POJOKSATU.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang jadi solusi pemenuhan gizi nasional kini mulai menuai sorotan.
Bukan tanpa alasan, potensi sisa makanan dalam skala besar justru memicu kekhawatiran baru.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengungkapkan bahwa jumlah sisa makanan dari program ini tidak kecil.
“Itu khusus untuk dampak MBG, jadi sesuai hasil kajian Bappenas 2024, potensi food waste atau sisa makanan, sisa pangan di sekolah diestimasi, diperkirakan mencapai 1,1 juta sampai 1,4 juta ton per tahun,”
Ujar Plt. Sekretaris Utama Bapanas Sarwo Edhy dikutip Pojoksatu.id dari Kompas 27/5/2025.
Tak hanya itu, sebagian besar makanan tersebut sebenarnya masih layak konsumsi.
Baca Juga: Terungkap! Oknum Jaksa di Banten Diduga Peras WN Korsel, Dari Rp50 Juta hingga Tembus Rp1 Miliar
“Dari jumlah tersebut, 451.000 sampai 603.000 ton merupakan edible food waste dan berpotensi untuk bisa diselamatkan sebagai pangan dan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan,” paparnya.
Namun di lapangan, kekhawatiran lain muncul. Peneliti Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Isnawati Hidayah, menyebut fenomena makanan terbuang sudah mulai terlihat.
“Kalau kita membicarakan MBG memang tidak ada habisnya. Banyak sekali keresahan terutama dari para orang tua. Makanannya itu banyak yang dibuang,” ujarnya, dikutip Pojoksatu.id dari Katadata.co.id 23/2/2026.
Baca Juga: KPK Mulai Soroti Pembelian Motor Listrik Emmo untuk Program MBG
Bahkan, jika diasumsikan penolakan maksimal, potensi kerugian tidak main-main.
“Kalau kita menggunakan asumsi penolakan maksimal, itu bisa mencapai Rp 1,27 triliun setiap minggunya,” kata Isnawati.
Jika dihitung angka itu setara sekitar Rp5,08 triliun per bulan dan bisa menembus Rp66,04 triliun per tahun.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar apakah program ini benar-benar efektif, atau justru berisiko menjadi sumber pemborosan baru***




