POJOKSATU.ID - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap kondisi terbaru kas pemerintah yang tersimpan di Bank Indonesia.

Ia menyebut saldo yang berada di BI saat ini tersisa sekitar Rp120 triliun.

Meski demikian, Purbaya menegaskan total kas pemerintah secara keseluruhan masih mencapai Rp420 triliun.

Baca Juga: Komisi V DPRD Jabar Soroti Program OPD yang Lampaui Target, Encep Sugiana Minta Evaluasi Menyeluruh

Angka tersebut termasuk dana yang telah dialokasikan untuk mendorong aktivitas ekonomi nasional.

“Yang di BI memang sekitar Rp120 triliun, tapi totalnya masih Rp420 triliun. Sebagian sudah ditempatkan di perbankan untuk mendukung ekonomi,” ujarnya usai rapat dengan Komisi XI DPR, Senin (6/4/2026).

Ia menjelaskan, dari total dana tersebut, sekitar Rp300 triliun telah disalurkan ke bank Himbara dan pemerintah daerah.

Baca Juga: Pemkot Bandung Pastikan Dugaan Kebocoran Data Kependudukan Bukan dari Server Disdukcapil

Langkah ini dilakukan untuk menjaga likuiditas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika global.

Di sisi lain, Purbaya memastikan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terkendali. Ia menyebut defisit anggaran masih berada di bawah batas aman 3 persen.

“Saat ini outlook defisit sekitar 2,9 persen. Jadi masih aman meski ada tekanan dari harga minyak dunia,” jelasnya.

Baca Juga: UU ASN 2023 Disorot, Forum PPPK Se-Indonesia Kompak Dukung Gugatan ke MK Dinilai Merugikan

Pemerintah, lanjut dia, terus melakukan simulasi dengan berbagai skenario, termasuk jika harga minyak global mencapai 100 dolar AS per barel hingga akhir tahun.

Bahkan, jika harga melonjak ekstrem, pemerintah masih memiliki cadangan melalui Saldo Anggaran Lebih.

Selain efisiensi belanja, pemerintah juga menyiapkan strategi untuk meningkatkan pendapatan negara.

Salah satunya melalui optimalisasi sektor komoditas yang saat ini tengah mengalami tren kenaikan harga global.

Baca Juga: Iran Relis Video Terbaru, Pilot Pesawat C-130 Ditembak Jatuh Iran Disebut Wanita

Kementerian Keuangan bersama Kementerian ESDM sedang menyusun skema baru terkait royalti dan bea keluar guna menangkap potensi tambahan pendapatan dari lonjakan harga komoditas.

Dengan kombinasi strategi tersebut, pemerintah optimistis mampu menjaga stabilitas fiskal sekaligus memastikan ekonomi nasional tetap bergerak positif.***