POJOKSATU.id - Tekanan besar kembali menghantam saham perusahaan pemegang Bitcoin terbesar di dunia, Strategy (MSTR).

Saham perusahaan yang dikenal agresif mengoleksi aset kripto itu merosot tajam setelah mengumumkan penjualan sebagian kecil cadangan Bitcoin miliknya.

Pada perdagangan Selasa, saham Strategy ditutup melemah lebih dari 9 persen ke level US$136,08.

Penurunan tersebut memperpanjang tren negatif yang telah berlangsung dalam beberapa hari terakhir.

Baca Juga: Kabar Baik untuk Orang Tua, 103 Sekolah Swasta Gratis Siap Tampung Siswa yang Tak Lolos Negeri

Dalam lima hari perdagangan terakhir, saham MSTR tercatat telah kehilangan hampir 15 persen nilainya.

Jika dihitung sepanjang bulan berjalan, koreksinya bahkan sudah melampaui 23 persen.

Tekanan terhadap saham Strategy terjadi bersamaan dengan anjloknya harga Bitcoin di pasar global.

Mata uang kripto terbesar di dunia itu turun sekitar 5,8 persen dalam 24 jam terakhir dan diperdagangkan di kisaran US$67.288.

Baca Juga: 4 Laptop Pertama dengan Nvidia RTX Spark, Superchip AI yang Diklaim Mampu Jalankan 1.000 Triliun Operasi per Detik

Kondisi tersebut membuat Bitcoin kini telah terkoreksi lebih dari 46 persen dari rekor tertingginya yang sempat mencapai US$126.080.

Penjualan Bitcoin Picu Kekhawatiran Investor
Sentimen negatif semakin menguat setelah Strategy mengumumkan pelepasan sebagian kecil kepemilikan Bitcoin mereka.

Perusahaan menjual sebanyak 32 Bitcoin dengan nilai sekitar US$2,5 juta.

Secara nominal, angka tersebut sebenarnya sangat kecil dibandingkan total kepemilikan Bitcoin Strategy yang diperkirakan bernilai lebih dari US$56 miliar.

Baca Juga: Beasiswa Pemda Morowali 2026 Dibuka untuk Mahasiswa Baru dan Aktif, Cek Jadwal serta Syarat Lengkapnya

Meski demikian, pasar tetap memberikan respons negatif.

Padahal, pendiri Strategy Michael Saylor sebelumnya telah memberikan sinyal terkait kemungkinan penjualan aset tersebut.

Namun investor tampaknya tetap mencermati langkah itu sebagai sinyal kehati-hatian di tengah kondisi pasar kripto yang sedang tertekan.

Analis Tetap Optimistis
Di tengah tekanan yang terjadi, sejumlah analis masih mempertahankan pandangan positif terhadap prospek jangka panjang Strategy.

Baca Juga: Beasiswa Bojonegoro 2026 Tahap 2 Dibuka Agustus, Mahasiswa S1 dan D4 Bisa Ajukan Bantuan Pendidikan

TD Cowen misalnya, tetap mempertahankan target harga saham MSTR di level US$400 per saham.

Target tersebut hampir tiga kali lebih tinggi dibandingkan posisi saham saat ini.

Meski begitu, fakta di lapangan menunjukkan bahwa saham Strategy masih berada lebih dari 70 persen di bawah puncak harga 52 minggunya yang pernah mencapai US$457,22 per saham.

Kondisi itu menggambarkan betapa besar tekanan yang saat ini dihadapi perusahaan-perusahaan yang memiliki eksposur tinggi terhadap aset kripto.

Baca Juga: Buruan Daftar! Beasiswa Jateng 2026 untuk Santri dan Pengasuh Pesantren Segera Ditutup

Saham Kripto Lain Ikut Berguguran
Bukan hanya Strategy yang mengalami tekanan.

Saham bursa kripto Coinbase (COIN) juga ikut terseret arus pelemahan pasar.

Pada perdagangan yang sama, saham Coinbase turun lebih dari 4,5 persen dan ditutup di level US$173,99.

Sepanjang tahun ini, saham Coinbase telah terkoreksi lebih dari 23 persen.

Posisi saat ini juga masih sekitar 61 persen di bawah level tertinggi dalam 52 minggu terakhir.

Baca Juga: PLN Bekasi Luncurkan Program PELITA, Perkuat Budaya Literasi Anak dan Generasi Muda

Bahkan analis Compass Point tetap mempertahankan target harga Coinbase di level US$140, yang berarti masih membuka peluang penurunan sekitar 19 persen dari harga saat ini.

Tekanan serupa juga melanda sejumlah emiten yang memiliki keterkaitan erat dengan industri aset digital.

BitMine Immersion Technologies (BMNR), yang dikenal sebagai perusahaan treasury Ethereum, turun 4,62 persen dan ditutup pada harga US$17,98.

Sementara SharpLink Gaming (SBET) melemah 6,14 persen ke level US$5,81.

Di sektor penambangan kripto, saham CleanSpark (CLSK) ikut terkoreksi 6,5 persen hingga berakhir di level US$17,58.

Baca Juga: PP TUNAS Dinilai Berpotensi Salah Sasaran, Judi Online Justru Jadi Ancaman Terbesar Anak

Adapun Fold (FLD), perusahaan penyedia layanan berbasis Bitcoin, mengalami penurunan lebih dalam sebesar 8,4 persen dan ditutup pada harga US$0,87.

Pasar Kripto Masih Dibayangi Ketidakpastian
Koreksi yang terjadi pada saham-saham kripto menunjukkan bahwa sentimen investor terhadap aset digital masih sangat sensitif terhadap pergerakan harga Bitcoin.

Ketika harga Bitcoin mengalami penurunan tajam, tekanan biasanya langsung menjalar ke perusahaan-perusahaan yang menjadikan aset kripto sebagai bagian utama model bisnis maupun cadangan keuangan mereka.

Investor kini terus mencermati arah pergerakan Bitcoin dalam beberapa pekan ke depan untuk melihat apakah pasar mampu kembali bangkit atau justru melanjutkan tren koreksi yang lebih dalam.

Baca Juga: Jangan Lewatkan! Beasiswa Pro-Jambi Cerdas 2026 Dibuka, Mahasiswa S1 hingga S3 Bisa Daftar

Dunia kripto selalu menawarkan peluang besar sekaligus risiko yang tak kalah besar. Ketika harga melonjak, optimisme begitu mudah menyebar.

Namun saat pasar berbalik arah, kesabaran dan kedisiplinan menjadi ujian utama bagi para investor.

Di tengah gejolak yang terjadi, memahami risiko dan menjaga perspektif jangka panjang tetap menjadi bekal penting agar tidak hanyut dalam kepanikan sesaat.***