POJOKSATU.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan. Kali ini, dugaan pengurangan porsi nasi hingga lauk bersantan yang disebut basi mencuat dari Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Informasi tersebut berawal dari video yang dikirimkan orang tua siswa kepada media lokal Info Lombok.
Dalam rekaman tersebut, terlihat nasi dalam kotak makan tampak penuh dari bagian atas. Namun saat dibuka lebih lanjut, bagian tengah nasi terlihat kosong atau bolong.
Peristiwa itu disebut terjadi di Pondok Pesantren Sa’adatul Islamiah NWDI Tembeng Putik, Kecamatan Wanasaba, Lombok Timur, kamis (12/2/2026).
Video tersebut langsung menyebar dan memicu reaksi warganet.
Dalam keterangan yang menyertai video, disebutkan bahwa tidak semua nasi dalam paket MBG mengalami kondisi serupa.
Baca Juga: Masjid Tuo Kayu Jao, Warisan Bersejarah di Kabupaten Solok
Namun, sebagian siswa disebut menerima nasi dengan bagian tengah yang kosong.
Selain persoalan porsi nasi, video tersebut juga menyinggung kondisi lauk bersantan yang diduga sudah basi.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran orang tua terkait kualitas dan keamanan makanan yang dikonsumsi para siswa.
Pihak sekolah dikabarkan telah menyampaikan protes atas temuan tersebut.
Mereka berharap dapur atau penyedia layanan MBG dapat segera melakukan evaluasi dan pembenahan agar kejadian serupa tidak terulang.
Program MBG sendiri bertujuan untuk meningkatkan asupan gizi siswa sekaligus mendukung kesehatan dan konsentrasi belajar.
Karena itu, kualitas makanan, kebersihan, serta porsi yang sesuai standar menjadi perhatian utama dalam pelaksanaannya.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak penyedia maupun instansi terkait mengenai dugaan nasi bolong dan lauk basi tersebut.
Namun kasus ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat dalam distribusi makanan untuk peserta didik.
Baca Juga: Dicoret dari PBI Meski Cuma Dapat Rp30 Ribu Sehari, Tukang Es Ini Dipaksa Bayar BPJS Mandiri
Orang tua siswa berharap program yang seharusnya membantu pemenuhan gizi anak-anak tidak justru menimbulkan kekecewaan.
Evaluasi menyeluruh dinilai perlu dilakukan agar kepercayaan masyarakat terhadap program MBG tetap terjaga.***




