POJOKSATU.id - Kepala BGN Sudaryono memberikan jawaban yang tidak nyambung saat dicecar soal nasib MBG yang ditolak, tidak dimakan dan tersisa.
Alih-alih menjawab pertanyaan dengan memaparkan mekanisme penanganan sisa MBG yang tidak dikonsumsi.
Sudaryono malah ngalor ngidul membahas soal mekanisme dan sistem distribusi makan bergizi gratis ke sekolah-sekolah.
Dengan kata lain jawaban Mas Dar seperti pantun "Jaka Sembung mampir Kota Buol, kagak nyambung puooll."
Baca Juga: Pegawai SPPG Hina Korban Keracunan Menu MBG Berastagi, Wapres Gibran Sampai Turun Tangan
Belum lagi saat menjawab, Sudaryono terlihat sempat kebingungan dan terbata-bata.
Ia bahkan sampai sempat "berkonsultasi" dengan salah satu wakilnya yang duduk di samping kirinya.
Momen itu terjadi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Badan Gizi Nasional dengan Komisi IX DPR RI, di Parlemen, Senayan, Jakarta pada Kamis 17 September 2026.
Momen Mas Dar gelagapan itu terjadi tepatnya saat Wakil Ketua Komisi IX Charles Honoris menanyakan soal nasib ribuan porsi MBG yang "mubazir".
Baca Juga: Viral Pegawai BGN Disebut Hina Korban Keracunan MBG, Ngeles Minta Maaf Singgung Cocoklogi
"Jadi, kalau misalnya di sekolah itu, orangtua tidak mengizinkan anaknya untuk mengkonsumsi, lalu sisa makanannya akan dibuat apa?" tanya Chales, sebagaimana dikutip Pojoksatu.id.
Padahal menu tersebut sudah dimasak sebelumnya. Bahan-bahannya dibeli pakai uang anggaran negara.
Diolah, dimasak, dikemas alias "plating" di ompreng satu per satu. Lalu diantarkan ke sekolah-sekolah.
Semuanya dikerjakan pegawai SPPPG yang digaji juga pakai anggaran negara yang diambil dari pajak rakyat.
"Apakah dikembalikan atau dibuang? Atau seperti apa?" sambung dia.
Charles lantas menganalogikakan pertanyaannya dengan sangat sederhana.
Semisal nih, di sebuah sekolah ternyata ada 40 persen yang menolak MBG.
Sementara 60 persen lainnya memilih untuk mengkonsumsi atau memakannya.
Baca Juga: Bukan Prabowo atau Sudaryono, Gibran Langsung Minta Maaf ke Korban Keracunan MBG
Atau bahkan sebaliknya.
"Lalu seperti apa jumlah yang akan dikirim ke sekolah itu?" cecar Charles.
Gelagapan dan Nggak Nyambung
Secara logika, jika pertanyaannya seputar "nasib MBG sisa" atau "MBG retur", maka jawabannya tentu seputar cara penanganan makanan tersebut setelah tidak dikonsumsi.
Apalagi ini kita bicara soal makanan, loh...
Baca Juga: Polemik MBG Makin Runyam, P2G Desak Sudaryono Mundur hingga Program Dihentikan
Sudah dimasak. Kalau tidak dimakan atau dikonsumsi, ya basi.
Kalau basi, ya tidak bisa dikonsumsi lagi.
Lalu apa jawaban Sudaryono?
"Sampai saat ini, Pak Charles, itu adalah, sekolah itu, kalau sekolah negeri, itu harus iya (menerima MBG), iya semua. Kalau tidak, tidak semua," jawab Mas Dar.
Saat menyampaikan kalimat ini, mantan ajudan dan asisten pribadi Prabowo itu sudah terbata-bata dan gelagapan.
Tidak seperti Sudaryono yang biasa tampil di video-video yang diunggah di akun medsos pribadinya atau akun medsos BGN.
Kalimatnya lalu terhenti.
Sempat hening beberapa detik.
Baca Juga: Pemerintahan Prabowo Sudah Gagal, Indikatornya Kasus MBG, Ekonomi sampai Pengangguran
Sudaryono juga sempat menoleh dan "berkonsultasi" dengan Wakil Kepala BGN yang ada di samping kirinya, Agustina Arumsari.
Keduanya terlihat sempat "berdiskusi kecil".
Wajahnya menunjukkan mimik cukup kebingungan menjawab cecaran pertanyaan itu.
Matanya juga tidak fokus.
Beberapa kali ia melihat hamparan kertas dan catatan di meja.
Baca Juga: Perlu Dicontoh yang Lain, Menu MBG Dicicipi Kepala SPPG Jati Sebelum Dibagikan, Hasilnya Muntah
Setelah itu, Sudartono melanjutkan paparannya.
"Mana kalau tidak, tidak semua masalah. Karena kalau, ini kan masalah, memang kita terkait itu ya, memang ada satu-dua misalnya."
"Kalau sejauh ini, Pak Charles, itu adalah, keputusannya adalah, saya sampaikan, adalah iya-iya semua dan tidak benar semua."
Dalam analoginya, tidak mungkin dalam sebuah sekolah, hanya sebagian saja yang mau mengkonsumsi sedangkan yang lainnya tidak.
"Tidak mungkin dalam satu sekolah itu kemudian ada satu dua yang temannya makan, kemudian dia tidak makan sendiri."
"Atau temannya tidak makan, dia makan sendiri."
Entah dia sadar atau tidak apakah jawabannya sudah memberikan jawaban atas pertanyaan Charles atau tidak.
Sudaryono memilih menutup dan mengakhiri sesi pertanyaan itu dengan ajakan untuk bersikap arif atau bijaksana.
"Itu saya kira. Saya kira juga kita harus arif juga dalam pendidikan ini. Bukan hanya masalah suka atau tidak suka," tutup Sudaryono Kepala BGN.***




