POJOKSATU.id - Masjid Agung Manonjaya berdiri megah di Desa Manonjaya, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.
Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi saksi sejarah panjang perjalanan Tasikmalaya sejak masih bernama Kabupaten Sukapura.
Letaknya strategis. Bagian utara dan selatan berbatasan langsung dengan jalan raya, sementara sisi timur berhadapan dengan sekolah dasar dan alun-alun.
Luas lahannya mencapai 6.159 meter persegi dengan kontur tanah berpasir dan sedikit lebih tinggi sekitar satu meter dari permukaan tanah sekitar.
Baca Juga: Beasiswa ADik 2026 Resmi Dibuka, Ini Syarat, Komponen, Timeline, dan Cara Daftarnya Lengkap
Secara fisik, bangunannya berbentuk persegi dan dikelilingi pagar tembok.
Arah masjid menghadap ke timur, dengan pintu masuk halaman dari sisi timur, utara, dan selatan.
Lantainya menggunakan tegel merah, sementara bagian depan mihrab dilapisi karpet hijau.
Di sisi timur terdapat serambi yang menghubungkan ruang Salat dengan koridor.
Masjid ini juga dilengkapi pawestren, gudang, dan perpustakaan.
Pemerintah menetapkan Masjid Manonjaya sebagai kawasan cagar budaya pada 1 September 1975 melalui Badan Arkeologi RI yang merujuk Undang-Undang Kepurbakalaan.
Baca Juga: Portofolio UTBK SNBT dan SNBP 2026, SImak Pengertian, Jenis, dan Cara Membuatnya Agar Lolos Seleksi
Status ini menegaskan bahwa masjid seluas sekitar 1.250 meter persegi tersebut memiliki nilai historis dan arsitektural yang sangat penting.
Jejak Sejarah Ibu Kota Sukapura
Keberadaan masjid ini tak bisa dipisahkan dari sejarah Tasikmalaya.
Lebih dari satu abad silam, Manonjaya pernah menjadi ibu kota Kabupaten Sukapura.
Masjid Agung Manonjaya dibangun sekitar tahun 1834 saat Bupati Sukapura dijabat Wiradadaha VIII.
Pembangunannya dilakukan bersamaan dengan pemindahan ibu kota dari Pasirpanjang, yang kini dikenal sebagai Sukaraja, ke Manonjaya yang saat itu bernama Harjawinangun.
Nah, dari sinilah masjid ini menjadi simbol pusat pemerintahan sekaligus pusat spiritual masyarakat setempat.
Baca Juga: Revitalisasi Sekolah Pascabencana di Sumatra Tembus Rp1,254 Triliun, Sudah 1.741 Sekolah Teken PKS
Perpaduan Sunda dan Eropa Klasik
Dari sisi arsitektur, Masjid Agung Manonjaya tampil unik. Nuansa Neoklasik khas Eropa berpadu dengan arsitektur tradisional Sunda.
Perpaduan ini terlihat pada atap tumpang tiga, serambi atau pendopo di sisi timur, serta struktur saka guru di tengah ruang Salat.
Salah satu ciri paling menonjol adalah keberadaan 10 tiang saka guru.
Berbeda dengan Masjid Agung Demak yang menggunakan kayu, tiang saka guru di Manonjaya justru terbuat dari pasangan batu bata.
Bentuknya persegi delapan dengan diameter sekitar 80 cm.
Total terdapat sekitar 61 tiang di kompleks masjid, dengan 51 tiang berada di beranda. Diameter tiang bervariasi antara 50 hingga 80 cm.
Bangunan utama seluas kurang lebih 637,5 meter persegi disangga sekitar 30 tiang, sementara bangunan tambahan seluas 289,5 meter persegi ditopang sekitar 32 tiang.
Di bagian depan berdiri dua menara kokoh yang dahulu digunakan muazin untuk mengumandangkan azan.
Kedua menara itu mengapit gerbang utama yang menghadap langsung ke alun-alun Manonjaya.
Di puncak atap tertinggi terdapat mustaka atau memolo yang sarat makna, mengusung konsep Tri Tangtu dalam budaya Sunda.
Baca Juga: Jokowi dan SBY Penuhi Undangan Prabowo ke Istana, Bahas Geopolitik Terkini, Termasuk Perang Iran
Material bangunannya pun khas masa lampau, menggunakan kayu jati, kapur, dan tanah liat sebagai struktur rangka dan campuran tembok.
Dominasi warna putih dengan atap hijau membuat masjid ini tampak anggun sekaligus berwibawa.
Roboh Diterjang Gempa 2009
Namun sejarah panjang itu sempat terhenti ketika gempa besar mengguncang Tasikmalaya pada Rabu, 2 September 2009.
Masjid yang berdiri sejak 1830-an itu tak mampu menahan kuatnya guncangan.
Baca Juga: Korban Sementara Perang Iran vs AS dan Israel, 780 Sipil Banding 6 Tentara Amerika, Mungkinkah
Sekitar 60 tiang penyangga yang dikenal sebagai Dalem Sewidak runtuh. Bagian depan masjid roboh seketika.
Kayu-kayu penyangga atap berserakan. Beruntung, saat kejadian tidak ada jamaah di dalam masjid.
Meski begitu, kerusakan tersebut menjadi pukulan berat bagi warga Manonjaya dan pecinta sejarah.
Hingga kini, proses rehabilitasi belum sepenuhnya rampung. Statusnya sebagai situs purbakala membuat perawatan dan pemeliharaan menjadi tanggung jawab pemerintah pusat.
Warga yang ingin turut membantu sering terkendala aturan kepurbakalaan. Duh, niat baik pun kadang harus berhadapan dengan regulasi yang tak sederhana.
Baca Juga: Kontroversi Jelang Kick-Off! Trump Batasi Visa Negara Peserta Piala Dunia 2026
Masjid Agung Manonjaya bukan hanya bangunan tua, melainkan penanda identitas dan kebanggaan sejarah Tasikmalaya.
Di balik tiang-tiang kokohnya, tersimpan kisah tentang perpindahan ibu kota, akulturasi budaya, hingga ujian gempa yang meluluhlantakkan.
Kini, harapan tetap menyala agar warisan berharga ini bisa kembali berdiri utuh, menjadi pengingat bahwa sejarah, seperti iman, selalu menemukan cara untuk bangkit kembali. ***

