POJOKSATU.id - Kasus keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, terus bertambah.

Data terbaru mencatat sebanyak 566 santri terdampak dalam kejadian tersebut.

Besarnya jumlah korban membuat Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas.

Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana, mengusulkan agar Kepala SPPG Talang Angin dicopot sekaligus diganti.

Baca Juga: 94 Pinjol Resmi OJK September 2026, Cek Daftar Lengkap dan Cara Pastikan Legalitasnya

"Kami mengusulkan kepada kepala SPPG tersebut untuk dilakukan suatu pencopotan sekaligus melakukan pergantian," kata Ketut, Rabu 2 September 2026.

Selain usulan pencopotan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Talang Angin juga dikenai suspend kategori berat selama 30 hari.

"Kemudian kami juga melakukan suspend dengan kategori berat selama 30 hari terhadap SPPG Sidoarjo, Talang Angin," imbuhnya.

Penyebab keracunan masih diselidiki
BGN bersama Dinas Kesehatan masih melakukan investigasi untuk mencari tahu penyebab pasti ratusan orang mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan MBG.

Baca Juga: POCO X8 5G Siap Masuk Indonesia? Baterai 8.340mAh dan Sertifikasi TKDN Jadi Sinyal Kuat

Hasil pemeriksaan nantinya akan diumumkan setelah proses investigasi selesai.

"Yang pertama adalah melakukan tindakan investigasi dengan Dinas Kesehatan terkait dan hasilnya nanti kita akan umumkan apa yang menyebabkan terjadinya keracunan," ujarnya.

Di tengah proses tersebut, BGN menyatakan fokus utama saat ini adalah memastikan para korban mendapatkan penanganan medis.

"Kita akan fokus dengan penyelamatan kesehatan anak-anak kita ini di beberapa rumah sakit," tuturnya.

566 santri terdampak

Baca Juga: Proyek Sekolah Rakyat Terus Membesar, Bappenas Ingatkan Kemensos Agar Asrama Tak Berakhir Jadi Bangunan Mangkrak!

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr Lakhsmie Herawati Yuwantina, menyampaikan jumlah korban terbaru mencapai 566 orang.

Angka tersebut merupakan akumulasi dari 531 korban yang sebelumnya telah tercatat, ditambah 35 orang yang dievakuasi ke rumah sakit pada Rabu.

"Kurang lebih ada 35 (evakuasi hari ini). Di RSUD kemungkinan di RS Delta Surya juga ada," kata Lakhsmie kepada awak media, Rabu 2 Septrember 2026.

Sementara itu, RSUD RT Notopuro Sidoarjo juga menangani ratusan pasien akibat kejadian tersebut.

Baca Juga: Patriot Sejati

Humas RSUD Notopuro Sidoarjo, Rizqi Maulana, mencatat ada 380 pasien yang mendapatkan penanganan hingga pukul 15.30 WIB.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 353 orang sudah diperbolehkan pulang.

Lima pasien masih menjalani perawatan, sedangkan 22 orang lainnya masih dalam tahap observasi.

"Pukul 15.30 WIB total ada 380. Yang sudah pulang 353. Yang kita rawat ada 5. Masih observasi 22," kata Rizqi, Rabu 2 September 2026.

Kondisi pasien yang masih menjalani observasi disebut terus membaik.

Baca Juga: Cuaca Buruk Sempat Lumpuhkan Pasokan Bantuan, Strategi Darurat Kemensos Ini Jadi Sorotan Utama Bappenas!

Meski demikian, sebagian masih mengalami keluhan berupa diare dan sakit perut.

"Kondisi mereka sudah membaik. Memang masih jalan observasi tadi tadi itu diare. Masih sakit perut," ujarnya.

Lima pasien yang masih dirawat juga tidak membutuhkan penanganan di ruang ICU. Mereka ditempatkan di ruang perawatan biasa.

"Di ruangan biasa," katanya.

Kepala SPPG minta maaf
Di sisi lain, Kepala SPPG Kalitengah, Rafli Ridho, menyampaikan permintaan maaf atas kejadian keracunan yang dialami para santri Ponpes Manbaul Hikam.

Baca Juga: Pencairan TPG 2026 Bertahap, Wilayah Prabumulih Hingga Sulteng Sudah Terima Transferan

"Mohon maaf ya, saya menyesal," kata Rafli kepada awak media, Rabu 2 September 2026.

Rafli menjelaskan bahwa proses pengolahan makanan MBG dilakukan seperti biasanya.

Aktivitas memasak disebut dimulai sekitar tengah malam, sementara makanan dikirim kepada penerima sekitar pukul 11.00 WIB.

"Seperti biasa, ya jam 00.00 WIB mulai ngolah," tuturnya.

Baca Juga: SKTP Sudah Terbit Tapi Uang Belum Cair? Jangan Panik, Ini Penjelasan Resmi Kemendikdasmen!

Tidak hanya santri di pondok pesantren, laporan keluhan juga datang dari lingkungan sekolah.

Rafli menyebut ada lima siswa dari SDN Kalitengah 1 dan SDN Kalitengah 2 yang dilaporkan mengalami keluhan serupa.

"Lima itu ada SDN Kalitengah 1 dan 2," katanya.

Laporan mengenai lima siswa tersebut diterima pihak SPPG pada Selasa malam.

Waktu pelaporannya disebut lebih lambat dibandingkan laporan mengenai korban di pondok pesantren.

Baca Juga: Hutan Sumatra-Kalimantan Membara? Presiden Turunkan Babinsa Jadi Benteng Utama Kahutla!

"Ya laporannya masuknya tadi malam. Setelah konfirmasi pada keracunan," ujarnya.

Kasus ini kini masih dalam penanganan dan investigasi.

Dengan jumlah korban yang mencapai 566 orang, evaluasi terhadap proses penyediaan makanan MBG menjadi perhatian penting agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.***