POJOKSATU.id — Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berencana memperluas kegiatan penangkapan ikan sapu-sapu ke seluruh wilayah.

Kebijakan ini diambil setelah terjadi lonjakan populasi ikan tersebut yang dinilai telah merusak ekosistem sungai sekaligus mengancam keberlangsungan ikan lokal.

Ikan sapu-sapu, yang dikenal sebagai ikan sapu-sapu, selama ini sering dianggap sebagai “pembersih akuarium”.

Baca Juga: Tak Mau Nunggu Puluhan Tahun? Skema War Tiket Haji Siap Jadi Jalan Pintas

Namun, ketika hidup di alam liar seperti sungai-sungai di Indonesia, keberadaannya justru menimbulkan dampak serius terhadap keseimbangan lingkungan.

Salah satu persoalan utama terletak pada statusnya sebagai spesies invasif.

Ikan ini bukan berasal dari perairan Indonesia sehingga saat dilepas ke sungai, populasinya berkembang tanpa kontrol karena hampir tidak memiliki predator alami. Hal ini menyebabkan jumlahnya meningkat pesat dan menguasai habitat.

Baca Juga: Pangkas 10 Dinas Demi Rakyat, Bupati Karawang: Anggaran Dialihkan untuk Kesehatan

Selain itu, ikan sapu-sapu juga berdampak pada kerusakan fisik sungai.

Kebiasaannya membuat lubang di dasar maupun tepi sungai untuk bertelur menjadikan struktur tanah melemah, meningkatkan risiko longsor di bantaran, serta membuat air menjadi lebih keruh.

Kondisi ini secara langsung merusak habitat ikan lain yang membutuhkan lingkungan stabil.

Baca Juga: Mulai 2026 Urus Sertifikat Tanah Makin Ketat, Ini Dokumen yang Wajib Kamu Siapkan!

Dalam hal persaingan, ikan sapu-sapu menjadi lawan yang tangguh bagi ikan lokal.

Mereka bersaing memperebutkan sumber makanan seperti alga, mikroorganisme, dan detritus, serta ruang hidup.

Dengan kemampuan adaptasi yang tinggi dan ketahanan terhadap kondisi ekstrem, ikan lokal sering kali kalah bersaing sehingga populasinya terus berkurang.

Ancaman lainnya berasal dari perilaku ikan ini yang juga dapat memakan telur ikan lain.

Baca Juga: Kabar Baik! Anak Betawi Dapat Kuota Khusus Beasiswa Luar Negeri LPDP Jakarta

Hal ini mengganggu proses perkembangbiakan spesies lokal dan mempercepat penurunan jumlah ikan asli di perairan.

Keunggulan ikan sapu-sapu dalam bertahan hidup di lingkungan buruk justru menjadi masalah.

Mereka mampu hidup di air kotor, kadar oksigen rendah, hingga perairan tercemar.

Saat kondisi sungai memburuk, ikan ini justru semakin mendominasi, sementara ikan lokal semakin tersingkir.

Baca Juga: Beasiswa LPDP–UCD 2026 Dibuka! Kuliah S2 di Irlandia Cuma 1 Tahun, Ini Syarat dan Jadwalnya

Di sisi lain, meskipun jumlahnya melimpah, ikan sapu-sapu memiliki nilai ekonomi yang rendah.

Berbeda dengan ikan konsumsi seperti lele atau nila, ikan ini jarang dimanfaatkan dan tidak memiliki nilai jual yang tinggi sehingga tidak memberikan kontribusi ekonomi bagi masyarakat.

Lonjakan populasi ikan sapu-sapu juga berdampak pada terganggunya rantai makanan di sungai.

Ketidakseimbangan ini dapat mengurangi ketersediaan pakan bagi spesies lain serta mengubah komposisi organisme dalam ekosistem.

Baca Juga: Pramono Anung Instruksikan Pembasmian Ikan Sapu-sapu di Semua Wilayah Jakarta, Dinilai Ancam Ekosistem Sungai

Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menurunkan keanekaragaman hayati.

Secara umum, ancaman yang ditimbulkan ikan sapu-sapu bukan karena sifatnya yang agresif, melainkan karena kemampuannya beradaptasi dengan cepat, berkembang biak secara masif, merusak habitat, serta mengungguli ikan lokal dalam persaingan.

Oleh karena itu, langkah Pemprov DKI Jakarta untuk mengendalikan populasinya dinilai penting guna menjaga keseimbangan ekosistem sungai.***