POJOKSATU.id - Keselamatan penyelam menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pencarian korban Kapal Virgo Transport 8.

Kondisi badan kapal yang labil membuat operasi underwater atau penyelaman tidak lagi dilanjutkan.

Basarnas kini mengalihkan fokus pencarian ke permukaan air.

Langkah tersebut diambil setelah kemampuan maksimal penyelaman terhadap badan kapal dilakukan dan selama tiga hari terakhir tidak lagi ditemukan korban.

"Kemampuan maksimal penyelaman terhadap badan kapal telah dilakukan, dan tiga hari terakhir ini tidak menemukan korban lagi," tutur Kepala Basarnas RI M Syafii.

Baca Juga: Polsek Baru

Menurut Syafii, masih ada bagian kapal yang belum tersentuh penyelam, termasuk lambung kiri.

Namun, kondisi badan kapal dan bagian dalamnya yang sangat labil membuat penyelaman lanjutan berisiko terhadap keselamatan personel.

Karena itu, Basarnas berharap pemilik kapal segera melakukan operasi salvage atau pengangkatan badan kapal.

Dengan kapal yang diangkat dari dasar laut, posisi korban yang kemungkinan masih berada di dalam badan kapal dapat dipastikan.

Proses evakuasi juga diharapkan menjadi lebih memungkinkan setelah kapal berada dalam kondisi yang dapat ditangani.

Baca Juga: 164 Emas Memisahkan China dan Indonesia: Mengapa Jurang Prestasi Asian Games Begitu Lebar?

Perubahan strategi pencarian ini juga dipengaruhi kondisi jasad korban.

Syafii mengatakan proses pencarian telah memasuki hari ketiga, yang menurutnya merupakan batas penting dalam periode pencarian.

Dia menjelaskan, golden time pencarian berada sejak hari pertama hingga hari ketiga.

Pada hari-hari sebelumnya, kondisi jasad korban yang berhasil ditemukan masih memungkinkan untuk dilepaskan dan kemudian muncul ke permukaan.

"Jika pada hari sebelumnya korban bisa naik sendiri setelah dikeluarkan, kini korban dapat terurai ketika berhasil dikeluarkan dari kapal. Karena itu tidak efektif operasi underwater terus dilanjutkan," jelas Syafii.

Baca Juga: Mengirim 430 Atlet ke Jepang, Apa Hasil yang Didapat Indonesia di Asian Games 2026?

Perubahan kondisi tersebut membuat pencarian dengan penyelaman dinilai tidak efektif jika terus dipaksakan.

Basarnas kemudian menyesuaikan metode dengan mengandalkan pencarian di permukaan.

Meski begitu, wilayah operasi justru dapat diperluas.

Temuan korban sebelumnya menunjukkan adanya kemungkinan korban terbawa hingga wilayah yang lebih jauh dari lokasi utama kapal.

"Operasi ini kita sesuaikan bahkan bisa dikatakan diperluas. Karena adanya temuan korban sampai Kalimantan Tengah bahkan, ditemukan perahu karet ada di wilayah Kalimantan Barat. Korban juga ada yang masuk ke wilayah dari Kalteng ke wilayah Kalbar," terangnya.***