POJOKSATU.ID - Konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang terus memanas membuat pemerintah Indonesia menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN), Bahlil Lahadalia, menegaskan Indonesia akan mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat.
Bahlil menyampaikan pemerintah tidak ingin berspekulasi mengenai kapan konflik di Timur Tengah akan berakhir.
Karena itu, skenario terburuk sudah disiapkan, terutama terkait potensi gangguan distribusi minyak yang melewati Selat Hormuz.
“Skenarionya adalah crude yang biasa kita ambil dari Timur Tengah, sebagian akan kita alihkan ke Amerika Serikat,” ujar Bahlil, dikutip dari Youtube kementerian ESDM Selasa (3/3/2026).
Ia menjelaskan, sekitar 20–25 persen impor minyak mentah Indonesia selama ini melewati jalur Selat Hormuz.
Baca Juga: Bupati Karawang Minta BKPSDM Data Kehadiran Kabid-Sekdis Saat Tarling
Jalur tersebut menjadi perhatian serius setelah muncul laporan bahwa kawasan itu secara efektif ditutup menyusul serangan gabungan AS-Israel ke Iran.
Menurut Bahlil, selain Amerika Serikat, Indonesia juga memiliki alternatif pasokan dari Brasil dan sejumlah negara di Afrika seperti Angola.
Dengan demikian, ketergantungan terhadap jalur distribusi di Timur Tengah dapat ditekan.
“Secara keseluruhan, impor crude kita sekitar 20–25 persen lewat Selat Hormuz. Selebihnya dari negara lain,” jelasnya.
Langkah pengalihan ini dilakukan demi menjamin kepastian pasokan minyak mentah di dalam negeri, terutama jika eskalasi konflik berdampak langsung pada distribusi global.
Pemerintah pun mengklaim telah berkomunikasi dengan berbagai pihak terkait rencana pengalihan tersebut.
Sementara itu, untuk bahan bakar minyak (BBM), Bahlil memastikan Indonesia tidak mengimpor dari kawasan Timur Tengah.
Pasokan BBM diperoleh dari negara-negara Asia Tenggara seperti Singapura dan Malaysia melalui kontrak jangka panjang.
Baca Juga: Masjid Agung Manonjaya: Jejak Sejarah Tasikmalaya, Arsitektur Unik, dan Luka Gempa 2009
“Untuk BBM relatif aman karena kontraknya jangka panjang dan tidak dari Timur Tengah,” ujarnya.
Tak hanya crude oil, pemerintah juga melakukan langkah switching untuk pasokan LPG nasional.
Saat ini, sekitar 70 persen kebutuhan LPG disebut telah diamankan dari Amerika Serikat guna menghindari potensi gangguan distribusi dari pemasok utama di kawasan Timur Tengah.
Sebagaimana diketahui, konflik memanas setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah target di Iran, termasuk Teheran.
Iran kemudian membalas dengan serangan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Situasi geopolitik yang kian tidak menentu ini membuat pemerintah Indonesia memilih langkah mitigasi risiko lebih awal.
Fokus utama adalah menjaga stabilitas energi nasional agar tidak terdampak gejolak global yang semakin sulit diprediksi.***




