POJOKSATU.id, Jakarta - Kedaulatan energi dan pangan kini menjadi fokus utama Pemerintah Indonesia.

Lewat strategi eksekusi cepat atau Best Fast Result, target swasembada bukan lagi sekadar wacana melainkan mulai terwujud secara nyata.

Salah satu bukti konkretnya adalah kesiapan implementasi program biodiesel B50.

Baca Juga: 7 Manfaat Whey Protein untuk Kesehatan, Benarkah Efektif Membangun Otot?

Hal itu ditegaskan oleh Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dalam acara Leaders Briefing di Auditorium PLN Jakarta.

Pria yang akrab disapa Mas Dar ini menyampaikan bahwa arah kebijakan strategis ini bertujuan menyamakan persepsi para pemimpin sektor demi mencapai kemandirian nasional.

Menurut Sudaryono, Presiden Prabowo Subianto menghendaki pemanfaatan seluruh potensi domestik secara maksimal, mulai dari lahan pertanian hingga sumber daya alam terbarukan.

Baca Juga: Apa Itu CV ATS? Ini Cara Membuat CV agar Lolos Screening Perusahaan

"Presiden ingin segala sesuatunya Best Fast Result. Programnya besar, dikerjakan dengan cepat, dan memberikan dampak nyata. Potensi swasembada pangan harus diwujudkan menjadi kenyataan. Potensi swasembada energi juga harus diwujudkan menjadi kenyataan," ujar Wamentan Sudaryono.

Kehadiran program B50 menjadi sinyal kuat bahwa sektor pertanian kini menjadi pilar penting penyokong kebutuhan energi nasional.

Kebijakan ini sekaligus memotong ketergantungan Indonesia terhadap solar impor, karena separuh dari bauran energinya diproduksi langsung dari kelapa sawit dalam negeri.

Baca Juga: Apakah SKPI Bisa untuk Melamar Pekerjaan? Berikut Pengertian, Isi, dan Manfaatnya

"Dengan B50, Indonesia tidak lagi mengimpor bahan bakar diesel atau solar. Lima puluh persen berasal dari minyak bumi dalam negeri dan lima puluh persen berasal dari minyak sawit yang dihasilkan petani Indonesia. Ini menunjukkan bahwa negara agraris seperti Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alam dan kerja keras petaninya untuk mencapai swasembada energi," kata Wamentan Sudaryono.

Langkah berani ini diambil setelah pemerintah dinilai berhasil memperkuat sektor pangan.

Sudaryono mengingatkan kembali masa sulit saat pandemi Covid global, di mana setiap negara cenderung menutup diri dan mengamankan pasokan pangan mereka sendiri.

Baca Juga: Legalist.id, Mitra Terpercaya untuk Pendirian PT dan Izin Usaha di Tangerang

"Saat pandemi kita merasakan sulitnya memperoleh beras dari negara lain. Dari pengalaman itulah kita bekerja keras hingga akhirnya Indonesia mencapai swasembada pangan. Sekarang kita melangkah lebih jauh dengan memperkuat swasembada energi," ujarnya.

Pendekatan Best Fast Result sengaja dipilih agar dampak positif pembangunan bisa langsung dinikmati masyarakat luas. Pemerintah berkomitmen menghindari proyek yang berjalan lamban.

"Kalau programnya besar tetapi terlalu lama dikerjakan, manfaatnya juga terlambat dirasakan. Karena itu Presiden selalu mendorong agar setiap kebijakan dieksekusi cepat dengan hasil terbaik sehingga manfaatnya segera diterima masyarakat," jelasnya.

Baca Juga: Investasi Tanah dan Properti Masih Menjanjikan? Ini Kelebihan, Kekurangan, dan Hal yang Wajib Dipahami

Pada kesempatan yang sama, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim S. Djojohadikusumo menyoroti pentingnya ketahanan energi di tengah situasi geopolitik dunia yang tidak menentu.

"Di tengah situasi geopolitik yang terus bergejolak, semakin terasa urgensi bagi Indonesia untuk membangun ketahanan energi. Sejalan dengan Astacita Presiden Prabowo Subianto, pembangunan ketahanan energi diarahkan untuk mempercepat swasembada energi, mendorong hilirisasi industri, memperkuat konektivitas, serta mempercepat transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan," ujar Hashim.

Sementara itu, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menyatakan kesiapan institusinya mendukung penuh visi presiden.

Baca Juga: Mensesneg Minta Hotman Paris Jangan Kaitkan Kasus Febrie Adriansyah dengan Presiden

Ia melihat masa depan Indonesia ada pada kemandirian energi berbasis sumber daya lokal.

"Kita sedang bergerak dari sistem energi yang berbasis impor menuju energi berbasis sumber daya domestik (domestic-based energy). Dengan begitu, ketahanan energi semakin kuat, energi menjadi lebih terjangkau, pertumbuhan ekonomi dapat dipercepat, lapangan kerja tercipta, kemiskinan dapat ditekan, dan kesejahteraan masyarakat meningkat," kata Darmawan.

Melalui sinergi lintas sektor ini, pemerintah berharap target besar swasembada pangan dan energi dapat tercapai tepat waktu, sekaligus membawa dampak langsung bagi peningkatan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.***