POJOKSATU.id — Isu mengenai potensi gempa megathrust di Indonesia kembali mendapat perhatian.
Kondisi ini tidak terlepas dari posisi Indonesia yang berada di wilayah pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan berbagai kajian terkait aktivitas lempeng serta karakteristik wilayah yang berpotensi mengalami gempa.
Ketua Task Force BRIN dalam penanganan bencana di Sumatera, Joko Widodo, menyampaikan bahwa lembaga tersebut memiliki kelompok riset geologi yang berfokus mengkaji dinamika pergerakan lempeng tektonik.
Dalam proses penelitian, BRIN turut memanfaatkan teknologi berbasis satelit untuk memantau perubahan atau pergerakan permukaan tanah.
Baca Juga: Bukan Kebetulan, Ini 7 Alasan Mengapa Kucing Sering Mendekati Orang Tertentu
Hasil pemantauan tersebut kemudian dapat digunakan untuk melihat pola pergerakan lempeng sekaligus menjadi salah satu bahan analisis dalam memperkirakan besarnya energi yang berpotensi tersimpan di suatu wilayah.
Joko menjelaskan bahwa perubahan posisi lempeng menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam penelitian kebencanaan.
Kondisi ketika lempeng mengalami pergeseran tanpa diikuti aktivitas gempa juga dapat menjadi perhatian dalam kajian tersebut.
Di sisi lain, kemunculan gempa-gempa dengan kekuatan kecil secara berulang dapat menunjukkan adanya energi tektonik yang dilepaskan secara bertahap.
Baca Juga: Ada Data Gaib, Dapodik Lembaga Kursus Dirilis Kemendikdasmen, Ini yang Harus Diperhatikan
“Kalau seandainya ada pergeseran lempeng tektonik tetapi ada gempa kecil-kecil yang sering terjadi, itu justru malah risikonya lebih kecil. Karena energinya kan dirilis sedikit demi sedikit,” kata Joko.
Selain mengamati pergerakan lempeng, BRIN juga mengembangkan penelitian di berbagai wilayah yang diketahui memiliki aktivitas kegempaan.
Salah satu kawasan yang menjadi objek kajian adalah zona di sekitar Selat Sunda.
Secara geografis, Indonesia termasuk dalam kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik yang dikenal sebagai wilayah dengan aktivitas tektonik dan vulkanik tinggi.
Mengacu pada Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, terdapat 14 zona megathrust yang tercatat di Indonesia dan wilayah sekitarnya. Masing-masing zona memiliki potensi magnitudo maksimum yang berbeda.
Berikut daftar zona megathrust tersebut:
1. Zona Megathrust Aceh-Andaman memiliki potensi magnitudo maksimum 9,2.
2. Zona Megathrust Nias-Simelue tercatat memiliki potensi magnitudo maksimum 8,7.
3. Zona Megathrust Batu memiliki potensi magnitudo maksimum 7,8.
4. Zona Megathrust Mentawai-Siberut memiliki potensi magnitudo maksimum 8,9.
5. Zona Megathrust Mentawai-Pagai memiliki potensi magnitudo maksimum 8,9.
6. Zona Megathrust Enggano memiliki potensi magnitudo maksimum 8,9.
7. Zona Megathrust Jawa memiliki potensi magnitudo maksimum 9,1.
Baca Juga: Atlet BAB di Tengah Perlombaan tapi Tetap Bertanding, Hyrox Akhirnya Minta Maaf dan Ubah Prosedur
8. Zona Megathrust Jawa bagian barat memiliki potensi magnitudo maksimum 8,9.
9. Zona Megathrust Jawa bagian timur memiliki potensi magnitudo maksimum 8,9.
10. Zona Megathrust Sumba memiliki potensi magnitudo maksimum 8,9.
11. Zona Megathrust Sulawesi Utara memiliki potensi magnitudo maksimum 8,5.
12. Zona Megathrust Palung Cotobato memiliki potensi magnitudo maksimum 8,3.
13. Zona Megathrust Filipina Selatan memiliki potensi magnitudo maksimum 8,2.
14. Zona Megathrust Filipina Tengah memiliki potensi magnitudo maksimum 8,1.
Baca Juga: Scooby-Doo Origins Tayang di Netflix 2027, untuk Pertama Kalinya Scooby-Doo Diperankan Anjing Asli
Pemetaan zona tersebut menjadi salah satu bagian dari kajian untuk mengenali sumber gempa serta tingkat potensi bahaya yang dapat muncul di berbagai wilayah.
Namun, tercantumnya suatu wilayah dalam daftar zona megathrust tidak berarti gempa dengan magnitudo maksimum tersebut akan terjadi dalam waktu dekat atau pada waktu tertentu.
Potensi yang tercantum dalam peta merupakan informasi mengenai kemampuan sumber gempa berdasarkan kajian ilmiah, bukan prediksi mengenai kapan sebuah gempa akan terjadi.
Oleh sebab itu, penelitian mengenai aktivitas tektonik perlu terus dilakukan bersamaan dengan pemantauan kondisi wilayah dan penguatan kesiapsiagaan masyarakat.
Langkah tersebut penting untuk meningkatkan pemahaman terhadap risiko gempa sekaligus mempersiapkan masyarakat menghadapi kemungkinan bencana di masa mendatang.***




