kebun, Sulit Kuliah, Sampai Miliki Hutang Ratusan Juta

Peristiwa itu juga sempat membuat macet jalanan karena masyarakat yang menumpuk di lokasi.

Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan kepolisian, korban diidentifikasi berinisial BS.

Pria warga Ciamis berusia 59 tahun itu juga diketahui tidak memiliki keluarga di Kota Bandung.

Hingga saat ini, kasus bundir di JPO Cimindi itu masih ditangani Polsek Andir.

Baca Juga: Pantai Tanjungpakis Karawang: Pesona Alam yang Memikat Wisatawan

Lalu, apa sebenarnya alasan yang mendorong seseorang melakukan bundir?

Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan WHO atau Badan Kesehatan Dunia pada 2014 lalu, ada sejumlah fakta di balik aksi bundir.

Apa saja? Berikut 10 fakta bunuh diri atau bundir dan pencegahannya yang dirangkum dari berbagai sumber.


1. Tanda-tanda

Disebutkan bahwa hampir semua orang yang hendak melakukan bunuh diri selalu menunjukkan tanda-tanda tertentu.

Semisal perkataan, tindakan, perubahan perilaku yang bisa dilihat secara kasat mata yang mengarah pada bundir.

Sejumlah kasus menunjukkan bahwa mereka kerap lebih dulu menarik diri dari pergaulan atau lingkaran pertemanan.

Baca Juga: Jadwal Bola Hari Ini 15 Juli: 4 Pertandingan Pekan ke-3 Liga 1

Namun ada juga yang tidak menunjukkan tanda-tanda dan peringatan apapun.

Kondisi atau tanda-tanda yang tersirat ini bisa dilihat atau diketahui oleh orang-orang terdekatnya.

Dengan kepekaan dan pendekatan, tindakan bunuh diri bisa dilakukan.


2. Lari dari sakit berlebihan

Psikolog sosial asal Amerika, Roy Baumeister, berpendapat bunuh diri adalah tindakan yang dipilih seseorang untuk lari dari rasa sakit yang belebihan.

Hal itu berarti bahwa orang yang melakukan bundir sejatinya masih memiliki keinginan untuk hidup.

Itu jika ia bisa menemukan solusi dari permasalahan yang sedang dihadapi atau dialami.

Maka yang sangat dibutuhkan adalah dukungan emosional dari orang-orang terdekatnya.

Baca Juga: Gedung K-Ling Tower Lantai 7 Kebakaran, Asap Pekat di Atas Langit Jakarta

Yakni dengan mendengarkan keluhan sekaligus memberikan empati

Disebutkan bahwa penyintas bundir mengungkap bahwa mereka justru sangat bersyukur ketika bisa mendapatkan kesempatan kedua menjalani hidup.

Setidaknya mereka bisa menemukan orang atau hal yang membuatnya menemukan alasan untuk hidup dan tetap bertahan.


3. 'Penyaluran' yang salah

Yang perlu diingat adalah, ketika seseorang mendapati rasa sakit yang dirasa sangat luar biasa, maka ia akan kehilangan kemampuan mengatur emosi.

Hal ini pula yang memicu seseorang memiliki kecenderungan untuk mengakhiri hidup.

Meski cara yang ditempuh bisa berbagai macam, tapi intinya itu dilakukan untuk mencari perhatian orang yang tidak bisa memahami apa yang sedang dirasakan penyintas.

Itu tergambar dari kerap kali tindakan mengakhiri hidup yang dilakukan di tempat publik.

Baca Juga: Gabus Pucung Karawang, Sensasi Makanan Khas di Kota Lumbung Padi

Pengakuan penyintas, mereka telah mengalami kecemasan, depresi, dan rasa putus asa yang tidak berkesudahan tanpa ada solusi apapu.

Pada titik itulah mereka sangat membutuhkan pertolongan secepat mungkin dari orang yang dekat atau dikenalnya.


4. Jangan 'menghakimi'

Banyak ahli berpendapat, penyebab seseorang bunuh diri disebabkan beragam faktor mulai dari biologis, psikologis, dan sosial.

Semua faktor pendorong tersebut saling berkaitan satu sama lain.

Reaksi seseorang saat menghadapi masalah juga akan berbeda. Semisal putus cinta, ekonomi atau lainnya.

Baca Juga: Kawasan Rebana Bakal Serap 4,49 Juta Pekerja

Itu karena pengalaman dan banyak faktor dari orang per orang yang berbeda.

Tapi bagi penyintas, peristiwa tersebut akan memicu reaksi dan perubahan drastis.

Ditambah banyak 'peristiwa' negatif yang dialami, maka hal itu bisa menjadi pemicu keinginan bunuh diri.

Baca Juga: Gubernur Ridwan Kamil Lantik 1.664 PNS Fungsional, Minta Pegawai Beri Dedikasi Tinggi

Karena itu, jangan terburu-buru membuat kesimpulan, menduga dan berasumsi.

Karena banyak faktor dan peristiwa yang dialami penyintas yang kita tidak ketahui.

Apalagi jika kemudian malah tindakan tersebut akan menambah beban dari penyintas.


5. Bertanya

Jika melihat atau mengetahui adanya keinginan orang untuk bunuh diri, Anda bisa menanyakannya.

Hal itu akan membuka dan memberikan ruang kepada penyintas untuk menceritakan permasalahannya.

Baca Juga: BPBD Sediakan Perahu Karet untuk Evakuasi Korban Banjir di Padang Bagi Masyarakat Rentan

Berikan ruang seluas-luasnya agar penyintas mau bercerita tanpa merasa takut dan ragu, dihakimi atau dicela.

Jika memang diperlukan, bisa menindaklanjutinya ke psikolog atau psikiater.

Yang harus dilakukan adalah 'menjauhkan' akses penyintas pada bahaya dan berusaha menyelamatkan nyawanya.


6. Keyakinan

Faktor keyakinan penyintas pada Tuhan dan agama bisa jadi salah satu faktor pencegah bunuh diri.

Itu akan menjadi motivasi penyintas untuk tetap bertahan dan memiliki harapan.

Baca Juga: Sosok Polisi Paling Inovatif, Kapolresta Bandung Kombes Pol Kusworo Raih Penghargaan Hoegeng Award 2023

Kegiatan keagamaan atau siraman rohani yang menyejukkan, juga bisa membantu kesehatan mental penyintas.

Karena itu ajak dan berikan bimbingan kepada penyintas untuk makin mendekatkan diri kepada Tuhan.


7. Bukan gangguan jiwa

Yang tidak kalah penting dan perlu diketahui adalah, bahwa 50 persen orang yang melakukan bunuh diri, sebelumnya tidak pernah memiliki riwayat gangguan kejiwaan.

Hal itu didasarkan para studi CDC atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat.

Baca Juga: Soal Postingan Arwah Korban Pembunuhan di Subang Sebut Orang Terdekat Kejam, Yosep Bakal Adakan Konpres

Ini sejalan dengan pernyataan WHO dimana tidak semua orang dengan gangguan jiwa selalu berpikiran untuk bunuh diri.

Gangguan jiwa tidak selalu hadir dalam setiap peristiwa bunuh diri.

Meskipun depresi merupakan salah satu faktor risiko bunuh diri yang signifikan.


8. Dominan Laki-laki

Yang perlu diketahui juga adalah, jumlah laki-laki yang melakukan bunuh diri di seluruh dunia, jauh lebih banyak ketimbang kaum perempuan.

Di Indonesia, jumlah kaum laki-laki yang memutuskan mengakhiri hidupnya diperkirakan 3 kali lebih bayak ketimbang perempuan.

Hal ini disebabkan pandangan bahwa laki-laki harus kuat, tahan banting, tidak boleh lemah, tidak boleh menangis, dan sebagainya.

Baca Juga: Tinjau Korban Banjir di Padang, Wali Kota Hendri Septa Sebut Pasang Air Laut Sumbang Terjadinya Banjir

Justru itulah yang membuat laki-laki sulit memperoleh bantuan atau takut untuk mencari bantuan ketika mengalami permasalahan yang sangat serius.

Karena itu, laki-laki cenderung mencari cara yang lebih agresif untuk bunuh diri.

Terlebih jika di dalam masyarakat laki-laki memiliki lebih banyak akses ke benda atau tempat tertentu yang mematikan.


9. Siapa saja

Ubahlah pandangan bahwa seseorang yang ingin mengakhir hidupnya itu hanya dialami oleh orang-orang tertentu.

Semisal karena keterbatasan ekonomi. Faktanya, tindakan ini juga dilakukan oleh orang dengan latar belakang ekonomi yang cukup.

Baca Juga: Hindari Politik Uang Jelang Pemilu 2024, KPK Luncurkan Kampanye Hajar Serangan Fajar

Demikian juga anggapan bahwa mereka adalah orang-orang yang kurang bahagia.

Faktanya, orang-orang yang selama ini dianggap bahagia dan hidup yang sukses pun bisa melakukannya.


10. Bukan mistis atau gaib

Hilangkanlah anggapan bahwa perilaku bunuh diri dan mengaitkannya dengan hal-hal berbaus mistis atau gaib.

Ketahuilah pula bahwa membawa orang yang mengalami gangguan kejiwaan ke paranormal, dukun, 'orang pintar' dan sejenisnya, tidak membuat orang tersebut 'sembuh'.

Baca Juga: Jadi Tersangka KDRT Istri Hamil Muda Tangsel, BD Malah Kirim VN Bantai Satu per Satu, Masih Tipiring?

Keinginan bunuh diri disebabkan banyak faktor biologis, psikologis dan sosial yang saling berkaitan satu sama lainnya.

Itulah informasi 10 fakta bunuh diri, tanda-tanda dan pencegahan yang bisa dilakukan. Semoga bermanfaat. ***