POJOKSATU.id - Ketidakpastian ekonomi global, tekanan daya beli masyarakat, hingga ancaman perubahan iklim membuat Indonesia perlu menyiapkan strategi pertumbuhan yang lebih tangguh.

Salah satu pendekatan yang dinilai mampu menjawab tantangan tersebut adalah penguatan ekonomi hijau atau green economy.

Konsep ini menjadi salah satu pembahasan dalam Pleno VII Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII bertajuk "Tantangan dan Agenda Pertumbuhan dan Ketahanan Ekonomi yang Berkeadilan, Inklusif, dan Berkelanjutan" di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Sabtu 25 Juli 2026.

Baca Juga: Praktisi Pajak Ingatkan Status Keimigrasian WNA Jadi Kunci Analisis Pajak Penghasilan di Indonesia

Dalam forum tersebut, Deputi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Ferry Irawan mengungkapkan bahwa Indonesia membutuhkan mesin pertumbuhan baru agar mampu menghadapi berbagai tekanan ekonomi.

Menurutnya, pemerintah terus mendorong penguatan sektor strategis seperti pertanian, manufaktur, ekonomi digital, dan energi sebagai fondasi pertumbuhan nasional.

Selain itu, Ferry melihat ekonomi syariah memiliki peluang besar untuk ikut memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di masa mendatang.

Baca Juga: Selat Malaka: Choke Point Paling Strategis di Tengah Prioritas Ulang Strategi Amerika

Namun, pengembangan berbagai sektor tersebut perlu berjalan seiring dengan prinsip pembangunan yang berkelanjutan.

Pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya mengejar peningkatan produksi, tetapi juga harus memperhatikan dampak terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Pertumbuhan Ekonomi Harus Selaras dengan Kelestarian Lingkungan
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Prof Sylvia Veronica Nalurita Purnama Siregar, menilai arah pembangunan Indonesia harus mempertimbangkan kebutuhan generasi masa kini sekaligus generasi berikutnya.

Baca Juga: Abu Putih

"Berkelanjutan itu bagaimana suatu pembangunan bisa memenuhi kebutuhan generasi kini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya," ujarnya.

Menurut Prof Sylvia, perubahan iklim dan persoalan sosial menjadi risiko global yang semakin besar.

Karena itu, ekonomi hijau perlu menjadi bagian dari kebijakan pembangunan nasional.

"Ekonomi hijau berusaha mengimbangkan, bukan hanya fokus di aspek ekonomi saja, tapi juga aspek lingkungan dan sosial," katanya.

Baca Juga: Keluarga Ungkap Momen Terakhir Penjaga Rumah Febrie yang Tewas, Curhat Soal Dijanjikan Mobil

Ia menjelaskan bahwa pendekatan tersebut bukan berarti menghambat pertumbuhan ekonomi, melainkan mencari keseimbangan agar aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan.

Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, juga memiliki keterkaitan dengan ajaran Islam yang mengajarkan manusia agar tidak berlebihan dalam memanfaatkan sumber daya serta menjaga lingkungan sebagai amanah.

Industrialisasi Perlu Didukung Pembiayaan Hijau

Baca Juga: PSMS Medan Akui Keunggulan Port FC, Eko Purdjianto Langsung Fokus Berbenah untuk Hadapi Persebaya

Prof Sylvia menilai langkah penguatan sektor prioritas yang disampaikan pemerintah harus tetap diselaraskan dengan agenda pembangunan berkelanjutan.

Menurutnya, industrialisasi dan pengembangan sektor ekonomi baru perlu dibarengi dengan berbagai upaya, mulai dari pengurangan emisi, efisiensi penggunaan sumber daya, hingga memperluas akses terhadap pembiayaan hijau.

Dengan pendekatan tersebut, pertumbuhan ekonomi diharapkan tidak hanya memberikan keuntungan dalam jangka pendek, tetapi juga menciptakan manfaat yang dapat dirasakan lintas generasi.

Baca Juga: Karawang Serasa Lembang, Udara Malam Mendadak Sejuk Bikin Warga Betah

Semua Pihak Memiliki Peran
Mewujudkan ekonomi berkelanjutan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.

Prof Sylvia menegaskan bahwa keberhasilan agenda tersebut membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Dunia usaha, perguruan tinggi, media, organisasi keagamaan, hingga masyarakat memiliki peran dalam membangun kesadaran dan praktik ekonomi yang lebih ramah lingkungan.

Menurutnya, organisasi keagamaan juga memiliki posisi penting karena masyarakat melihat tokoh agama sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Polda Metro Belum Simpulkan Penyebab Tewasnya Penjaga Rumah Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

"Semua orang punya tanggung jawab. Sebagai institusi keagamaan, kita juga punya peranan besar karena masyarakat memandang tokoh agama sebagai teladan, memberikan edukasi, termasuk dalam pemanfaatan zakat, infak, sedekah, dan wakaf," kata dia.

Ekonomi hijau bukan hanya tentang menjaga lingkungan, tetapi juga tentang memastikan pertumbuhan ekonomi memiliki nilai manfaat yang lebih luas.

Sebab, pembangunan yang kuat bukan hanya meninggalkan angka pertumbuhan, tetapi juga meninggalkan harapan bagi generasi yang akan datang.***