POJOKSATU.ID - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas.
Presiden AS Donald Trump melontarkan pernyataan kontroversial dengan mengklaim bahwa negaranya mampu menguasai Iran hanya dalam waktu semalam.
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal resmi Gedung Putih, Senin (6/4/2026).
Baca Juga: Sekretariat DPRD Jabar Gelar Operasi Semut Dukung Gerakan Indonesia ASRI
Ia dengan nada penuh percaya diri menyebut kekuatan militer Amerika Serikat tidak perlu waktu lama untuk mengendalikan situasi di Iran.
“Semua negara itu bisa kita rebut dalam waktu semalam. Bisa saja itu terjadi besok malam,” ujarnya.
Ucapan tersebut langsung menyita perhatian publik internasional, mengingat konflik antara kedua negara sudah berlangsung lebih dari satu bulan dan belum menunjukkan tanda mereda.
Baca Juga: Trump Ngamuk! Klaim Bisa Hancurkan Iran dalam 4 Jam, Dunia Langsung Ketar-Ketir!
Tak hanya itu, Trump juga memberikan ultimatum kepada Iran terkait pembukaan Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan minyak dunia.
Ia menegaskan bahwa Iran harus membuka kembali jalur tersebut paling lambat Selasa malam (7/4/2026).
Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, Trump mengisyaratkan akan ada konsekuensi besar yang harus ditanggung Iran.
“Jika tidak, tidak akan ada lagi jembatan, pembangkit energi, atau fasilitas lainnya,” ucapnya.
Meski tidak merinci lebih jauh, pernyataan tersebut dianggap sebagai ancaman serius terhadap infrastruktur vital Iran.
Di tengah situasi yang semakin tegang, Trump juga mengungkapkan bahwa Amerika Serikat berhasil mengevakuasi dua awak jet tempur F-15E yang sebelumnya ditembak jatuh di wilayah Iran. Proses evakuasi disebut berlangsung pada akhir pekan lalu.
Perkembangan ini semakin memperlihatkan eskalasi konflik yang tidak hanya bersifat retorika, tetapi juga melibatkan operasi militer di lapangan.
Baca Juga: Pemkot Bandung Pastikan Dugaan Kebocoran Data Kependudukan Bukan dari Server Disdukcapil
Situasi ini pun menjadi perhatian dunia karena berpotensi memicu dampak yang lebih luas, termasuk gangguan pada pasokan energi global dan stabilitas kawasan Timur Tengah.***

